Ibu saya mulai melupakan hal-hal kecil di rumah. Ia lupa menuangkan air saat memasak nasi, lupa kunci yang tertinggal di meja, lupa percakapan yang baru saja dilakukannya beberapa menit sebelumnya... Awalnya, saya pikir itu hal biasa, kelupaan karena usia tua. Tetapi secara bertahap, kelupaan ini menjadi semakin terlihat, perlahan dan pasti, seolah-olah waktu perlahan-lahan mengambil sesuatu darinya.
Setiap kali berbicara dengan cucu-cucunya, ibuku akan bertanya, "Bich, Ngan kelas berapa tahun ini?", "Apakah kamu pergi ke sekolah hari ini?", "Apakah kamu pulang untuk Tet tahun ini?"... meskipun dia telah menanyakan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu berkali-kali. Selama kunjungan kami ke rumah, duduk di samping ibuku di beranda, mendengarkan bisikannya bercerita tentang desa dan keluarga, dia akan mengulang cerita yang baru saja selesai diceritakannya, seperti siklus yang tak berujung. Aku mendengarkan dengan saksama, jantungku berdebar kencang setiap saat.
Ibu saya telah bekerja keras dan berkorban sepanjang hidupnya untuk keluarga dan anak-anaknya. Sekarang, menjelang usia tua, saya merasa sedih menyaksikan wanita yang dulunya kuat, lincah, cakap, dan penuh sumber daya menjadi lambat dan lesu. Meskipun saya tahu bahwa usia tua membawa kelupaan dan kesepian, rasa takut yang samar muncul di hati saya: bahwa suatu hari nanti, dia mungkin akan melupakan anak-anak dan cucu-cucunya. Saya merasa tak berdaya, tidak mampu menahan waktu, tidak mampu membuat ibu saya tetap awet muda selamanya.
Hatiku sakit ketika ibuku lupa makan, tetapi tetap ingat untuk mengingatkan anak-anak dan cucu-cucunya untuk makan dengan benar setiap hari. Dia lupa jalan pulang, tetapi ingat tanggal ulang tahunku sampai ke menitnya. Dia lupa hal-hal yang terjadi dalam sehari, tetapi dia mengingat kenangan masa kecilku dengan sempurna dan menceritakannya secara detail seolah-olah itu terjadi kemarin. Meskipun mengetahui semua ini, aku masih diam-diam percaya bahwa meskipun waktu mungkin membuatnya melupakan beberapa kenangan, waktu tidak akan pernah bisa menghilangkan kasih sayangnya.
Saat ibuku mulai lupa, aku belajar kesabaran dan kasih sayang. Jika awalnya aku hanya ingin membentaknya, sekarang aku tahu bagaimana mendengarkan dengan sabar. Jika awalnya aku acuh tak acuh dan tidak peduli padanya, sekarang aku tahu bagaimana bersikap proaktif dan peduli. Ibuku berkali-kali mengajarkanku pentingnya kesabaran, dan dia juga berkali-kali bersabar denganku; sekarang akulah yang akan bersabar dan penuh kasih sayang padanya.
Para lansia sangat rentan terhadap kesepian, terutama saat ingatan mereka perlahan memudar. Terkadang, ibu saya duduk diam untuk waktu yang lama, seolah mencoba mempertahankan sesuatu yang baru saja hilang dari ingatannya. Terkadang ia bahkan lupa diri. Pada saat ini, saya mengerti bahwa yang paling dibutuhkannya bukanlah obat, melainkan makan bersama keluarga, sentuhan hangat dari genggaman tangan, dan percakapan berbisik dengan anak-anak dan cucu-cucunya… Sesederhana itu, namun itu merupakan tindakan kebaikan yang begitu lembut bagi ibu saya.
Mungkin suatu hari nanti, ibuku akan lupa namaku. Wanita yang dulunya mengingat segala sesuatu tentang anak-anak dan cucu-cucunya kini akan menanyakan nama, usia, tempat tinggal, dan pekerjaan mereka… Memikirkan hal itu, rasa sedih yang mendalam muncul dalam diriku, sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aku meyakinkan diriku sendiri: tidak apa-apa, karena ketika ibuku mulai lupa, itu bukanlah akhir dari cinta, tetapi hanya babak lain dalam perjalanan hidupku, di mana aku perlu memperlambat langkah, menjadi lebih lembut, dan mencintainya dengan lebih sepenuh hati.
Saya percaya bahwa meskipun ibu saya mungkin melupakan masa lalu, melupakan hal-hal kecil dalam hidup, dia pasti tidak akan pernah lupa bagaimana mencintai anak-anak dan cucu-cucunya, baik melalui tatapannya, senyumannya, atau jabat tangan yang lemah. Saya menghargai waktu yang saya habiskan bersama ibu saya sebagai cara untuk menghargai dan melestarikan momen-momen berharga yang dihabiskan bersama keluarga, orang-orang terkasih, dan bersamanya. Mencintai dan merawatnya adalah cara saya membalas sebagian kecil dari cinta tak terukur yang telah dia berikan kepada saya, keluarga saya, dan kehidupan itu sendiri… sebelum dia mulai lupa.
Dataran Hijau
Sumber: https://baodongnai.com.vn/van-hoa/chao-nhe-yeu-thuong/202512/khi-me-bat-dau-quen-1f30f04/






Komentar (0)