Selain sebagai kegiatan artistik semata, model ini juga berkontribusi dalam menumbuhkan patriotisme, kebanggaan nasional, dan prinsip "minum air dan mengingat sumbernya" pada generasi muda melalui metode yang mudah dipahami dan kreatif.
Menghubungkan sejarah melalui setiap sapuan kuas.
Awalnya, gagasan "Menggambar Potret Para Pemimpin Partai Sepanjang Sejarah" bermula dari keinginan untuk membantu siswa menjadi lebih percaya diri dalam melukis potret, sebuah mata pelajaran yang sering dianggap sulit di kelas seni. Sebagian besar siswa terbiasa menggambar pemandangan, pepohonan, atau adegan sehari-hari. Namun, melukis potret membutuhkan pengamatan yang tajam, emosi, dan pemahaman mendalam tentang subjeknya.
![]() |
| Potret Presiden Ho Chi Minh dan anak-anak Vietnam ini dibuat oleh siswa-siswi Sekolah Menengah Duong Van Thi selama jam pelajaran mereka. |
![]() |
| Nguyen Thi Ngoc Nhu, siswa kelas 9/4 di Sekolah Menengah Duong Van Thi, dengan potret pahlawan Nguyen Van Troi. |
Memahami hal ini, Ibu Phu tidak memaksakan atau mewajibkan siswa untuk menggambar seperti dirinya. Yang paling beliau harapkan adalah mereka berani mencoba, berani mengekspresikan emosi dan cinta mereka melalui setiap sapuan kuas. Baginya, setiap lukisan bukan hanya latihan seni, tetapi juga cara bagi siswa untuk terhubung dengan sejarah bangsa melalui emosi yang paling tulus.
Nguyen Thien Phu, seorang siswa kelas 9/3, mengatakan: “Menggambar potret Presiden Ho Chi Minh dan para pemimpin lainnya lebih sulit daripada menggambar pemandangan. Saat menggambar pemandangan, Anda dapat merasakan dan menciptakan dari perspektif Anda sendiri, tetapi dengan potret, terutama potret para pemimpin, seniman perlu menyampaikan karakter, ciri khas, dan bahkan keseriusan subjek. Bagi saya, itu membutuhkan lebih banyak konsentrasi dan ketelitian. Sebelum menggambar, saya biasanya meneliti sejarah, kehidupan, dan kontribusi orang tersebut. Saya pikir penelitian ini tidak hanya membantu saya menggambar gambar secara akurat tetapi juga membantu saya memahami lebih dalam nilai, dedikasi, dan hal-hal baik yang telah ditinggalkan generasi sebelumnya. Ketika saya memahami orang tersebut, saya merasa bahwa setiap goresan kuas tidak hanya menciptakan sebuah gambar tetapi juga mengungkapkan rasa hormat dan terima kasih saya.”












Komentar (0)