Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Identifikasi untuk melestarikan budaya digital

VHO - Direktif No. 57-CT/TW dari Sekretariat Partai Pusat tentang penguatan keamanan siber, keamanan data, dan implementasi identifikasi dan otentikasi ruang siber nasional membuka pendekatan baru untuk tata kelola ruang digital.

Báo Văn HóaBáo Văn Hóa04/02/2026

Lebih dari sekadar solusi teknis, kebijakan ini memiliki makna budaya dan sosial yang mendalam, bertujuan untuk membangun lingkungan digital yang tertib dan manusiawi, sejalan dengan kebutuhan pembangunan negara di era baru setelah suksesnya penyelenggaraan Kongres Nasional Partai ke-14.

Saat ini, dunia maya telah menjadi bagian integral dari kehidupan budaya dan sosial. Jika sebelumnya kegiatan budaya terutama berlangsung di ruang fisik seperti rumah, sekolah, teater, museum, atau alun-alun publik, kini sebagian besar kehidupan spiritual manusia terungkap di layar telepon dan komputer. Di sana, orang-orang bercakap-cakap, mengekspresikan emosi, berbagi pendapat, menikmati seni, menerima informasi, dan berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi dan sosial. Dengan kata lain, dunia maya telah menjadi "ruang budaya baru".

Namun, seperti ruang budaya lainnya, lingkungan digital tidak hanya cerah tetapi juga memiliki area gelap. Dengan ledakan media sosial dan platform daring, perilaku menyimpang semakin marak: berita palsu menyebar dengan cepat, kekerasan verbal menjadi hal biasa, kehormatan dan martabat pribadi dilanggar secara terang-terangan, penipuan daring meningkat, dan anak-anak terpapar konten berbahaya. Benang merah yang menghubungkan banyak fenomena negatif ini adalah bahwa mereka bersembunyi di balik lapisan akun "palsu", kartu SIM "sekali pakai", dan identitas ambigu yang sulit dilacak.

Dalam konteks inilah Direktif No. 57-CT/TW menetapkan persyaratan untuk menerapkan sistem identifikasi dan otentikasi ruang siber nasional; menyatukan identifikasi warga negara dengan pengguna jejaring sosial, pelanggan telekomunikasi, dan sumber daya Internet seperti nama domain dan alamat IP.

Pada saat yang sama, arahan tersebut menekankan penanganan tegas terhadap kartu SIM "sampah", akun "palsu", anonimitas, dan penerapan verifikasi identitas wajib bagi pengguna media sosial, bersama dengan mekanisme kontrol usia untuk melindungi anak-anak. Secara sepintas, ini adalah kisah tentang teknologi dan manajemen data. Tetapi pada tingkat yang lebih dalam, ini adalah kisah tentang memulihkan dan memperkuat norma-norma budaya di lingkungan digital.

Pada akhirnya, budaya adalah sistem nilai, norma, dan perilaku yang diakui oleh suatu komunitas. Ketika orang memasuki ruang daring dengan pola pikir "anonim", mereka dengan mudah mengabaikan batasan etika yang melekat dalam kehidupan nyata. Anonimitas menciptakan rasa "pembebasan dari tanggung jawab," membuat ucapan lebih cenderung menjadi ekstrem, tidak terkendali, dan bahkan menyakiti orang lain.

Menghubungkan setiap akun media sosial dengan identitas terverifikasi bukanlah dimaksudkan untuk merampas kebebasan berekspresi warga negara, melainkan untuk menempatkan kebebasan tersebut dalam kerangka tanggung jawab. Kebebasan tidak pernah sama dengan kesewenang-wenangan. Dalam kehidupan nyata, setiap kata dan tindakan seseorang terkait dengan kehormatan, martabat, dan tanggung jawab hukum mereka.

Ruang siber, jika dianggap sebagai bagian dari kehidupan sosial, juga perlu beroperasi sesuai dengan prinsip tersebut. Ketika identitas diverifikasi, setiap orang akan berpikir lebih hati-hati sebelum berbicara, menunjukkan lebih banyak rasa hormat kepada orang lain, dan lebih menyadari konsekuensi dari tindakan mereka.

Dari perspektif tata kelola nasional, identitas dan otentikasi siber juga fundamental untuk membangun lingkungan digital yang aman dan andal, prasyarat untuk pengembangan ekonomi digital dan industri budaya digital. E-commerce, layanan daring, pembuatan konten digital, dan pembayaran tanpa uang tunai semuanya membutuhkan kepercayaan antar pemangku kepentingan. Ketika penipuan identitas, penipuan daring, dan pencurian harta benda menjadi meluas, kepercayaan sosial terkikis, yang menyebabkan keraguan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi digital.

Dari perspektif budaya, lingkungan daring yang tidak aman mendistorsi kehidupan spiritual. Ketika pengguna terus-menerus terpapar berita palsu dan informasi berbahaya, nilai-nilai positif mudah terkikis. Seniman dan kreator konten yang tulus dapat dirugikan oleh kampanye fitnah anonim. Dalam konteks ini, Direktif 57 dapat dilihat sebagai langkah menuju "pembersihan" ruang budaya digital, menciptakan kondisi agar nilai-nilai yang benar, baik, dan indah dapat menyebar lebih kuat.

Salah satu aspek yang sangat manusiawi dari Direktif 57 adalah persyaratan untuk menerapkan mekanisme kontrol usia untuk melindungi anak-anak di dunia maya. Anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan digital di mana internet telah menjadi alat yang familiar untuk belajar, hiburan, dan komunikasi.

Namun, anak-anak juga merupakan kelompok yang paling rentan terhadap konten berbahaya dan pelecehan daring. Ketika platform digital tidak memiliki mekanisme verifikasi usia, anak-anak mudah terpapar konten di luar pemahaman mereka atau menjadi sasaran manipulasi dan perundungan. Menggabungkan verifikasi identitas dengan kontrol usia menunjukkan tanggung jawab masyarakat terhadap generasi mendatang.

Ini bukan sekadar solusi teknis, tetapi juga pilihan budaya: memprioritaskan keselamatan dan perkembangan anak yang sehat. Pada saat yang sama, hal ini berkontribusi untuk menumbuhkan penggunaan internet yang bertanggung jawab sejak usia muda. Ketika anak-anak memahami bahwa setiap akun terhubung dengan orang nyata, dan bahwa setiap tindakan daring memiliki konsekuensi, mereka akan segera mengembangkan perilaku beradab di lingkungan digital.

Menyusul keberhasilan Kongres Nasional ke-14, negara memasuki tahap pembangunan baru yang membutuhkan integrasi erat antara pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan perkembangan budaya.

Transformasi digital diidentifikasi sebagai salah satu pendorong utama pembangunan, tetapi tidak dapat dipisahkan dari pembangunan pribadi digital dan budaya digital. Dalam konteks ini, Direktif 57 berperan sebagai "tonggak kelembagaan" yang bertujuan untuk membangun disiplin di dunia maya, yang semakin berpengaruh besar pada kehidupan spiritual masyarakat.

Dapat dikatakan bahwa mengidentifikasi dan memverifikasi ruang siber merupakan langkah penting untuk beralih dari pola pikir "manajemen pasif" ke pola pikir "tata kelola aktif" di lingkungan digital. Alih-alih menunggu konsekuensi sosial yang serius terjadi, kebijakan ini mencerminkan pendekatan preventif, yang berpusat pada manusia dan berdasarkan budaya.

Ketika dunia maya "diterangi" oleh identitas sejati dan tanggung jawab nyata, ia akan menjadi lingkungan yang kondusif untuk menyebarkan pengetahuan, kreativitas, dan nilai-nilai positif bangsa.

Sumber: https://baovanhoa.vn/van-hoa/dinh-danh-de-giu-gin-van-hoa-so-202625.html


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Saudara laki-laki

Saudara laki-laki

Benteng Kuno Vinh

Benteng Kuno Vinh

Keindahan alam yang luar biasa

Keindahan alam yang luar biasa