Tiga generasi melestarikan kerajinan tradisional ini.
Di jantung Jalan Hang Gai (Hanoi), di mana setiap meter persegi ruang komersial sangat mahal, kisah keluarga Ibu Do Thanh Huong, pemilik merek sulaman dan desain tangan Tan My, adalah contoh utama pendekatan mendalam terhadap pembangunan ekonomi melalui warisan budaya.
Selama bertahun-tahun, keluarganya telah menerima banyak tawaran untuk mengubah seluruh lahan seluas 1.000m² menjadi hotel atau restoran, dengan potensi keuntungan langsung yang jauh melebihi keuntungan mempertahankan merek kerajinan tradisional. Namun di Tan My, kisahnya lebih dari sekadar perhitungan bisnis.

Ibu Do Thanh Huong
Bagi Ibu Huong, Tan My adalah tempat yang menyimpan kenangan banyak generasi perempuan dalam keluarganya, tempat bingkai sulaman pertama didirikan pada tahun 1969, dan tempat kisah-kisah tentang kerajinan ini diwariskan dari nenek ke ibu, dan dari ibu ke anak perempuan, seperti aliran sungai yang tak pernah putus.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan di Kota Tua, tempat ini masih menyimpan sebagian kenangan Hanoi tempo dulu, sesuatu yang, jika hilang, tidak dapat diciptakan kembali oleh teknologi atau model komersial apa pun.

Setiap rumah di Kota Tua Hanoi dapat menjadi "duta budaya" Vietnam.
Dari sebuah toko kecil yang awalnya berukuran kurang dari 20 meter persegi, Tan My kini telah menjadi tempat yang familiar bagi banyak turis internasional, diplomat , dan politisi yang mengunjungi Hanoi. Yang membuat mereka terus kembali bukan hanya produk kerajinan tangan yang indah, tetapi juga pengalaman memasuki ruang memori perkotaan yang dinamis, di mana setiap barang membawa cerita tentang profesi, orang-orang, dan identitas budaya Vietnam.
Menurut Ibu Huong, kerajinan tradisional tidak dapat bertahan hanya dengan mengandalkan nostalgia. Saat ini, produk kerajinan tangan bukan lagi sekadar benda, tetapi puncak dari keterampilan, waktu, emosi, dan lapisan budaya yang terakumulasi selama beberapa generasi. Ketika pelanggan merasakan lapisan nilai ini, mereka bersedia membayar harga sebenarnya, bukan untuk barang itu sendiri, tetapi untuk cerita di baliknya.
Kisah Tan My bukanlah kasus terisolasi. Di banyak sudut kota tua lainnya, rumah-rumah yang dulunya dinilai terutama berdasarkan lokasinya di pinggir jalan, kini secara bertahap dipandang menurut sistem nilai yang berbeda.
Tempat-tempat tersebut menjadi ruang budaya, toko-toko kreatif, ruang pamer kerajinan tangan, atau titik pengalaman yang membantu pengunjung memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan di Hanoi. Dengan cara ini, nilainya terletak pada kedalaman budaya yang terakumulasi di dalam setiap ruang hidup.
Jika Tan My adalah kisah keluarga lintas generasi yang terikat pada satu profesi, maka di Jalan Gia Ngu, Ibu Pham Kim Thanh mewakili pendekatan berbeda terhadap ekonomi warisan budaya.

Bagi Ibu Kim Thanh, kombinasi rumah-rumah tua dan kegiatan bisnis pariwisata membantu melestarikan warisan arsitektur, menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan, dan memberikan pengalaman budaya otentik bagi wisatawan.
Setelah mencari nafkah dari bahan daur ulang selama hampir 30 tahun, ia telah menyaksikan hampir seluruh transformasi Kawasan Kota Tua dari tahun 1990-an hingga saat ini. Ia masih ingat dengan jelas Hanoi tempo dulu dengan para pedagang kaki lima, toko-toko kecil, tempo kehidupan yang lambat, dan Kawasan Kota Tua yang tenang di malam hari.
Namun seiring waktu, tempat itu berubah. Rumah-rumah tua direnovasi, toko-toko baru bermunculan, pariwisata berkembang, dan kota tua itu menjadi destinasi yang ramai sepanjang tahun. Alih-alih menyesali perubahan-perubahan ini, ia memilih untuk beradaptasi.
Menurut Ibu Thanh, pariwisata dan bisnis tidak bertentangan dengan warisan budaya jika diorganisir dengan baik. Sebaliknya, keduanya merupakan bagian dari kondisi agar warisan budaya dapat bertahan dalam kehidupan modern.
"Tanpa sumber pendapatan, sangat sulit bagi keluarga untuk memelihara, memperbaiki, dan melestarikan rumah-rumah yang berusia ratusan tahun. Menghubungkan rumah-rumah tua dengan pariwisata dan bisnis adalah cara untuk melestarikan warisan budaya. Hal ini menghasilkan pendapatan sehingga warisan budaya itu sendiri dapat lestari," ujarnya.
Realitas ini menunjukkan bahwa nilai terbesar kota tua terletak bukan pada lokasinya atau harga tanahnya, tetapi pada budayanya. Sebuah ruang yang menceritakan sebuah kisah selalu memiliki vitalitas yang lebih tahan lama daripada aset yang hanya dinilai berdasarkan nilai komersialnya. Dan ketika kisah itu cukup otentik, warisan itu sendiri akan menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Ketika warisan memasuki kehidupan
Semangat "ekonomi warisan" meluas melampaui rumah-rumah tua dan toko-toko milik keluarga hingga mencakup situs-situs bersejarah dan ruang-ruang kerajinan tradisional di dalam Kota Tua.

Tuan Nguyen Duc Tien
Di Kuil Dong Thanh di Jalan Hang Vai, Hanoi, jumlah pengunjung, mahasiswa, dan kelompok penelitian semakin meningkat. Menurut Bapak Nguyen Duc Tien, Kepala Sub-komite Pengelolaan Monumen dan Penjaga Kuil Dong Thanh, hal terpenting adalah monumen tersebut tidak lagi dilupakan, tetapi telah kembali ke kehidupan masyarakat sebagai bagian alami dari ruang kota.
Prasasti batu, plakat horizontal, bait-bait puisi, dan dokumen-dokumen bersejarah tidak lagi hanya berada di ruang-ruang keagamaan, tetapi telah menjadi kisah hidup yang membantu generasi muda untuk lebih memahami sejarah dan budaya lokal. Ketika dimasukkan dalam tur yang menjelajahi kota tua, peninggalan-peninggalan ini juga menjadi jembatan antara ingatan dan masa kini.

Dokter Dang Vu Canh Linh
Menurut Dr. Dang Vu Canh Linh, Wakil Direktur Institut Pelatihan Kader dan Penelitian Ilmiah - Komite Pusat Front Persatuan Nasional Vietnam, ini adalah manifestasi nyata dari model "ekonomi warisan", di mana nilai-nilai yang tampaknya sudah usang menjadi sumber daya baru untuk pembangunan. Setiap rumah kuno, setiap kerajinan tradisional, atau setiap kebiasaan hidup mengandung lapisan sedimen budaya tersendiri dan dapat menciptakan nilai ekonomi jika dieksploitasi dengan cara yang tepat.
Ia menekankan bahwa poin kuncinya terletak pada apakah komunitas tersebut tetap menjadi subjek warisan. Ketika orang terus hidup di dalam warisan tersebut, mengoperasikannya, dan memperoleh manfaat darinya, warisan tersebut tidak terlepas dari kehidupan tetapi terus ada sebagai bagian organik dari kota.
Pendekatan ini telah diterapkan di seluruh dunia sejak lama. Di Jepang, rumah-rumah Machiya di Kyoto direnovasi menjadi homestay, kedai teh, atau toko kerajinan tangan sambil tetap mempertahankan struktur arsitektur tradisionalnya. Singapura melestarikan sistem rumah toko lama di Chinatown, Kampong Glam, dan Little India, kemudian mengubah fungsinya untuk perdagangan, kreativitas, dan pariwisata. Korea Selatan mengembangkan kawasan Hanok di Seoul dan Jeonju menjadi ruang untuk akomodasi dan pengalaman budaya, mengintegrasikan warisan budaya ke dalam kehidupan modern alih-alih menempatkannya secara terpisah di museum.
Di Vietnam, Hoi An adalah contoh utamanya. Rumah-rumah kuno, jalanan kerajinan, balai pertemuan, dan kehidupan komunitas terintegrasi ke dalam pariwisata, menciptakan mata pencaharian bagi penduduk setempat dan melestarikan identitas perkotaan. Namun, Hoi An juga menghadirkan tantangan besar: tanpa kontrol yang tepat, komersialisasi dapat meningkatkan tekanan pada ruang hidup dan mengurangi keaslian warisan budaya.

Bapak Vuong Xuan Nguyen - Direktur Institut Ekonomi, Kebudayaan dan Seni
Dari perspektif ekonomi dan budaya, Bapak Vuong Xuan Nguyen, Direktur Institut Ekonomi, Kebudayaan, dan Seni, berpendapat bahwa aset terbesar Kota Tua bukanlah terletak pada tanahnya, melainkan pada keunikan budayanya. Wisatawan masa kini tidak mencari produk massal; mereka mencari pengalaman otentik, kisah nyata yang diceritakan oleh orang-orang nyata yang hidup berdampingan dengan warisan budaya. Ketika warisan budaya menjadi "bahasa bercerita," nilai ekonominya berkembang secara alami tanpa mengorbankan identitasnya.
Menurut Bapak Nguyen, masalahnya bukan terletak pada komersialisasi itu sendiri, tetapi pada bagaimana komersialisasi itu dilakukan. Sebuah rumah tua yang diubah menjadi hotel tanpa jiwa akan memiskinkan memori perkotaan. Tetapi sebuah ruang yang menceritakan sebuah kisah, sebuah toko yang melestarikan kerajinan tradisional, atau sebuah komunitas yang hidup dengan warisan budaya justru memperkaya warisan itu sendiri.
Jika dilihat dari kawasan Kota Tua Hanoi, arah yang jelas mulai terlihat: masyarakat tidak terlepas dari warisan budaya mereka, melainkan menggunakannya untuk menciptakan mata pencaharian. Ketika ingatan menjadi sumber daya untuk pembangunan, budaya dan ekonomi tidak bertentangan tetapi saling melengkapi.
Sumber: https://phunuvietnam.vn/giu-hon-pho-co-boi-dap-di-san-238260607120611006.htm







