Film ini saat ini sedang tayang di bioskop-bioskop di seluruh negeri.
Film ini berkisah tentang tiga karakter: Hoang (Avin Lu), Long (Ly Hao Manh Quynh), dan Thy (Hoang Ha) – sekelompok sahabat karib sejak kecil. Tanpa diduga, Hoang terbaring sakit karena amyotrophic lateral sclerosis (ALS) dan hanya memiliki beberapa bulan untuk hidup. Pada ulang tahunnya yang ke-18, Hoang menceritakan kepada kedua sahabatnya tentang keinginan terakhirnya: menjadi seorang pria dan mengalami "buah terlarang" sebelum meninggal. Ingin membantu Hoang agar tidak menyesal, Thy dan Long melakukan segala yang mereka bisa untuk memenuhi keinginannya. Namun, mereka menghadapi serangkaian situasi yang ironis, merepotkan, dan lucu…
Sebagai remake dari film Korea Selatan "The Last Ride" (2016), film ini memiliki naskah yang solid dan menarik. Namun, mengadaptasi film asing populer ke dalam bahasa Vietnam bukanlah tugas yang mudah. Untungnya, "The Last Wish" berhasil dalam hal ini, menghadirkan komedi yang mengharukan dan bermakna.
Dibandingkan dengan versi aslinya, film ini mengubah kelompok pertemanan dari tiga pria menjadi dua pria dan satu wanita untuk mengeksplorasi lebih banyak sisi dan meningkatkan kedalaman psikologis. Situasi komedi juga diadaptasi agar sesuai dengan konteks dan budaya Vietnam. Yang terpenting, film ini mempertahankan semangat karya aslinya mengenai persahabatan dan ikatan keluarga dengan cara yang tulus dan menyentuh.
Para penonton tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku dan rencana Long dan Thy saat mereka mencoba menemukan seseorang untuk membantu Hoang memenuhi keinginan terakhirnya, tetapi semua upaya mereka gagal. Mereka gagal karena terlalu naif; pendekatan sederhana dan langsung mereka dalam membujuk orang lain menyebabkan konsekuensi yang mengerikan. Belum lagi, mereka juga harus berurusan dan menyembunyikan kebenaran dari orang tua Hoang dan orang tua mereka sendiri, membuat situasi semakin canggung dan rumit…
Kesenjangan generasi dalam keluarga Vietnam juga merupakan isu yang terintegrasi dan ditangani dengan cerdas dalam film ini. Selain menyembunyikan keinginannya dari orang tuanya dan diam-diam mewujudkannya, film ini juga menggambarkan perbedaan cara berpikir antara orang tua dan anak, serta gaya pengasuhan dan kasih sayang dari setiap keluarga. Keluarga Thy tidak memiliki ayah, keluarga Long tidak memiliki ibu, dan Hoang memiliki kedua orang tua, tetapi ketiga keluarga tersebut tidak memiliki kesamaan, pemahaman, dan empati antara dua generasi.
Keadaan membentuk kepribadian dan keinginan anak-anak. Thy adalah gadis yang berkemauan keras, tampak tangguh dan tabah di luar untuk meyakinkan ibunya, tetapi jauh di lubuk hatinya ia menyimpan rasa tidak aman dan perasaan yang tak terucapkan. Long antusias dan ceria, tetapi selalu merindukan kedekatan dan pengakuan ayahnya. Hoang dicintai dan diperhatikan oleh orang tuanya, tetapi ia tidak berani curhat kepada mereka secara terbuka, hanya berusaha menyenangkan mereka…
Film ini menempatkan tiga anak muda di ambang kehilangan dan perjuangan sehari-hari saat mereka mencari jawaban: apa artinya menjalani hidup yang bermakna? Apa itu cinta keluarga sejati? Isu-isu lain seperti perundungan di sekolah, percintaan remaja, dan homoseksualitas juga dibahas secara ringan dan diubah menjadi situasi yang lucu dan ringan. Isu-isu tersebut terhubung dan diceritakan dengan mulus, memberikan pengalaman emosional yang beragam kepada penonton: momen-momen tawa yang lepas, momen-momen yang menyentuh, dan empati yang mendalam…
Film ini memiliki akhir yang lembut dan bermakna, meninggalkan kedamaian dan tanpa penyesalan bagi mereka yang tetap tinggal dan mereka yang pergi. Semua karakter, baik utama maupun pendukung, menyadari apa yang perlu mereka perjuangkan dan apa yang perlu mereka lepaskan agar dapat hidup lebih baik atau pergi tanpa beban. Akting ketiga aktor utama sangat lengkap, menghadirkan momen-momen yang hidup dan tak terlupakan bagi para penonton.
MALAIKAT KUCING
Sumber: https://baocantho.com.vn/-dieu-uoc-cuoi-cung-cuoi-de-nho--a188609.html






Komentar (0)