
Di tengah euforia tahun-tahun awal integrasi, banyak yang memandangnya sebagai simbol inovasi. Namun, beberapa warga Hanoi berdiri diam di depan bangunan yang sudah familiar itu, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Debat dan opini muncul di media massa pada saat itu. Sebuah artikel berjudul "Terobsesi dengan Westernisme" menarik perhatian dengan mempertanyakan: Mengapa "bagian depan bangunan" di jantung ibu kota harus menyandang nama yang setengah Barat dan setengah Vietnam?
Lebih dari dua dekade telah berlalu. Perdebatan pada masa itu mungkin telah memudar menjadi kenangan. Tetapi yang tersisa bukanlah benar atau salahnya kata "Plaza," melainkan isu yang lebih besar, pertanyaan yang lebih penting: Bagaimana Hanoi akan berintegrasi sambil tetap menjadi Hanoi?
Ini adalah kisah tentang identitas perkotaan di era globalisasi.
Sebuah kota yang penuh kenangan dan memiliki kemampuan untuk menyerap hal-hal baru.
Warga Hanoi sering mengenang kota mereka dengan nostalgia yang mendalam. Mereka mengingat derak trem di sore hari yang dingin di musim dingin, aroma harum bunga susu di bulan Oktober yang tercium di jalan-jalan tua, seruan pedagang malam yang bergema di lorong-lorong sempit, aroma nasi ketan yang dibungkus daun teratai, dan aroma kaldu pho yang kaya di sudut-sudut jalan... Kenangan-kenangan ini membentuk jiwa kota. Oleh karena itu, nilai terbesar Hanoi tidak hanya terletak pada struktur fisiknya, tetapi juga pada lapisan warisan budaya yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun sejarah.
Hanoi memang seperti itu, setiap jalan menceritakan sebuah kisah. Hang Dao, Hang Ngang, Hang Bac, Hang Thiec, Hang Ma... nama-nama ini adalah jejak kerajinan tradisional, komunitas, dan lapisan budaya yang telah ada selama ratusan tahun. Sebuah kota mungkin mengubah penampilannya, tetapi jika kehilangan ingatannya, ia akan kehilangan sebagian jiwanya.
Bahkan selama periode kolonial Prancis , ketika merencanakan pembangunan perkotaan, Prancis melestarikan area "tiga puluh enam jalan dan lingkungan" karena mereka memahami nilai intrinsik distrik Kẻ Chợ (Hanoi), yang berakar kuat di tempat ini.
Menariknya, sepanjang sejarahnya, Hanoi tidak pernah menjadi kota tertutup, tidak pernah menolak inovasi. Thang Long kuno pernah menjadi tempat perpaduan berbagai arus budaya.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Prancis memperkenalkan model perencanaan kota dan arsitektur yang sepenuhnya baru. Gedung Opera Agung, Jembatan Long Bien, Istana Gubernur Jenderal, jalan-jalan berjejer pohon, dan lingkungan bergaya Eropa muncul satu demi satu. Semua ini adalah elemen impor, tetapi seiring waktu, Hanoi menyerapnya dan mengubahnya menjadi bagian dari dirinya sendiri, bahkan menjadi simbol ibu kota. Ini menunjukkan vitalitas unik Hanoi dalam kemampuannya untuk menerima dan mengubah hal-hal baru menjadi nilai-nilai uniknya sendiri.
Pelajaran itu tetap relevan di era globalisasi. Pertanyaannya bukan apakah harus modernisasi atau tidak, tetapi bagaimana cara modernisasi.
Modernisasi tidak sama dengan westernisasi.
Pada awal abad ke-21, seiring dengan perkembangan ekonomi muncul pula mentalitas sosial yang cukup umum: apa pun yang berpenampilan Barat dianggap lebih modern. Nama-nama berbahasa Inggris semakin banyak terlihat di jalanan. Banyak toko menampilkan papan nama berbahasa asing yang lebih besar daripada papan nama berbahasa Vietnam.
Banyak proyek diberi nama yang sama sekali asing bagi tempat di mana proyek itu berada. Vinhomes Smart City, Times City, Ocean Park... di lahan bekas desa seperti Mo dan Mo... Saat itu banyak orang percaya bahwa semakin mirip dengan Singapura, Hong Kong, atau Bangkok, semakin modern tempat tersebut. Namun kenyataan telah membuktikan sebaliknya.
Sebuah kota tidak bisa menjadi dirinya sendiri dengan mencoba menjadi kota lain. Tidak ada yang pergi ke Paris, Kyoto, atau Praha untuk mencari kesamaan. Orang-orang pergi ke sana untuk mengalami apa yang unik dari tempat itu.
Hanoi tidak berbeda. Wisatawan datang ke ibu kota bukan untuk mengagumi pusat perbelanjaan seperti di tempat lain di dunia. Mereka datang untuk mengunjungi Danau Hoan Kiem, Kuil Sastra, atap genteng kota tua, pepohonan kuno di sepanjang jalan Phan Dinh Phung dan Hoang Dieu, serta kafe-kafe kecil yang terletak di vila-vila tua. Perbedaan inilah yang menciptakan pesona kota ini.
Melihat kembali dua dekade terakhir, Hanoi telah mengalami banyak perdebatan tentang identitas perkotaannya. Perdebatan ini berkisar pada pelestarian Jembatan Long Bien, nasib vila-vila Prancis kuno, pelestarian kawasan Danau Hoan Kiem, renovasi Kota Tua, dan munculnya gedung-gedung tinggi di pusat kota bersejarah. Perdebatan ini merupakan tanda sebuah kota yang masih menghargai kenangannya, membantu masyarakat lebih memahami nilai warisannya.
Saat ini, Danau Hoan Kiem tetap menjadi "jantung budaya" ibu kota karena banyak generasi warga Hanoi telah menyuarakan perlindungan terhadap ruang ini. Banyak vila tua masih berdiri hingga sekarang karena masyarakat menyadari bahwa warisan budaya hilang dengan sangat cepat, tetapi dibutuhkan banyak generasi untuk membangunnya kembali. Jembatan Long Bien, jembatan berusia lebih dari seabad yang pernah mengalami pemboman di masa perang, masih dipandang bukan hanya sebagai struktur transportasi tetapi juga sebagai bagian dari ingatan kota.
Melestarikan jiwa Hanoi
Ada kepercayaan yang sudah lama dipegang bahwa pembangunan membutuhkan pengorbanan hal-hal lama. Tetapi pengalaman banyak kota di seluruh dunia menunjukkan bahwa identitas sejati adalah kunci pembangunan berkelanjutan.
Tidak ada yang pergi ke Kyoto untuk melihat gedung-gedung kaca. Tidak ada yang pergi ke Praha untuk mencari pusat perbelanjaan. Orang-orang datang untuk merasakan sejarah, budaya, dan suasana unik kota tersebut.
Itulah juga yang diupayakan Hanoi. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak proyek telah menunjukkan pendekatan baru terhadap warisan budaya. Jalan Mural Phung Hung, yang melestarikan karya seni yang merekonstruksi Hanoi tempo dulu, adalah contohnya. Lengkungan batu tua tidak dihancurkan; lengkungan tersebut dihidupkan kembali melalui seni. Gambar trem yang berdentang, pedagang kaki lima, dan sudut jalan lama direkonstruksi untuk menghubungkan kenangan dengan masa kini. Ini bukan pelestarian dalam keadaan beku, tetapi pelestarian untuk terus "hidup".
Saat ini, Hanoi memasuki fase pembangunan baru. Jalan lingkar diperluas, dan kawasan perkotaan modern terus terbentuk. Sistem kereta api perkotaan secara bertahap mengubah wajah transportasi. Teknologi digital mengubah cara kota beroperasi. Semua ini diperlukan dan merupakan tanda-tanda kemajuan.
Namun di tengah perubahan dramatis ini, sangat penting untuk melestarikan karakter unik Hanoi, suaranya sendiri, jiwanya sendiri. Sehingga di pagi hari musim gugur, orang-orang masih dapat mengenali aroma khas bunga milk flower. Sehingga di bawah pohon-pohon tua di sepanjang Danau Hoan Kiem, kisah-kisah antar generasi terus diceritakan. Sehingga jalan-jalan bernama Hang Dao, Hang Ngang, dan Hang Bac masih mengingatkan kita pada asal-usul Thang Long yang berusia ribuan tahun. Sehingga cita rasa pho Hanoi, dengan merek-merek terkenalnya seperti Thin, Tu Lun, Bat Dan, dan Ly Quoc Su, tetap tak tergantikan di setiap sudut Kota Tua, bahkan ketika ayam goreng KFC, steak sapi, hot pot Sichuan, dan hot pot Thailand secara bertahap memasuki kancah kuliner Hanoi.
Sehingga setelah semua perubahan waktu, orang-orang akan tetap mengenali ini sebagai Hanoi, bukan salinan dari kota lain mana pun, tetapi Hanoi - kota kenangan, kedalaman budaya, dan identitas yang tak tergantikan.
Mungkin itulah yang ingin disampaikan oleh mereka yang dulu bingung dengan tulisan "Tràng Tiền Plaza" di "bagian depan gedung".
Sumber: https://hanoimoi.vn/giu-hon-ha-noi-trong-dong-chay-hoi-nhap-1209628.html









