
Nguyen Ngoc Linh Chi, seorang siswa kelas 12A9 dan salah satu dari dua anggota proyek penelitian, berbagi: "Ide penelitian ini muncul dari kenyataan bahwa banyak siswa memahami perdamaian terutama pada tingkat konseptual, tetapi masih bingung ketika harus menerjemahkannya ke dalam sikap dan perilaku spesifik dalam interaksi sehari-hari. Banyak yang tahu bahwa perdamaian berarti tidak berkelahi atau bertengkar, tetapi ketika konflik muncul, mereka memilih untuk menghindar, tetap diam, atau bereaksi negatif. Kami ingin menemukan cara agar perdamaian melampaui sekadar kesadaran dan menjadi perilaku konkret."
Berdasarkan survei terhadap 729 siswa dan 60 guru di 5 sekolah menengah atas yang mewakili berbagai wilayah provinsi, yang dilakukan dari Juli hingga November 2025, hasil penelitian telah cukup jelas menggambarkan keadaan nilai-nilai perdamaian di kalangan siswa sekolah menengah atas saat ini. Mayoritas siswa memahami makna perdamaian dan menghormati norma-norma umum; namun, dalam hal perilaku praktis, banyak yang masih kesulitan mengendalikan emosi, menyelesaikan konflik melalui dialog, atau menepati janji kepada orang lain. Kesenjangan antara "pemahaman" dan "tindakan" adalah hambatan terbesar yang menjadi fokus penelitian untuk dianalisis dan dicari solusinya.
Nguyen Nhat Minh, seorang siswa kelas 11A6 dan rekan Linh Chi selama proses penelitian, mengatakan: "Kelompok kami memberikan perhatian khusus pada aspek perilaku. Hanya mengajarkan konsep saja sulit untuk menciptakan perubahan. Kami ingin menemukan solusi yang memungkinkan siswa untuk mengalami, mempraktikkan, dan menyesuaikan perilaku mereka dalam situasi tertentu."
Berdasarkan pendekatan tersebut, kelompok ini melakukan analisis mendalam tentang faktor-faktor yang memengaruhi nilai perdamaian, mulai dari siswa itu sendiri, keluarga mereka, dan sekolah hingga lingkungan sosial dan ruang digital.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, di antara faktor-faktor objektif, sekolah memainkan peran terpenting. Metode pengajaran guru, hubungan antar teman sebaya, dan budaya sekolah secara langsung memengaruhi pembentukan perilaku damai pada siswa. Hal ini menjelaskan mengapa siswa dengan usia yang sama, tetapi di lingkungan pendidikan yang berbeda, menunjukkan tingkat nilai-nilai perdamaian yang berbeda. Berdasarkan pengamatan praktis ini, penelitian ini mengusulkan sistem solusi terpadu yang sesuai dengan kondisi spesifik sekolah.
Poin penting dari topik penelitian ini adalah pendekatan "belajar melalui pengalaman". Alih-alih penyampaian pengetahuan satu arah, tim peneliti mengusulkan pengorganisasian kegiatan pembelajaran tematik interdisipliner di ruang digital, menggabungkan kegiatan pengalaman yang berfokus pada akar, komunitas, dan masa depan. Selain itu, mereka mengusulkan model klub "Pembangunan Perdamaian", di mana siswa berperan, terlibat dalam dialog, dan menyelesaikan konflik dalam situasi hipotetis. Yang perlu diperhatikan, pengembangan ekosistem digital untuk pendidikan perdamaian dianggap sebagai pendekatan baru, yang membantu siswa mempertahankan kebiasaan perilaku positif melalui alat yang sesuai untuk era digital.
Untuk mengevaluasi efektivitas solusi tersebut, tim peneliti melakukan eksperimen di SMA Viet Bac dan SMA Pac Khuong dengan melibatkan 166 siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa yang berpartisipasi dalam eksperimen tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam ekspresi nilai-nilai perdamaian, terutama dalam hal perilaku.
Ibu Chu Thi Hong Chinh, seorang guru di SMA Viet Bac dan pembimbing langsung kelompok penelitian, berkomentar: "Yang berharga dari proyek ini adalah para siswa tidak melakukan penelitian demi prestasi semata, tetapi benar-benar ingin menciptakan perubahan di lingkungan sekolah. Proses eksperimen menunjukkan bahwa banyak siswa menjadi lebih perhatian, lebih tenang ketika terjadi konflik, dan proaktif dalam menemukan solusi positif. Keseriusan dalam penelitian dan kepatuhan yang erat terhadap realitas sekolah telah membuat proyek ini sangat meyakinkan."
Dengan pendekatan ilmiah , data yang jelas, dan solusi yang layak, proyek "Mengorientasikan Nilai-Nilai Perdamaian bagi Siswa SMA di Provinsi Lang Son" berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi penelitian sains dan teknologi tingkat provinsi untuk siswa SMP dan SMA tahun ajaran 2025-2026, dan juga terpilih untuk berpartisipasi dalam kompetisi tingkat nasional mendatang. Prestasi ini bukan hanya sumber kebanggaan bagi para guru dan siswa SMA Viet Bac, tetapi juga memberikan arahan praktis dalam mendidik nilai-nilai kehidupan, serta berkontribusi dalam membangun lingkungan sekolah yang aman dan manusiawi.
Sumber: https://baolangson.vn/gieo-mam-hoa-binh-tu-lop-hoc-5069200.html






Komentar (0)