Selain dampak negatifnya terhadap lingkungan dan sumber daya, kecerdasan buatan (AI) dengan cepat menjadi alat berisiko tinggi di bidang keamanan siber. Sebagai bukti, OALABS Research baru-baru ini mengungkap kasus di mana seorang peretas amatir Ethiopia menggunakan agen AI dari Claude dan OpenAI Codex untuk melakukan serangkaian serangan siber.
Meskipun perintah tersebut penuh dengan kesalahan ejaan dan tata bahasa serta hanya memberikan instruksi yang samar, individu ini berhasil membobol sejumlah server pribadi. Peretas ini menyusup ke data aman setidaknya 14 perusahaan dan bahkan berencana untuk mencuri mata uang kripto senilai $4 juta.

Peretas amatir menggunakan Claude dan Codex untuk menyerang 14 bisnis.
Peretas dan taktik mereka dalam mengeksploitasi AI untuk melewati penghalang sistem.
Para penyerang dengan mudah melewati langkah-langkah keamanan yang ketat dari model Claude Opus melalui manipulasi psikologis. Dengan menyamar sebagai anggota yang meneliti kerentanan keamanan, para peretas menipu chatbot AI agar secara otomatis memberikan seluruh kode sumber serangan. Sistem tersebut bahkan menguraikan metode eksploitasi terperinci seperti pemerasan, penjualan data, dan secara langsung menginstruksikan cara mencuri data. Chatbot ini hanya memblokir satu permintaan yang sengaja menargetkan akun digital pribadi dari keluarga tertentu.
Insiden yang tidak biasa ini terungkap sepenuhnya setelah seorang korban yang servernya diretas menghubungi para ahli OALABS . Yang menarik, identitas peretas muda tersebut terungkap hanya karena ia sebelumnya meminta AI untuk mengedit profil pribadinya. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran mendalam tentang kemudahan akses publik terhadap alat-alat teknologi canggih ini tanpa memerlukan pengetahuan khusus. Pengguna dapat dengan mudah menggunakan perantara AI lain untuk membuat perintah serangan berbahaya serupa.
Saat ini, raksasa teknologi seperti Anthropic dan OpenAI masih buntu dalam menemukan solusi pasti untuk mencegah serangan semacam itu. Memperketat batasan model akan secara langsung menghilangkan kesempatan bagi para peneliti keamanan sejati untuk memperkuat sistem. Sebaliknya, mempertahankan status quo akan membuat garis antara penggunaan etis dan keuntungan ilegal menjadi hambatan yang tak teratasi bagi AI. Menemukan solusi optimal untuk mencegah niat jahat pengguna tetap menjadi tantangan yang belum terpecahkan.
Menurut surat kabar Thanh Nien
Sumber: https://baoangiang.com.vn/hacker-nghiep-du-dung-chatbot-ai-tan-cong-14-cong-ty-a490360.html








