
Mereka tidak selalu dikenali sebagai bagian dari arsitektur perkotaan, seringkali hanya muncul sebagai jejak samar yang mudah terlewatkan di tengah rambu-rambu, lalu lintas, dan hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.
Namun, jika kita berhenti sejenak dan mengamati lebih saksama, kita dapat mengenali ciri-ciri yang familiar dari kelas urban masa lalu, dengan atap rendah, pintu lengkung, jendela kayu yang pudar, dan dinding tua yang menguning.
Rumah-rumah itu bercerita dalam keheningan.
Rumah-rumah ini, yang sebagian besar berasal dari akhir abad ke-19 hingga paruh pertama abad ke-20, mencerminkan keragaman gaya arsitektur, mulai dari gaya lokal Prancis, neoklasik, Art Deco, hingga bahkan perpaduan gaya Timur dan Barat. Rumah-rumah ini tidak lagi berdiri berdampingan dalam barisan yang terpisah seperti sebelumnya, tetapi tersebar, diselingi di antara bangunan-bangunan baru dan kota yang terus berubah.
Seiring waktu, rumah-rumah ini telah menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal; rumah-rumah ini telah menjadi bentuk memori perkotaan, yang ada dalam berbagai kondisi. Bahkan, orang-orang menyadari nilainya. Siapa pun yang pernah peduli dengan penampilan lama Da Nang memahami bahwa rumah-rumah ini adalah sisa-sisa lapisan kehidupan perkotaan dari tahap awal perkembangan modern kota ini.
Dalam ingatan itu, bangunan-bangunan publik seperti Istana Gubernur lama, Katedral, atau beberapa vila yang masih tersisa sering disebutkan. Namun di samping itu, ada juga sekelompok tempat tinggal kolonial yang lebih kecil, tersebar, dan lebih tenang.
Saat berjalan menyusuri jalan-jalan itu, orang akan secara bertahap menyadari bahwa setiap bangunan berada dalam kondisi yang berbeda. Beberapa bangunan masih mempertahankan bentuk arsitektur yang relatif utuh, mulai dari fasad, atap genteng, jendela, beranda hingga proporsi ruang. Bangunan lain masih mempertahankan penampilan aslinya tetapi telah dimodifikasi secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan ada juga bangunan yang jelas-jelas bobrok, dengan dinding retak, atap rusak, terbengkalai, dan ditumbuhi pepohonan.

Kesenjangan konservasi
Di sini muncul kontras yang cukup mencolok. Nilai yang diciptakan bangunan-bangunan ini sebagian besar berasal dari lanskap perkotaan: pemandangan jalan, ritme deretan bangunan rendah, perasaan akrab saat berjalan melewati sudut jalan lama. Tetapi biaya pemeliharaannya hampir seluruhnya ditanggung oleh pemiliknya.
Bagi sebuah rumah kecil milik pribadi, mempertahankannya bukanlah sekadar pilihan emosional. Hal itu melibatkan biaya untuk perbaikan atap, penggantian pintu, mengatasi dinding yang lembap, dan mempekerjakan orang yang tepat untuk mengerjakan material dan struktur bangunan yang sudah tua.
Banyak pemilik rumah masih ingin mempertahankan, dan bahkan bangga, tinggal di bagian kota yang memiliki nilai sejarah. Namun, ada kesenjangan nyata antara keinginan itu dan kemampuan untuk mewujudkannya. Merenovasi rumah seperti itu seringkali lebih mahal daripada merenovasi rumah biasa, prosedurnya lebih rumit, dan menemukan profesional yang tepat tidak selalu mudah. Dalam beberapa kasus, sekadar menaikkan biaya hidup ke tingkat yang dapat diterima pun merupakan beban yang sangat besar.
Dukungan yang ada saat ini seringkali tidak jelas. Para pemilik rumah bukannya tidak termotivasi; yang mereka butuhkan adalah peta jalan yang jelas. Ketika perbaikan diperlukan, mereka harus mencari tahu sendiri bagaimana menavigasi peraturan, saran teknis, dokumentasi, biaya, dan batasan intervensi yang diizinkan. Tanpa sistem yang cukup jelas untuk mendukung mereka, upaya pelestarian dengan mudah menjadi tidak terkoordinasi, dengan perbaikan dilakukan sesuai kebutuhan, dan pada akhirnya, yang tersisa hanyalah beberapa jejak yang tersebar.
Oleh karena itu, tidak mungkin untuk sekadar berasumsi bahwa kegagalan melestarikan rumah-rumah ini sepenuhnya merupakan kesalahan pemilik rumah. Seringkali, mereka tidak berpaling dari rumah lama mereka; mereka hanya menghadapi dilema yang sangat besar sendirian. Sebuah kota hampir tidak dapat melestarikan warisan bersama jika hanya bergantung pada kesabaran warga individu. Jika sebuah bangunan tua memiliki nilai bagi lanskap perkotaan, tanggung jawab untuk pelestariannya tidak dapat hanya dibebankan pada pemiliknya. Pada titik ini, pertanyaan tentang pelestarian atau kehilangan bukan lagi pilihan individu tunggal, tetapi masalah perkotaan bersama.
Oleh karena itu, sekadar mengimbau hati nurani atau emosi masyarakat seringkali tidak cukup. Untuk kelompok bangunan ini, mengatakan bahwa mereka perlu dilestarikan karena merupakan situs warisan budaya masih belum memadai. Pelestarian tidak mungkin berkelanjutan jika hanya bergantung pada niat baik individu, tanpa mekanisme khusus yang diterapkan untuk membuat pelestarian tersebut layak dilakukan.
Yang terpenting bukanlah melestarikan segalanya, atau membekukan rumah-rumah tua seperti artefak, tetapi menentukan apa yang perlu dilestarikan, apa yang dapat diubah, dan sejauh mana agar bangunan tersebut tetap sesuai dengan jati dirinya. Pelestarian bukan berarti tidak bergerak; pelestarian berarti menemukan batasan perubahan agar bangunan tersebut tetap dapat dikenali dalam arus kehidupan saat ini.
Oleh karena itu, kelompok rumah ini merupakan bagian dari mikrostruktur kota. Nilainya terletak bukan pada setiap bangunan individual, tetapi pada bagaimana mereka hidup berdampingan dan membentuk lapisan ruang yang berkelanjutan di dalam kota. Melestarikan rumah tua bukan hanya tentang melestarikan bentuk masa lalu; ini tentang bekerja dengan apa yang ada sebelum dihancurkan.
Hilangnya rumah-rumah tua di kota seringkali bukanlah peristiwa yang berisik, tidak dimulai dengan pembongkaran besar-besaran, melainkan dengan perubahan-perubahan yang sangat kecil: menambahkan atap, mengganti pintu, memperluas ruangan.
Masing-masing perubahan individual ini mungkin tampak kecil, tetapi secara kolektif, perubahan-perubahan ini telah membuat kita tidak mungkin lagi mengenali citra asli sebuah bangunan yang telah menjadi bagian dari sejarah. Oleh karena itu, pertanyaan tentang melestarikan atau kehilangan bukan hanya tentang beberapa rumah tua; ini juga merupakan pertanyaan tentang bagaimana kota memperlakukan ingatannya sendiri. Sebuah kota dapat berkembang sangat cepat, tetapi jika semua jejak masa lalu menghilang, perkembangan itu akan menjadi datar dan kurang mendalam.
Sumber: https://baodanang.vn/giu-hay-de-mat-nhung-ngoi-nha-cu-3334323.html








