Pada tanggal 29 Januari, harga minyak mentah Brent di pasar internasional secara resmi melampaui angka $70/barel untuk pertama kalinya sejak September 2025, di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Pada awal perdagangan di London pada tanggal 29 Januari, harga minyak mentah Brent naik 2,4% menjadi $70,06/barel; sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga meningkat 2,6% menjadi $64,82/barel.
Pada 28 Januari, Iran menyatakan kesiapannya untuk menghadapi dan akan menanggapi "dengan tepat" setiap tindakan militer terhadapnya. Dalam pertemuan dengan perwakilan media asing, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Hubungan Internasional, Kazem Gharibabadi, menegaskan tekadnya untuk melawan ancaman di Timur Tengah, termasuk peningkatan kekuatan militer AS di kawasan tersebut.
Peringatan Iran muncul setelah Presiden Trump menyatakan bahwa "armada angkatan laut AS yang besar" sedang menuju perairan dekat Iran dan siap bertindak jika perlu. Sementara itu, Prancis dan Jerman mendukung pertimbangan Uni Eropa (UE) untuk menambahkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke dalam daftar organisasi terorisnya. AS dan Kanada telah menambahkan IRGC, tetapi UE dan Inggris belum membuat keputusan serupa.
Ketegangan AS-Iran menimbulkan tantangan signifikan bagi keamanan energi regional. Derren Nathan, kepala riset ekuitas di perusahaan jasa keuangan Hargreaves Lansdown, meyakini bahwa konflik, jika terjadi, berisiko berdampak langsung pada produksi minyak mentah Iran sebesar tiga juta barel per hari.
Pada saat yang sama, Nathan juga memperingatkan risiko gangguan terhadap kapal tanker minyak dan gas yang melintasi Selat Hormuz, yang dianggap sebagai pusat transit utama untuk pasokan energi global. Dalam konteks ini, fluktuasi harga minyak di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan semua pihak untuk menahan diri dan hasil upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan.
Sumber: https://vtv.vn/gia-dau-vuot-moc-70-usd-thung-100260129181057833.htm







Komentar (0)