Dalam rangka Hari Puisi Vietnam ke-24, yang diadakan di provinsi Quang Ninh pada tahun 2026, Asosiasi Penulis Vietnam menyelenggarakan seminar dengan tema "Martabat Puisi". Seminar ini berfokus pada pembahasan peran dan tanggung jawab penyair dalam konteks perkembangan pesat media sosial dan kecerdasan buatan (AI), sehingga menyoroti perlunya melestarikan nilai sejati puisi.

Para penyair dan penulis mengunjungi, menjelajahi, dan meneliti tema-tema di atas kapal layar 286-Le Quy Don, Agustus 2025. Foto: Nguyen Duc

Tidak hanya di Vietnam, tetapi di banyak negara, puisi menghadapi dua tantangan eksistensial. Pertama, "badai" media dengan pendekatannya yang praktis dan instan terhadap budaya visual dan pendengaran berdampak negatif pada penulisan kreatif dan penerimaan sastra. Kedua, karena kurangnya akar yang dalam di tanah kehidupan, "pohon hijau" sang penyair menjadi kerdil dan semakin lemah dalam menghadapi badai yang dahsyat. Lebih jauh lagi, di era dominasi teknologi dan penyalahgunaan AI ini, puisi menjadi dangkal, ringan, hambar, kurang mendalam, dan kehilangan esensi kehidupan yang sesungguhnya... Pembaca secara alami menjauhi puisi.

Media sosial sekali lagi mendorong puisi ke dalam bahaya menjadi produk media jangka pendek dan cepat berlalu, alih-alih sebuah kreasi artistik. Sementara itu, sebagai suara emosi yang mendalam, puisi membutuhkan refleksi dan penyempurnaan. Penyair besar Tiongkok, Bai Juyi, pernah berkata: "Puisi berakar pada emosi, bercabang pada kata-kata, berbunga pada bunyi, dan berbuah pada makna." Lebih dari sekadar "definisi" puisi, pengamatan ini juga merupakan generalisasi tingkat tinggi dari metodologi penciptaan: Seperti pohon hijau, seorang penyair harus menanam akarnya dalam-dalam di tanah kehidupan untuk "menyerap" nutrisi emosi. Hanya pohon yang sehat dan subur yang dapat menghasilkan buah manis dari karya-karya yang bermakna.

Di zaman modern, penyair Chế Lan Viên menulis: “Aku hanya menulis setengah dari puisiku / Setengah lainnya kutinggalkan untuk musim gugur.” “Musim gugur untuk mengerjakannya” berarti bahwa kehidupan itu sendiri “menuliskannya untukku.” Artinya, tanpa pengalaman hidup, sulit untuk menulis puisi… Kehidupan pengembara Du Fu sangat berat dan penuh penderitaan dalam arti harfiah. Peristiwa An Lộc Sơn pada tahun 755 menyebabkan penyair tersebut menjalani kehidupan pengembara, terus-menerus berpindah tempat, diperparah oleh kelaparan dan perlakuan buruk dari istana kekaisaran. Ia menjadi penyair rakyat jelata, berempati dengan penderitaan dan kemalangan mereka. Dari kehidupannya sendiri, “Santo Penyair” menyimpulkan: “Setelah membaca sepuluh ribu buku / Memegang pena seperti memiliki dewa.” Ini harus dipahami lebih luas bukan hanya sebagai membaca buku secara harfiah, tetapi juga membaca kehidupan dalam arti kiasan. Hanya dengan mengalami kehidupan seseorang dapat memahami kehidupan, mencintai kehidupan, dan berduka atas kehidupan. Untuk membuat pembaca memahami kehidupan, penyair harus terlebih dahulu memahami kehidupan. “Untuk mengabadikan seseorang, penyair harus terlebih dahulu menjadi asin” adalah maknanya.

Pada akhirnya, perjalanan penciptaan artistik adalah perjalanan menuju penaklukkan keindahan. Dan keindahan selalu bersemayam dalam kehidupan; keindahan adalah kehidupan itu sendiri. Sebagai bentuk kesadaran yang mulia dan canggih, puisi harus berakar kuat dalam realitas untuk memenuhi misi artistiknya. Dalam sejarah budaya manusia, tidak ada jenius artistik yang pernah muncul tanpa ditabur, bertunas, berakar, tumbuh, dan matang dari buaian kehidupan. Hanya dari kehidupan, yang berasal dari kehidupan, bakat artistik dapat berkembang.

Media digital mengubah setiap "warga internet" menjadi "kritikus," yang semakin menuntut agar penulisan kreatif membutuhkan keberanian dan ketabahan. Pohon dengan akar yang kuat sulit dicabut. Berakar kuat dalam denyut nadi dunia adalah cara terbaik untuk memperkuat puisi. Ini juga merupakan cara untuk kembali ke kedalaman jiwa nasional—sebuah kualitas puisi. Dalam arus global, risiko puisi diasimilasi sangat besar. Jika puisi meniru dunia tanpa dasar identitas, ia mudah menjadi hibrida dan hambar. Kesadaran yang mendalam akan komunitas, dengan tekun dan hati-hati mengeksplorasi peribahasa, lagu rakyat, legenda, sejarah, dll., adalah cara para penyair membangun fondasi untuk karier mereka. Kombinasi tradisi dan inovasi tetap menjadi jalur estetika kreativitas yang abadi.

Mengarungi arus emosi pribadi, perahu puitis memasuki arus pemikiran kolektif, mencapai setiap tepi peristiwa sejarah, diresapi dengan nilai-nilai sejati, baik, dan indah dari zamannya, sebelum mengalir ke samudra luas umat manusia. Misi puisi saat ini tetap untuk melayani rakyat. Untuk mencapai hal ini, puisi harus berakar pada rakyat, menulis tentang rakyat, untuk rakyat, dan karena rakyat. Inilah prinsip penciptaan, kebenaran seni, dan juga prinsip moral kehidupan.

    Sumber: https://www.qdnd.vn/van-hoa/doi-song/giu-gin-pham-gia-tho-ca-truoc-con-loc-ai-1028794