Saat ini, sistem basis data tanah disimpan secara terpusat di Pusat Teknologi Informasi di bawah Departemen Pertanian dan Lingkungan Hidup; instansi khusus, Kantor Pendaftaran Tanah, dan Komite Rakyat di tingkat kecamatan berwenang untuk mengakses, memperbarui, dan merevisi data secara berkala.
Namun, karena data dihasilkan melalui beberapa tahapan, sesuai dengan peraturan yang berbeda dan dikonversi dari berbagai platform perangkat lunak, beberapa keterbatasan masih ada, seperti: informasi duplikat tentang pengguna lahan; kurangnya sinkronisasi antara data spasial dan atribut; catatan hasil pemindaian yang hilang; kesalahan dalam informasi pribadi, alamat, atau dokumen hukum.








Komentar (0)