Inti sari musim semi terletak pada interaksi magis antara bumi dan langit, terutama pada gerimis lembut yang membawa kelembapan dari tanah. Berkat tetesan kecil inilah ranting-ranting yang gundul sepanjang musim dingin perlahan mulai bertunas, menghadirkan tunas hijau yang semarak bagi dunia.
Bagi mereka yang tinggal jauh dari rumah, aroma yang paling mendalam dan tak terlupakan adalah aroma yang berasal dari dapur yang hangat – tempat ibu dengan penuh kasih mengumpulkan dan menyiapkan semua kasih sayangnya untuk menghadirkan perayaan Tet (Tahun Baru Imlek) yang benar-benar hangat dan bermakna bagi seluruh keluarga. Itu adalah aroma harum yang kaya dari panci berisi air wangi yang digunakan ibu untuk membersihkan altar dan perapian dapur. Dalam kepulan asap itu terkandung sari daun jeruk nipis, serai, kemangi, dan kulit pomelo – rempah-rempah sederhana dari kebun rumah.
![]() |
| Kue mangga - salah satu kudapan lezat untuk Tết (Tahun Baru Imlek) - Foto: Nh.V |
Ibuku dengan teliti mengiris tipis kulit jeruk mandarin dan pomelo, lalu memanggangnya hingga berwarna cokelat keemasan, mencampurnya dengan buah sabun yang sudah dipanggang, dan menyeduhnya menjadi ramuan pencuci rambut yang harum. Orang-orang di kampung halamanku selalu percaya bahwa mandi dengan air yang harum ini adalah cara untuk membersihkan semua debu dan kekhawatiran tahun yang lalu dan menyambut hari-hari baru yang penuh sukacita dan harapan.
Esensi Tet (Tahun Baru Imlek Vietnam) tidak hanya hadir dalam warna-warna bunga dan dedaunan, tetapi juga terwujud dalam suguhan lezat dan menenangkan dari tanah air. Yang paling familiar adalah aroma jahe manisan. Hanya sentuhan aroma tajam itu saja sudah membangkitkan kerinduan mendalam akan rumah, mendorong mereka yang jauh untuk segera kembali dan menemukan perasaan damai seperti berada dalam pelukan ibu mereka.
Di tengah aroma hangat itu terdapat cita rasa selai kelapa yang kenyal, manis, dan harum—camilan yang paling ditunggu-tunggu anak-anak setiap musim semi. Melalui tangan terampil para wanita, serat kelapa putih yang bersih diubah menjadi warna-warna cerah, yang dipilih dengan cermat dari sari tumbuhan dan rempah-rempah. Ada hijaunya daun pandan yang rimbun, oranye cerah wortel, merah muda pekat bit, merah buah gac, dan kuning cerah markisa... Para nenek dan ibu dengan terampil membungkus setiap serat kelapa menjadi bunga mawar berwarna-warni, menjadikan nampan selai Tet tidak hanya kaya rasa tetapi juga sebuah karya seni yang indah yang dipenuhi dengan dedikasi yang tulus.
Dunia cita rasa musim semi itu menjadi semakin semarak dan beragam berkat kehadiran berbagai macam hidangan dari kebun rumah. Ada selai wortel yang renyah, selai melon musim dingin yang lembut, selai mangga yang harum… Semuanya berpadu menciptakan permadani warna dan rasa yang kaya, dengan rasa asam, pedas, menyegarkan, dan manis yang terjalin, mewujudkan semua suka duka kehidupan. Di momen harmonis tahun baru, setiap selai bukan hanya suguhan lezat untuk dinikmati bersama secangkir teh, tetapi juga menyampaikan harapan keberuntungan dan harapan untuk perjalanan yang memuaskan dan sejahtera di masa depan.
Selai Tet menghadirkan rasa manis, sementara aroma banh chung hijau (kue beras tradisional Vietnam) adalah rasa terhangat yang membekas dalam perayaan Tet. Itulah mengapa bait: "Daging babi berlemak, acar bawang, bait merah / Tiang Tahun Baru, petasan, banh chung hijau" telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jiwa, tertanam dalam hati generasi-generasi masyarakat Vietnam. Kebahagiaan terkadang hanyalah perasaan berkumpul di sekitar api unggun yang hangat pada malam ketiga puluh tahun lunar, menghirup aroma daun pisang yang dimasak bercampur dengan aroma harum nasi ketan yang baru dimasak dalam asap tipis. Momen paling menggembirakan adalah ketika kue-kue panas dikeluarkan dari panci. Setiap pasang kue berbentuk persegi sempurna berwarna hijau cerah bukan hanya hasil dari perawatan yang teliti, tetapi juga persembahan tulus kepada leluhur, menyampaikan rasa syukur dan harapan untuk tahun baru yang damai dan bahagia.
Salah satu cita rasa khas perayaan Tet di kampung halaman saya adalah kue mangga—camilan sederhana yang terbuat dari tepung singkong, telur, dan gula pasir. Saat dimasak sempurna di atas api arang, kue berwarna cokelat keemasan ini mengeluarkan aroma yang kaya, harum, dan tak tertahankan. Meskipun saat ini para juru masak rumahan dengan terampil menambahkan banyak rasa baru seperti jeruk atau beras muda, tekstur renyah dan sederhana dari kue mangga tradisional tetap menjadi cita rasa yang berharga dan membangkitkan nostalgia bagi mereka yang jauh dari rumah.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan, Tet (Tahun Baru Imlek) selalu menawarkan momen istimewa untuk refleksi yang tenang, memungkinkan kita untuk memperlambat langkah dan menemukan kedamaian batin. Di ruang sakral altar leluhur setiap keluarga, aroma dupa telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi. Saat asap halus berputar di sekitar altar leluhur, sebuah hubungan magis antara masa kini dan akar kita tiba-tiba terjalin. Aroma lembut ini bertindak seperti balsam spiritual, membawa rasa damai setelah setahun penuh dengan kekhawatiran dan kecemasan hidup. Bagi setiap orang Vietnam, dupa bukan hanya aroma kenangan tetapi juga jembatan rasa syukur, penghormatan sakral yang diberikan keturunan dengan penuh hormat kepada leluhur mereka di awal tahun baru.
Meskipun waktu berlalu dan segala sesuatu berubah mengikuti irama kehidupan modern, esensi musim semi dan aroma Tet (Tahun Baru Vietnam) selalu mempertahankan semangat uniknya. Aroma ini terjalin dari hembusan alam, dari tangan-tangan telaten para ibu, dari kehangatan api dapur, dan dari keindahan tradisional tanah air kita. Aroma ini adalah jangkar jiwa kita, mengingatkan kita masing-masing bahwa: Ke mana pun kita pergi, selama kita kembali ke akar kita, Tet akan selalu hadir, hangat, dan lengkap.
Nh.V
Sumber: https://baoquangtri.vn/van-hoa/202603/huong-xuan-56b6548/








Komentar (0)