Dalam beberapa hari terakhir, gambar-gambar paus yang berburu di dekat pantai timur provinsi Dak Lak telah menarik perhatian besar dari penduduk setempat dan wisatawan. Banyak yang melihat ini sebagai pertanda positif bagi lingkungan laut karena makhluk laut besar kembali mendekat ke pantai. Bagi para nelayan di Vietnam Tengah, paus, atau "Ông Cá" (yang berarti "Dewa Paus"), telah lama memiliki makna spiritual khusus, dianggap sebagai dewa yang melindungi dan menyelamatkan para pelaut selama badai.
Namun, di samping kenikmatan, ada juga banyak pemandangan yang tidak menyenangkan. Banyak perahu yang membawa wisatawan dan kelompok fotografer terus-menerus mengikuti paus dari jarak yang sangat dekat untuk merekam video dan mengambil foto untuk diunggah ke media sosial. Di era media sosial yang berkembang pesat, setiap momen istimewa dengan mudah menjadi "tren." Tetapi dalam mengejar gambar yang menarik perhatian, banyak orang lupa bahwa alam bukanlah panggung untuk hiburan manusia.
Menurut para ahli, paus adalah hewan liar dengan kebiasaan hidup unik mereka sendiri dan sangat sensitif terhadap suara bawah laut. Pendekatan dan pengepungan serentak oleh banyak perahu dapat dengan mudah menyebabkan mereka panik, mengubah arah, atau meninggalkan area tempat mereka mencari makan. Masalahnya adalah, meskipun setiap orang mungkin berpikir mereka hanya semakin dekat, ketika banyak orang di puluhan perahu memiliki pemikiran yang sama, jarak aman dari hewan liar tersebut hampir tidak ada.
Bukan hanya soal paus; baru-baru ini, banyak cerita yang menunjukkan perilaku tidak beradab terhadap alam: mulai dari berkerumun untuk mengejar awan, menginjak-injak padang rumput, berkumpul dalam kelompok besar selama musim berbunga, membuang sampah di tempat wisata , hingga memberi makan hewan liar secara sembarangan untuk difoto… Semua berakar dari keinginan untuk mendapatkan pengalaman unik, tetapi tanpa disengaja menciptakan lebih banyak tekanan pada lingkungan alam. Banyak orang masih mengacaukan "mencintai alam" dengan "memiliki alam." Ini bukan tentang mendekat sedekat mungkin, menyentuh sebisa mungkin, atau mengambil gambar paling jelas untuk menunjukkan rasa hormat kepada alam. Terkadang, kesopanan dimulai dengan mengetahui cara menjaga jarak.
Penampakan paus di dekat pantai adalah anugerah langka dari laut bagi umat manusia. Namun, anugerah ini akan sulit dilestarikan jika manusia mendekati alam dengan rasa ingin tahu yang berlebihan dan kurangnya kendali. Perilaku beradab terhadap alam terkadang dimulai dari hal-hal yang sangat kecil: tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak habitat hewan liar, dan tidak mengeksploitasi alam untuk hiburan pribadi. Hanya dengan menghormati alam, manusia dapat melestarikan momen-momen indah dan alami dari laut dan langit.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/ung-xu-van-minh-with-thien-nhien-post854235.html







Komentar (0)