Baru-baru ini, dokter di Departemen Remaja Pusat Kedokteran Perkembangan dan Kesehatan Mental (Rumah Sakit Anak Nasional) menerima dan merawat seorang gadis berusia 13 tahun yang menunjukkan perilaku melukai diri sendiri setelah mengalami krisis psikologis akibat hasil akademik yang mengecewakan. Menurut keluarganya, anak tersebut sebelumnya berperilaku baik dan berprestasi secara akademis, tetapi baru-baru ini ia sering begadang untuk belajar, cenderung mengurung diri di kamarnya, dan khawatir tidak mencapai hasil yang diharapkan oleh dirinya dan keluarganya. Setelah ujian yang mengecewakan, ia menjadi depresi, stres, dan menunjukkan perilaku berbahaya. Berkat intervensi tepat waktu dari keluarganya dan perawatan di rumah sakit, kesehatannya telah stabil, tetapi dokter mengatakan bahwa trauma psikologis tersebut masih membutuhkan pemantauan dan dukungan jangka panjang.
Profesor Madya, Dr. Ngo Anh Vinh - Kepala Departemen Remaja (Rumah Sakit Anak Nasional) mengatakan bahwa remaja mengalami perubahan psikofisiologis yang signifikan, sementara kemampuan mereka untuk mengendalikan emosi dan mengatasi tekanan belum sepenuhnya berkembang. Ketika menghadapi stres yang berkepanjangan, terutama tekanan akademis dan ujian, beberapa remaja dapat mengembangkan gangguan emosional, gangguan kecemasan, atau depresi. Yang mengkhawatirkan, banyak gejala awal yang tidak jelas, mudah diabaikan oleh orang dewasa, atau disalahartikan sebagai perubahan psikologis remaja yang normal.
Menurut rekomendasi Dr. Ngo Anh Vinh, orang tua harus memperhatikan perubahan yang tidak biasa pada anak-anak mereka selama masa persiapan ujian. Tanda-tanda peringatan dapat meliputi mudah tersinggung, gelisah, kecemasan berlebihan, rendah diri, sensitif terhadap kritik, kesulitan berkonsentrasi, insomnia, nafsu makan buruk, menghindari interaksi sosial, atau menarik diri ke kamar mereka. Beberapa anak mungkin mengalami gejala fisik seperti sakit kepala, mual, sakit perut, jantung berdebar, dan detak jantung cepat, tetapi pemeriksaan mungkin tidak mengungkapkan penyebab fisik yang jelas. Terutama bagi siswa yang fokus mempersiapkan ujian masuk kelas 10 atau ujian kelulusan SMA, tanda-tanda kelelahan belajar mudah diabaikan karena orang dewasa sering menganggapnya sebagai reaksi normal selama musim ujian.
Oleh karena itu, periode persiapan akhir saat ini bukanlah waktu untuk belajar sampai kelelahan. Ini adalah periode untuk mengkonsolidasi pengetahuan, menjaga kecepatan belajar yang stabil, meninjau kesalahan umum, dan menjaga kesehatan. Mendapatkan cukup tidur, makan makanan yang seimbang, melakukan olahraga ringan, menghindari begadang, dan menahan diri dari penggunaan kopi dan minuman energi yang berlebihan adalah prioritas. Belajar terus-menerus sambil cemas tidak sama dengan efektif; sebaliknya, kurang tidur dan stres berkepanjangan dapat mengganggu daya ingat, mengurangi konsentrasi, dan membuat siswa lebih rentan panik di ruang ujian.
Sekolah dan guru juga memainkan peran penting. Di hari-hari terakhir, memberikan dukungan psikologis, membimbing siswa dalam keterampilan mengerjakan ujian, dan mengingatkan mereka untuk menjaga kesehatan harus sama pentingnya dengan mengulas materi pelajaran. Guru wali kelas perlu memperhatikan siswa yang menunjukkan penurunan prestasi secara tiba-tiba, sering absen, takut sebelum ujian, menangis berlebihan, menarik diri, atau refleksi negatif terhadap kegagalan. Konseling sekolah, jika diimplementasikan secara efektif, dapat menjadi sistem pendukung untuk membantu siswa mengurangi stres pada waktu yang tepat.
Menurut dokter, ketika siswa menunjukkan kecemasan, depresi, atau perilaku melukai diri sendiri, keluarga harus membawa mereka ke fasilitas kesehatan mental, psikologi, atau medis pediatrik khusus untuk pemeriksaan, penilaian, dan intervensi tepat waktu. Tidak boleh ada penundaan karena takut akan stigma. Gangguan kecemasan dan depresi adalah masalah kesehatan yang dapat didukung dan diobati jika dideteksi sejak dini, terutama dengan kerja sama keluarga, sekolah, dan tenaga medis. Identifikasi dini tekanan berlebihan, dukungan yang tepat, dan pencarian bantuan profesional tepat waktu bila diperlukan adalah cara bagi orang tua dan sekolah untuk membantu siswa kelas 12 memasuki ujian dengan pola pikir yang lebih aman dan percaya diri.
Sumber: https://daidoanket.vn/giup-hoc-tro-vuot-ap-luc-thi-cu.html









Komentar (0)