Menurut Profesor Syed Munir Khasru - Ketua IPAG Asia - Pasifik (Australia), dalam konteks meningkatnya permintaan kecerdasan buatan (AI) dan keamanan siber, biaya yang kompetitif, sumber energi terbarukan, dan netralitas politik merupakan faktor-faktor yang membuat Asia Tenggara menarik.
Didorong oleh berbagai sektor, mulai dari keuangan, kesehatan, hingga manufaktur, permintaan akan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) berkembang pesat di seluruh dunia. Menurut Profesor Syed Munir Khasru, belanja AI global diperkirakan mencapai $632 miliar pada tahun 2028. Lonjakan ini khususnya terlihat di Asia Tenggara, di mana pemerintah dan sektor swasta mengadopsi AI dan keamanan siber untuk melindungi aset digital, meningkatkan otomatisasi, dan mendorong ketahanan ekonomi .
Keamanan siber menjadi fokus utama di kawasan ini. Biaya global untuk memerangi kejahatan siber diperkirakan mencapai $10,5 triliun tahun depan, sehingga menciptakan kebutuhan mendesak akan kerangka kerja keamanan yang ditingkatkan.
Asia Tenggara menjadi pemain kunci dalam lanskap infrastruktur digital global, didorong oleh lonjakan permintaan untuk AI dan keamanan siber. Perusahaan teknologi besar semakin memilih untuk menempatkan pusat data mereka di kawasan ini, mendorong pertumbuhan layanan digital, komputasi awan, dan kapabilitas AI.
Tren ini berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan tenaga kerja terampil di berbagai bidang seperti rekayasa pusat data, pengembangan AI, dan keamanan siber.
Asia Tenggara dengan cepat menjadi tujuan ideal untuk pusat data, berkat biaya operasionalnya yang lebih rendah, akses ke energi terbarukan, dan netralitas politiknya . Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Vietnam memimpin dengan peningkatan infrastruktur digital. Permintaan pusat data diperkirakan akan tumbuh 20% per tahun di Asia Tenggara selama beberapa tahun ke depan, terutama didorong oleh kebutuhan untuk mendukung inisiatif AI dan layanan komputasi awan.
Sebuah ladang surya terapung di lepas pantai utara Singapura. Dengan pusat data raksasa yang akan meningkatkan kebutuhan energinya yang sudah membengkak, Singapura melirik gurun Australia dan hutan hujan Malaysia untuk energi bersih. Foto: AFP |
Singapura tetap menjadi tujuan utama pusat data, menawarkan infrastruktur yang unggul dan rezim regulasi yang stabil. Meskipun ada moratorium dari tahun 2019 hingga 2022 karena masalah lingkungan, Singapura saat ini memiliki kapasitas pusat data sekitar 1,4 gigawatt (GW) dan diperkirakan akan menambah 300 megawatt lagi dalam beberapa tahun mendatang. Proyek-proyek terbaru termasuk dari Microsoft, Equinix, dan ByteDance.
Malaysia muncul sebagai pesaing regional, menarik investasi dari raksasa teknologi seperti Amazon Web Services (AWS) dan Microsoft. Dengan rencana untuk mencapai kapasitas pusat data sekitar 1,6 GW, pasar Malaysia diperkirakan akan tumbuh pesat. AWS sendiri telah berkomitmen sebesar $6 miliar untuk membangun kawasan cloud dan pusat data di seluruh negeri.
Thailand dan Indonesia juga mendapatkan perhatian yang signifikan. AWS telah mengumumkan investasi sebesar $5 miliar di Thailand untuk membangun wilayah cloud baru, sementara Indonesia menjadi pemain utama dalam upaya digitalisasinya di berbagai industri.
Kawasan Asia lainnya juga mengalami kemajuan yang signifikan, meskipun dengan laju yang lebih lambat. Negara-negara seperti India, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan tengah memperluas infrastruktur digital mereka untuk memenuhi permintaan global akan AI dan keamanan siber.
Tiongkok, ekonomi terbesar di Asia, memiliki jejak pusat data yang sangat besar, sebagian besar digerakkan oleh raksasa teknologi seperti Alibaba Group Holding, Tencent, dan Huawei Technologies. Negara ini berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan kapabilitas AI dan keamanan siber, dengan pemerintah mendorong kedaulatan digital dan penyimpanan data lokal.
Jepang dan Korea Selatan juga merupakan pemimpin dalam riset AI dan keamanan siber, didorong oleh kebijakan pemerintah yang kuat dan ekosistem teknologi yang mapan. Fokus Jepang pada AI dan robotika telah memposisikan negara ini sebagai pemimpin global dalam aplikasi AI, sementara pasar keamanan siber Korea Selatan diperkirakan akan tumbuh signifikan, dengan nilai pasar forensik digital saja mencapai $3,52 miliar pada tahun 2031.
India berada di garda terdepan revolusi digital Asia Selatan. Permintaan daya pusat data negara ini diperkirakan mencapai 15 GW pada tahun 2030, dan pasar pusat data negara ini diperkirakan akan tumbuh menjadi $21,87 miliar pada tahun 2032. Investasi dari perusahaan-perusahaan seperti Google, yang telah menjanjikan $10 miliar kepada Dana Digitalisasi India, dan AWS, yang berencana menginvestasikan $12,7 miliar untuk pusat data di negara ini, memposisikan India sebagai pemain kunci dalam AI dan keamanan siber.
Meningkatnya permintaan dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, merupakan pendorong utama investasi di Asia Tenggara dan kawasan lainnya. Google, Microsoft, dan AWS telah memainkan peran penting dalam memperluas infrastruktur digital Asia. Permintaan keamanan siber dari Amerika Serikat dan Eropa juga mendorong investasi di negara-negara Asia Selatan. India, khususnya, sedang berkembang sebagai pusat keamanan siber, dengan perusahaan-perusahaan seperti Palo Alto Networks dan IBM berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan lokal.
Karena ancaman dunia maya global meningkat, perusahaan-perusahaan Barat berupaya mengalihdayakan layanan keamanan dunia maya ke negara-negara Asia Selatan, yang biaya operasionalnya lebih rendah dan tenaga kerja tersedia melimpah.
Karyawan perusahaan solusi keamanan TI India, Innefu Labs, bekerja di New Delhi. India menjadi pemain kunci di bidang AI dan keamanan siber. Foto: AFP |
Meskipun kemajuan pesat di Asia Tenggara, tantangan tetap ada bagi masing-masing negara. Biaya operasional Singapura yang tinggi, terutama untuk pembangunan pusat data ($11,40/watt dibandingkan dengan $8,40/watt di Malaysia), dapat mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan alternatif seperti Johor di Malaysia. Seiring keberlanjutan menjadi pertimbangan utama bagi operator pusat data, ketergantungan energi beberapa negara Asia Tenggara menjadi isu lain, terutama dengan semakin meningkatnya penekanan pada energi hijau.
Di sisi lain, Tiongkok, yang terlibat dalam tarik-menarik teknologi dengan kekuatan Barat, berfokus pada kemandirian inovasi AI alih-alih memenuhi permintaan global. Sementara itu, di India, tantangan seperti pasokan listrik yang tidak stabil, masalah konektivitas internet, dan kekurangan tenaga terampil semakin nyata.
Ledakan pusat data di Asia Tenggara memposisikan kawasan ini sebagai pusat digital, menarik investasi signifikan dari perusahaan teknologi global. Biaya yang lebih rendah dan netralitas geopolitik di kawasan ini menjadikannya tujuan yang menarik bagi infrastruktur AI dan keamanan siber. Seiring dengan terus meningkatnya permintaan layanan digital dari Barat, perekonomian Asia akan diuntungkan, meskipun laju dan skala pertumbuhannya akan bervariasi tergantung pada tantangan dan peluang unik masing-masing negara.
[iklan_2]
Sumber: https://baoquocte.vn/khi-ai-dang-lam-mua-lam-gio-tren-the-gioi-chau-a-se-huong-loi-phan-tich-290331.html
Komentar (0)