Dari suara ketikan keyboard hingga irama nyanyian rakyat tradisional Vietnam.
Proyek "Goi Chau Thien Hoi" tidak dimulai dengan rencana besar, melainkan dari larut malam ketika para anggota masih mengetik di keyboard mereka, membuat sketsa ide untuk sebuah proyek budaya. Menurut Van Hong Thien, ketua tim, aktivitas "Generasi Z" inilah yang menjadi titik awal seluruh proyek.
Dari "laboratorium mengetik," kelompok tersebut secara bertahap menyadari kesamaan yang menarik antara kehidupan modern dan praktik keagamaan tradisional. Sementara suara ketikan pada keyboard merupakan ritme yang familiar bagi kaum muda, dalam ritual medium roh, suara drum dan tepukan—alat musik perkusi—memainkan peran utama dalam menghubungkan berbagai kerasukan roh.
Oleh karena itu, "perekaman" bukan hanya soal suara, tetapi juga titik persimpangan antara modernitas dan tradisi, antara manipulasi digital dan ritme sakral. Persimpangan ini membuka pendekatan baru: beralih dari sensasi, dari pengalaman suara dan getaran, menuju kesadaran.

Kelompok tersebut memilih pendekatan "umum ke spesifik": dimulai dengan elemen-elemen yang mudah dipahami seperti suara, visual, dan pengalaman artistik; kemudian secara bertahap membimbing penonton ke kedalaman sistem kepercayaan melalui musik tradisional, kostum, tarian, dan sistem simbolik. Salah satu sorotan proyek ini adalah kompetisi kreatif "Signifikansi Numerik", di mana kaum muda dapat mendekati sistem kepercayaan dari perspektif pribadi mereka sendiri. Kesenjangan antara "warisan" dan "kehidupan" menghilang, digantikan oleh permainan peran, dialog, dan reinterpretasi.
Pahami dengan benar sebelum menyebarkan pesan.
Salah satu tantangan terbesar dalam mengintegrasikan warisan budaya ke dalam ruang kontemporer adalah menemukan cara untuk menjadi kreatif sekaligus autentik. Sejak awal, tim dengan jelas menetapkan prinsip: pahami dengan benar sebelum menyebarluaskan. Pemanfaatan warisan budaya harus didasarkan pada penelitian yang cermat, rujukan silang dokumen, dan konsultasi ahli, menghindari pendekatan yang dangkal atau tidak akurat. Unsur-unsur sakral selalu dijaga pada jarak yang diperlukan, menghindari campur tangan atau komersialisasi.
Proses ini melibatkan kolaborasi para ahli dari Pusat Promosi Warisan Budaya Takbenda Vietnam, bersama dengan peneliti Le Van Thao dan Ngo Nhat Tang, serta para perajin dan desainer tradisional. Hal ini memberikan landasan bagi proyek tersebut untuk memastikan keakuratan sekaligus mempertahankan daya tariknya bagi khalayak muda.
Menurut Cao Tran Gia Xuan, salah satu anggota proyek, pelaksanaan proyek tersebut mengungkap sebuah realitas: kesenjangan antara kaum muda dan warisan budaya bukan terletak pada ketidakpedulian, tetapi pada cara penyampaiannya. Ketika kepercayaan ditempatkan dalam konteks yang familiar, visual, dan mudah dipahami, rasa ingin tahu akan langsung muncul.
"Banyak anak muda yang sebelumnya memiliki prasangka tentang kepercayaan agama telah mengubah perspektif mereka setelah mengalami proyek ini. Mereka mulai melihatnya bukan sebagai takhayul, tetapi sebagai sistem budaya berharga yang menggabungkan estetika, kepercayaan, dan kehidupan spiritual," kata Gia Xuan.
Hingga saat ini, proyek ini telah membangun komunitas yang terdiri dari lebih dari 700 anak muda yang mencintai budaya, bersama dengan ratusan ribu interaksi di platform digital. Angka-angka ini menunjukkan bahwa warisan budaya benar-benar dapat "hidup" dalam kehidupan kontemporer jika diceritakan dengan bahasa yang tepat. Bagi para anggota proyek, budaya bukan lagi sekadar halaman-halaman buku yang kering, tetapi telah menjadi sumber inspirasi kreatif, bahan untuk menceritakan kisah-kisah baru dalam bahasa generasi mereka sendiri.
Proyek ini telah dilaksanakan di tiga wilayah: Hanoi , Hue, dan Kota Ho Chi Minh, dan telah mendapat minat yang meningkat dari kalangan muda. Khususnya di Kota Ho Chi Minh (yang berlangsung pada awal April 2026), pameran dan kegiatan kreatif menarik banyak peserta muda.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/go-de-cham-vao-di-san-post848592.html






Komentar (0)