
Ketika saya masih kecil, setiap kali pohon pomelo berbunga harum, saya sering mengikuti ibu saya ke kebun untuk memetik bunga yang gugur. Kelopak kecil, putih bersih, dan lembut itu tergeletak di antara daun-daun kering, masih membawa aroma murni pagi hari. Ibu saya akan dengan lembut mengumpulkannya, membawanya ke dalam rumah, dan meletakkan beberapa kuntum bunga di dalam mangkuk berisi air di atas meja. Aromanya akan meresap ke setiap sudut, aroma lembut yang membuat ruangan menjadi damai dan menyenangkan. Pada beberapa sore, ketika sinar matahari di luar telah mereda, ibu saya akan dengan teliti memilih bunga-bunga yang paling segar untuk diseduh menjadi teh. Bunga-bunga itu dicuci dengan lembut, dicampur dengan daun teh kering, dan dibiarkan merendam semalaman. Keesokan paginya, ketika diseduh, teh panas akan memiliki aroma bunga pomelo yang halus dan lembut. Aromanya bercampur dengan teh, tidak terlalu kuat tetapi menyegarkan, seolah-olah melestarikan ritme santai hari-hari musim semi. Ibu saya juga menggunakan bunga pomelo untuk menyeduh nasi ketan untuk membuat nasi ketan atau kue, sehingga hidangan sederhana ini akan menangkap aroma kebun dengan sempurna di setiap butir nasi. Setiap kali ia membuka pot bunga itu, aroma lembut akan tercium samar-samar, tetap tercium di dapur kecil itu. Tak pernah melewatkan musim berbunga, nenekku masih terbiasa menambahkan beberapa kuntum bunga pomelo ke dalam sepanci air hangat untuk mencuci rambutnya, sehingga setelah kering, rambutnya akan tetap menyimpan aroma lembut taman pedesaan. Seperti janji bulan Maret, aroma bunga pomelo dengan tenang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga kami, tanpa kemeriahan atau kemewahan, menjadi kenangan damai tentang pedesaan.
Bulan Maret juga merupakan waktu ketika para pedagang mulai membawa keranjang berisi bunga pomelo ke jalanan. Keranjang-keranjang kecil berisi bunga-bunga putih itu meninggalkan aroma lembut yang terbawa angin ke mana pun mereka pergi. Orang-orang yang lewat terkadang hanya perlu berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam menghirup aromanya, untuk menemukan kedamaian di tengah hiruk pikuk kehidupan.
Hanya dalam beberapa minggu, kelopak putih akan perlahan gugur, memberi jalan bagi tunas bunga jeruk bali muda untuk mulai terbentuk. Tetapi mungkin justru singkatnya waktu mekarnya bunga jeruk bali inilah yang membuatnya begitu berkesan. Saat aroma bunga tercium di tengah semilir angin bulan Maret, kita tiba-tiba menyadari bahwa musim semi sedang melewati hari-hari terindahnyanya.
Sumber: https://baohungyen.vn/hoa-buoi-vuon-nha-3193147.html






Komentar (0)