Selama liburan kami baru-baru ini, kami memilih Gành Đỏ – sebuah desa nelayan kecil di kelurahan Xuân Đài, kota Sông Cầu (provinsi Phú Yên ) – sebagai tujuan kami. Tenang dan bersahaja, Gành Đỏ menyambut kami dengan pesonanya yang sederhana, pedesaan, dan sangat menawan.
Ganh Do terletak 15 km di selatan pusat kota Song Cau, bersarang di samping Jalan Raya Nasional 1A. Ganh Do terkenal dengan saus ikannya yang harum dan pohon-pohon casuarina yang berbisik menceritakan kisah saat senja tiba. Namun, mungkin yang benar-benar membuat orang terus kembali adalah keramahan hangat penduduk desa nelayan dan keindahan laut yang masih alami.
Pada sore pertama kami tiba di Gành Đỏ, kami merasa seolah-olah melebur dalam pelukan laut. Angin selatan yang lembut, selembut tangan seorang ibu, menyejukkan kulit kami. Lautnya jernih sekali, airnya membelai dan menenangkan otot-otot kami yang lelah, yang terkuras oleh kerasnya kehidupan kota. Seseorang pernah berkata, "Tutup matamu, hirup aroma asin laut, rasakan angin sejuk, dan hatimu akan terasa ringan." Itu benar sekali. Semua kekhawatiran kami lenyap seperti buih di ombak, hanya menyisakan langit yang luas dan terbuka.
| Matahari terbit di pantai Ganh Do. |
Malam itu, kami menginap di tepi laut. Setiap keluarga mendirikan tenda mereka tepat di atas pasir, di samping pepohonan casuarina yang berdesir. Setelah menikmati berenang yang menyegarkan, seluruh kelompok berkumpul untuk menikmati hidangan kecil berupa makanan laut segar yang dibeli dari nelayan. Anak-anak dengan antusias mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api. Tawa riang mereka, langkah kaki yang berdebar-debar mengejar kepiting, dan bahkan jatuh di lumpur... semuanya menyatu menjadi simfoni masa kanak-kanak.
Laut di malam hari sungguh menakjubkan. Di kejauhan, perahu-perahu nelayan, dengan lampu-lampunya yang bersinar terang, menyerupai Bima Sakti yang membentang di atas air. Ombak berdengung seperti lagu pengantar tidur, sementara bulan melayang dengan malas, memancarkan cahaya keperakannya pada setiap gubuk dan setiap helai rambut. Duduk bermeditasi di tengah hamparan luas ini, menatap langit dan laut yang luas dalam diam, hati terasa seringan awan, setenang burung camar yang terbang menuju kedamaian.
Larut malam. Seluruh kelompok tidur nyenyak di tenda mereka. Aku berbaring di dekat tepi air, mendengarkan laut berbisik melantunkan lagu pengantar tidur dengan irama yang tak berujung: bergumam... bergumam... Laut tak pernah tidur. Laut tetap terjaga dengan kehidupan mereka yang bergantung padanya.
Sekitar pukul 4 pagi, suara "klik, klik..." membangunkan saya. Di seberang sana, seorang pria sedang mendayung perahunya untuk menggiring ikan ke jaringnya. Ia mengenakan kemeja usang, wajahnya kasar, dan lampu perahu yang berkedip-kedip menerangi kulitnya yang kecokelatan. Ia tidak mengatakan apa pun. Tetapi dalam gambaran itu, orang dapat dengan jelas melihat kehidupan yang penuh kesulitan, kehidupan yang terjalin dengan laut, dan cinta pada tanah airnya yang tak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Para nelayan ini – mereka adalah saksi bisu kehidupan di lautan, "ksatria" tanpa baju besi yang melindungi setiap inci air, setiap gelombang, setiap matahari terbit di negara ini.
Langit perlahan menjadi cerah. Seperti sebuah keajaiban, matahari muncul, bersinar terang, bulat, dan melayang seperti bola api yang menyilaukan di atas nampan perak berkilauan. Ganh Do, dengan pasir putihnya, menyambut fajar dengan alami dan hangat. Cahaya mewarnai permukaan laut menjadi merah muda. Angin mencium pipiku. Semua indraku terbangun di pagi yang benar-benar ajaib ini.
Di tengah laut, perahu-perahu mulai berbalik kembali menuju pelabuhan. Burung-burung melayang dan meluncur di langit biru. Hari baru telah dimulai. Dan di dalam hatiku, sebuah panggilan tak terucap bergema: Oh laut, terima kasih telah mengingatkanku untuk hidup perlahan, untuk hidup otentik, dan untuk hidup sepenuhnya dengan cinta.
Sumber: https://baodaklak.vn/du-lich/202506/ganh-do-bien-goi-yeu-thuong-d5b04f4/






Komentar (0)