Dalam kehidupan masyarakat Vietnam, api selalu memiliki makna khusus. Api melambangkan kehangatan perapian dapur, cahaya pertemuan keluarga, dan sumber energi untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga menimbulkan potensi bahaya kebakaran, terutama di kota-kota yang ramai. Kota Thang Long (Hanoi) kuno memiliki tata letak dan ciri arsitektur berupa rumah-rumah yang berdekatan, terutama dibangun dari jerami, bambu, alang-alang, dan dedaunan, sehingga api mudah menyala dan menyebar dengan cepat.
![]() |
Kuil Dewa Api terletak di Jalan Hang Dieu Nomor 30, Kelurahan Hoan Kiem, Kota Hanoi . |
Catatan sejarah berulang kali mendokumentasikan kebakaran besar di ibu kota yang disebabkan oleh penjajah asing, iklim kering, dan kecerobohan masyarakat dalam menggunakan api dalam produksi dan kehidupan sehari-hari. Untuk mengatasi bahaya kebakaran, selain peraturan tentang penggunaan api yang hati-hati untuk mencegah kebakaran dan mewajibkan setiap rumah tangga untuk menyiapkan peralatan pemadam kebakaran, masyarakat juga beralih ke penyembahan Dewa Api sebagai penopang spiritual. Dari situlah, kebiasaan menyembah Dewa Api terbentuk dan terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Kuil Dewa Api, juga dikenal sebagai "Kuil Dewa Api," didedikasikan untuk Quang Hoa Ma Nguyen Su, dewa rakyat yang menguasai api. Menurut legenda, dewa tersebut awalnya adalah sebuah lampu di gerbang kuil, yang mencapai pencerahan melalui mendengarkan kitab suci Buddha. Karena sifatnya yang berapi-api, dewa tersebut tidak dapat sepenuhnya mematuhi ajaran dan bereinkarnasi ke dalam keluarga Phung. Setelah mencapai pencerahan melalui praktik pertapaan, dewa tersebut diizinkan untuk kembali ke alam surga dan ditugaskan oleh Kaisar Giok untuk menghilangkan bencana kebakaran di dunia manusia.
Kuil kuno ini, yang dulunya terletak di desa Yen Noi, distrik Tho Xuong, kota kekaisaran Thang Long, sekarang berada di Jalan Hang Dieu 30, kelurahan Hoan Kiem. Menurut "Prasasti Kuil Dewa Api" di kuil tersebut, kuil ini dibangun pada tahun ke-19 pemerintahan Minh Menh (1838). Sepanjang dinasti Nguyen, bangunan ini menerima dekrit kekaisaran dan mengalami renovasi. Pada tahun 1848, sebuah paviliun dan aula depan ditambahkan, secara bertahap melengkapi skala arsitektur kuil tersebut.
Arsitektur kuil saat ini adalah hasil renovasi tahun 2019. Kuil ini mempertahankan gaya artistik khas Dinasti Nguyen abad ke-19, menampilkan motif naga, awan berputar, dan makhluk mitologi yang distilisasi. Arsitektur kuil mengikuti karakter "cong" (工), terdiri dari aula depan, paviliun tengah, dan tempat suci. Di dalamnya juga terdapat lonceng perunggu besar yang terkait dengan kisah orang-orang yang membunyikannya saat terjadi kebakaran untuk berdoa kepada Dewa Api memohon pertolongan.
Patung Dewa Api ditempatkan secara mencolok di dalam kotak kaca berukir naga. Patung itu menggambarkan wajah yang agung, mengenakan jubah naga dan memegang benda berbentuk piramida yang diyakini melambangkan penciptaan api. Di kedua sisinya terdapat patung "Mata Seribu Mil" dan "Telinga Angin Murni," para pengiring yang mewakili kemampuan untuk melihat jauh dan mendengar jauh, membantu Dewa Api dalam melindungi rakyat.
Kuil Dewa Api saat ini merupakan satu-satunya monumen di Vietnam yang memuja Dewa Api dengan gaya "tiga agama dalam harmoni", menggabungkan pemujaan Dewa Api dengan pemujaan Buddha dan Tiga Ibu Suci. Kuil ini telah diakui sebagai Monumen Nasional sejak tahun 1996.
Hingga hari ini, pemujaan Dewa Api masih dipertahankan dalam kehidupan masyarakat Hanoi. Setiap tahun, festival kuil berlangsung pada tanggal 28 bulan ke-3 kalender lunar (hari ulang tahun Dewa Api) dan tanggal 28 bulan ke-9 kalender lunar (peringatan kematian Dewa Api). Penduduk setempat dan wisatawan datang ke kuil untuk berdoa memohon kedamaian, menghindari kemalangan, dan terhubung kembali dengan nilai-nilai tradisional. Di tengah kehidupan modern, asap dupa di Kuil Dewa Api masih membangkitkan kenangan akan Hanoi di masa lalu yang kaya akan kepercayaan komunitas, di mana api melambangkan keilahian, membawa kenangan budaya yang dilestarikan dari generasi ke generasi.
Sumber: https://www.qdnd.vn/van-hoa/doi-song/doc-dao-den-tho-ong-to-phong-chay-chua-chay-1042844










