
|
Hakimi menjalani musim yang gemilang bersama PSG. |
Pada tanggal 23 September di Paris, Ballon d'Or 2025 akan diumumkan. Di antara kandidat yang masuk daftar pendek, Achraf Hakimi telah menarik perhatian yang cukup besar bukan hanya karena penampilannya yang brilian musim lalu, tetapi juga karena kontroversi hukum yang menghantui kariernya. Perpaduan antara aspek terang dan gelap ini menciptakan paradoks: pemain Maroko ini memiliki kesempatan untuk membuat sejarah, tetapi juga terjebak dalam pusaran kontroversi di luar lapangan.
Musim yang langka dan penuh ledakan.
Dari sudut pandang profesional, Hakimi benar-benar menjalani musim yang gemilang bersama Paris Saint-Germain. Meskipun bermain sebagai bek kanan, ia menjadi ancaman serangan paling berbahaya bagi klub ibu kota Prancis tersebut, mencetak 11 gol dan memberikan 16 assist, serta memberikan kontribusi signifikan pada empat gelar, terutama Liga Champions – gelar yang telah diidamkan PSG selama bertahun-tahun.
Tidak hanya di level klub, Hakimi juga bersinar di tim nasional Maroko. Di Olimpiade Paris 2024, ia memainkan peran penting dalam membantu tim meraih medali perunggu setelah kemenangan telak 6-0 atas Mesir dalam pertandingan perebutan tempat ketiga. Stamina, kecepatan, dan kemampuan dukungan serangannya menjadikannya salah satu bek kanan terlengkap di dunia saat ini.
Performa ini telah menempatkan Hakimi di antara kandidat utama peraih Ballon d'Or, bersama nama-nama terkenal seperti Lamine Yamal, Ousmane Dembele, dan Erling Haaland.

|
Namun, masalah di luar lapangan mengancam peluang Hakimi untuk memenangkan Ballon d'Or. |
Namun, tepat pada tahap krusial ketika media internasional memberikan suara, kasus pemerkosaan Hakimi dari tahun 2022 tiba-tiba kembali mencuat. Meskipun lebih dari dua tahun berlalu tanpa bukti baru, jaksa di Nanterre menyatakan bahwa mereka memiliki "alasan yang cukup" untuk membawa kasus tersebut ke pengadilan.
Kasus ini menjadi kontroversial ketika penuduh berulang kali menolak pemeriksaan medis , menolak menyerahkan ponselnya, dan mengubah kesaksiannya. Sebaliknya, Hakimi mempertahankan ketidakbersalahannya, mengklaim bahwa ia dijebak. Ia menerima dukungan dari beberapa mantan rekan setimnya, termasuk Kylian Mbappé.
Meskipun belum ada kesimpulan akhir yang dicapai, munculnya kembali kasus ini di saat yang begitu sensitif telah membuat citra Hakimi menjadi sorotan.
Di antara panggung ketenaran dan bayang-bayang keraguan
Dari perspektif sepak bola, sedikit orang yang akan menyangkal bahwa Hakimi berada di puncak kariernya. Seorang bek kanan yang masuk daftar nominasi Ballon d'Or sudah langka, dan sekarang ia ditemani oleh koleksi gelar yang mengesankan dan statistik yang menarik. Namun, penghargaan ini bukan hanya tentang keterampilan profesional, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh citra dan opini publik.
Di "pengadilan media," tuduhan—bahkan yang belum terbukti—dapat sangat memengaruhi peluang seorang pemain. Kasus Hakimi dengan jelas menggambarkan hubungan kompleks antara prestasi olahraga dan kehidupan pribadi, di mana noda kecil dapat menutupi seluruh musim yang cemerlang.

|
Saat ini, Hakimi adalah salah satu bek sayap terbaik di dunia. |
Mungkinkah Hakimi menjadi bek pertama sejak Fabio Cannavaro (2006) yang memenangkan Ballon d'Or? Dari sudut pandang profesional, ia sepenuhnya layak dipertimbangkan. Namun, mengingat konteksnya, sulit membayangkan seorang pemain yang terlibat dalam proses hukum menerima dukungan bulat dari pers.
Kasus Hakimi juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar: Apakah Ballon d'Or pada akhirnya merupakan penghargaan yang menghormati pemain atau pribadinya? Seiring sepak bola semakin terkait erat dengan media, garis antara bakat dan citra menjadi semakin kabur.
Achraf Hakimi memasuki upacara penghargaan tahun ini dalam keadaan yang tidak biasa: di satu sisi, statistik yang cemerlang, dan di sisi lain, kasus yang kontroversial dan belum terselesaikan. Apa pun hasilnya, kisahnya telah menunjukkan bahwa Ballon d'Or bukan hanya ukuran bakat, tetapi juga panggung di mana ketenaran dan keraguan berjalan beriringan.
Sumber: https://znews.vn/hakimi-ung-vien-qua-bong-vang-bi-phu-bong-boi-tranh-cai-post1587275.html