Niatnya baik, tapi...
Lirik "tangkai padi yang matang berdiri tegak tetapi tidak pernah menundukkan kepala" dari lagu musisi Chau Dang Khoa, yang saat ini sedang menimbulkan kontroversi, dapat dilihat dari tiga perspektif: makna ilmiah , simbolisme budaya, dan kreativitas artistik.
Pertama-tama, dari perspektif ilmiah, pepatah "padi matang tumbuh tinggi tetapi tidak pernah menundukkan kepalanya" jelas akan memicu reaksi. Di alam, ketika padi matang, butir-butirnya menjadi lebih berat dan tangkai padi biasanya terkulai. Dari pengamatan inilah konsep "padi matang menundukkan kepalanya" terbentuk dalam budaya Vietnam, yang berarti bahwa semakin berbakat dan berbudi luhur seseorang, semakin rendah hati pula ia.
Oleh karena itu, jika liriknya dipertimbangkan secara terpisah, banyak penonton percaya bahwa hal itu bertentangan dengan pengetahuan umum dan mendistorsi simbolisme budaya. Namun, mengingat kebebasan kreatif dalam seni, saya tidak percaya bahwa sesuatu yang berbeda dari idiom langsung salah. Penyair, penulis, musisi, dan lain-lain, memiliki hak penuh untuk membalikkan makna, memecah makna, menciptakan paradoks, atau bahkan mengubah citra yang familiar untuk menciptakan pesan baru. Dalam hal ini, musisi Chau Dang Khoa menjelaskan bahwa ia ingin menggunakan citra "tidak tunduk" dalam konteks kebanggaan nasional; orang Vietnam mungkin rendah hati, tetapi mereka tidak akan menyerah.
Jika disandingkan dengan baris-baris berikut: "Jika ada kehidupan selanjutnya, aku masih ingin menjadi/Sekali lagi seorang anak Vietnam," maksud penulis adalah untuk berbicara tentang kebanggaan nasional dan sikap bangga serta bermartabat dari bangsa tersebut, bukan untuk mendorong kesombongan.


Namun masalahnya terletak pada kenyataan bahwa pendekatan kreatif ini tidak baik, bahkan cacat. Penulis lagu ingin menyampaikan gagasan "tidak menyerah," tetapi meminjam simbol yang sudah memiliki makna kuat dalam kesadaran masyarakat: "padi matang yang menundukkan kepala" sebagai tanda kerendahan hati. Oleh karena itu, lirik ini bertentangan dengan pengetahuan pertanian dan budaya rakyat. Kontradiksi inilah yang memicu reaksi dari para pendengar. Sebuah lagu patriotik seharusnya membangkitkan rasa kebersamaan, tetapi sebaliknya, malah memicu perdebatan.
Tidak pantas untuk menuduh lagu ini "mendistorsi pengetahuan biologi" secara berbahaya atau sengaja menyesatkan. Ini bukan buku teks biologi. Namun, reaksi penonton juga tidak boleh dianggap sebagai kritik yang berlebihan. Ketika sebuah lagu menggunakan citra yang berkaitan dengan pertanian dan budaya nasional, terutama dalam lagu tentang orang Vietnam, citra tersebut membutuhkan tingkat akurasi budaya tertentu. Seni memungkinkan kreativitas, tetapi kreativitas itu harus masuk akal dan meyakinkan.



Budaya Vietnam tidak kekurangan gambaran indah tentang ketahanan dalam menghadapi kesulitan, seperti bambu sebelum badai, ombak sebelum bebatuan, atau bahkan tanaman padi itu sendiri, tetapi dengan cara yang kreatif, seperti "membungkuk karena beratnya butir padi, lalu berdiri kembali setelah badai."
Singkatnya, lirik ini bukanlah kesalahan serius yang patut dikutuk, tetapi merupakan pilihan lirik yang kurang meyakinkan. Penulis lagu memiliki niat baik dan inspirasi patriotik yang jelas, tetapi eksekusi kreatifnya tidak sempurna. Oleh karena itu, perdebatan di kalangan pendengar sangat berharga, menunjukkan bahwa masyarakat saat ini mendengarkan musik tidak hanya secara emosional, tetapi juga dengan latar belakang budaya, kosakata, dan pengalaman hidup mereka.
Segarkan tradisi secara halus, jangan membalikkannya secara mengejutkan.
Ini adalah pengalaman yang sangat menggugah pikiran bagi para musisi yang ingin mengadaptasi dan memodifikasi lagu-lagu rakyat, peribahasa, idiom, atau budaya rakyat ke dalam musik mereka .
Pelajaran pertama adalah bahwa untuk mendobrak batasan, seseorang harus terlebih dahulu memahami semangat yang mendasarinya. Lagu-lagu rakyat dan peribahasa dapat ditafsirkan ulang, tetapi penciptanya perlu memahami dengan saksama makna literal dan kiasan, konteks penggunaannya, nuansa budaya, dan bahkan emosi serta pemikiran kolektif yang terkait dengan pepatah tersebut. Jika seseorang hanya meminjam beberapa kata yang familiar untuk menciptakan efek tertentu, karya tersebut dengan mudah jatuh ke dalam folklorisasi yang dangkal, terdengar seperti bahasa Vietnam dan tradisional, tetapi pada dasarnya salah maknanya.
Pelajaran kedua adalah kreativitas, tetapi bukan kesewenang-wenangan. Seni berhak untuk berasosiasi, membalikkan, dan berdialog dengan tradisi budaya. Tetapi pembalikan tersebut membutuhkan tujuan estetika yang jelas. Jika seseorang ingin membalikkan sebuah peribahasa, penulis harus menciptakan konteks yang cukup kuat agar pendengar memahami bahwa ini adalah argumen tandingan yang disadari, bukan salah tafsir pengetahuan atau penyalahgunaan simbolisme. Misalnya, jika seseorang ingin berbicara tentang semangat yang tak terkalahkan, ada banyak citra Vietnam lain yang lebih dekat maknanya, seperti bambu yang tidak patah diterpa badai, ombak yang tak pernah berhenti menerjang, batu yang berdiri tegak di langit, penanda perbatasan, sikap seorang prajurit pembebasan.
Gambar-gambar ini kaya akan konten budaya dan tidak bertentangan dengan kesadaran nasional. Kaum muda dapat berinovasi, me-remix, nge-rap, membuat lagu pop, membuat musik elektronik, menampilkan pertunjukan, atau bahkan menumbangkan konsep-konsep lama. Tetapi setiap kali mereka menyentuh budaya nasional, mereka juga menyentuh kesadaran bersama masyarakat. Jika dipahami dengan baik dan dikembangkan secara kreatif, lagu tersebut akan menjadi modern dan memiliki kedalaman budaya yang luar biasa.

Pelajaran ketiga adalah membedakan antara kesombongan dan berlebihan. Musik patriotik dan musik komunitas seringkali membutuhkan emosi yang kuat, melodi yang indah, dan lirik yang mudah dipahami. Tetapi jika kesombongan didorong ke tingkat retorika yang berlebihan, karya tersebut dengan mudah kehilangan kehalusannya. Budaya Vietnam tidak hanya dicirikan oleh ketabahan yang tak tergoyahkan, tetapi juga oleh keindahan fleksibilitas, kerendahan hati, kesabaran, dan ketekunan.
Tanaman padi yang menundukkan kepalanya bukanlah simbol penyerahan diri, melainkan simbol kelimpahan, kedewasaan, kesadaran diri, dan pemahaman tentang dunia. Terkadang, suatu bangsa yang kuat bukanlah karena selalu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, tetapi juga karena ia tahu bagaimana merendahkan diri untuk menabur benih, merendahkan diri kepada tanah, dan dari sana, bangkit dengan sangat kokoh.
Keempat, disarankan untuk berkonsultasi dengan para ahli sebelum mempublikasikan secara luas, terutama ketika menggunakan materi yang berkaitan dengan cerita rakyat, sejarah, agama, atau simbol nasional. Di era media sosial, sebuah lirik tidak lagi hanya ada dalam lagu itu sendiri. Lirik tersebut akan dianalisis, diteliti, diperdebatkan, ditafsirkan ulang, dan diperdebatkan lagi. Oleh karena itu, penulis lagu perlu membaca ulang maknanya, berkonsultasi dengan para ahli, dan mengukur reaksi berbagai kelompok pendengar sebelum mempublikasikannya. Hal ini tidak mengurangi kebebasan kreatif; sebaliknya, hal ini membantu kreativitas berkembang lebih jauh dan menghindari kontroversi yang tidak perlu.
Pelajaran yang dapat dipetik bukanlah bahwa musisi muda tidak boleh berkarya menggunakan materi rakyat. Sebaliknya, mereka seharusnya berkarya. Namun, kreativitas harus didasarkan pada pemahaman. Mereka harus memperbarui tradisi dengan kehalusan, bukan dengan perubahan yang mengejutkan.
Sumber: https://tienphong.vn/dung-dao-nghia-gay-soc-post1839383.tpo








