Dalam ranah musik rakyat, lagu-lagu tentang desa-desa di Vietnam selalu memiliki vitalitas yang abadi, menyentuh hati para pendengar dengan kesederhanaan dan ketulusannya.
Terinspirasi dari gambaran familiar tentang tanah kelahirannya, "My Duc, a Song" karya penulis Dang Van Canh - Sekretaris Komite Partai komune My Duc - membuka ruang musik yang lembut, membangkitkan suasana pedesaan yang mengalami transformasi setelah penggabungan batas administratif.
Lagu ini bukan hanya ajakan tulus untuk mengunjungi tanah air, tetapi juga perpaduan harmonis antara cinta terhadap negara, kebanggaan terhadap rakyatnya, dan tanah yang kaya akan tradisi budaya dan sejarah.
Lagu ini dimulai dengan undangan sederhana: "Datanglah berkunjung ke tanah kelahiranku..." Di balik baris ini tersembunyi bukan hanya keramahan, tetapi juga kerinduan untuk berbagi. Penulis tidak menggambarkan tanah kelahirannya dengan konsep-konsep besar, tetapi memulai dengan hal-hal yang paling familiar, seolah-olah membimbing seorang teman melalui setiap jalan, setiap alam kenangan.

Kecintaan penulis Dang Van Canh terhadap tanah kelahirannya terungkap melalui gambaran-gambaran spesifik dan akrab: dari "jalanan yang ramai" di Dai Nghia hingga "tanah pembelajaran, padi, dan bunga di keempat musim" di Dai Hung. Kata-kata yang sederhana namun menggugah menggambarkan My Duc yang sedang memodernisasi sekaligus melestarikan keindahan tradisionalnya.
Sangat mudah untuk melihat bahwa kecintaan ini dipupuk oleh pemahaman mendalam tentang setiap wilayah dan tempat. Phu Luu Te digambarkan dengan "Sungai Day yang berkelok-kelok," Hop Thanh disebut sebagai tanah "yang memiliki makna spiritual dan orang-orang berbakat," dan An Phu dikaitkan dengan citra "bunga teratai yang harum"... Setiap nama tempat bukan hanya sekadar nama, tetapi juga simbol budaya, alam, dan masyarakat tempat tersebut.
Dalam setiap lirik, pendengar dapat mengenali nama-nama tempat yang familiar, wilayah-wilayah yang dulunya memiliki nama sendiri, kini disatukan di bawah satu nama umum: My Duc.
Kemunculan nama-nama tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai pengantar tetapi juga sebagai pengingat akan berbagai bagian ingatan, yang kini hidup berdampingan dalam satu kesatuan baru. Yang berharga adalah perubahan batas administratif tidak mengurangi identitas; sebaliknya, hal itu dianggap sebagai perluasan.
Kedalaman lagu ini juga terletak pada cara penulisnya menggabungkan nilai-nilai budaya tradisional. Gambaran "pertunjukan wayang Tế Tiêu yang diwariskan dari generasi ke generasi" membangkitkan bentuk seni rakyat yang unik, yang sangat dipengaruhi oleh kehidupan pedesaan. Bersamaan dengan itu, "melodi Chèo yang menggema" bagaikan aliran sungai yang sunyi namun abadi, yang memelihara kehidupan spiritual masyarakat selama beberapa generasi. Nilai-nilai ini bukan hanya milik masa lalu, tetapi masih hadir, berkontribusi pada identitas masa kini.

Secara khusus, penulis menunjukkan rasa hormat yang besar ketika menyebutkan Kuil Raja Dinh, sebuah situs bersejarah suci tempat orang-orang mengenang kontribusi leluhur mereka. Lagu "mengenang rasa syukur kepada leluhur kita, tak pernah melupakannya" bukan hanya ungkapan rasa syukur tetapi juga mencerminkan prinsip "minum air, mengingat sumbernya," sebuah tradisi indah masyarakat Vietnam. Melalui ini, pendengar dapat merasakan kedalaman budaya dan semangat masyarakat My Duc: selalu menengok ke akar mereka, menghargai sejarah, dan melestarikan identitas nasional mereka.
Di balik lapisan ingatan dan budaya, lagu ini juga membuka ritme masa kini. Gambaran masyarakat My Duc muncul dengan persatuan, persaudaraan, dan keinginan untuk mengatasi kesulitan. Penulis menyebutkan "Rumah Peringatan Ho Chi Minh," sebuah tempat yang melestarikan kenangan dan ajaran Presiden Ho Chi Minh . Ini bukan hanya sebuah tempat, tetapi juga simbol spiritual, prinsip panduan bagi tindakan masyarakat setempat.
"Kami berjanji untuk mengikuti teladan-Nya" - sebuah lagu sederhana, namun merangkum tekad yang mendalam: untuk belajar dari dan meneladani teladan moral Paman Ho guna membangun tanah air yang semakin makmur dan indah.
Semangat ini ditekankan melalui lagu-lagu tentang persatuan: "Bergandengan tangan dalam solidaritas untuk memperkaya tanah air kita," "Bekerja bersama untuk bangkit." Bukan sekadar slogan, lirik-lirik ini mencerminkan realitas yang sedang berlangsung, di mana orang-orang beradaptasi dengan perubahan setelah penggabungan, membangun citra baru sambil melestarikan inti budaya mereka.
Dari daerah pedesaan yang murni agraris, My Duc saat ini secara bertahap berubah, berintegrasi ke dalam kehidupan modern sambil tetap melestarikan identitasnya yang unik. Penulis menyampaikan keyakinannya pada masa depan melalui kalimat penutup: "My Duc dengan percaya diri melangkah maju menuju masa depan" - sebuah penegasan yang penuh optimisme dan harapan.
Sumber: https://hanoimoi.vn/gui-tron-tinh-yeu-trong-tung-giai-dieu-747903.html











Komentar (0)