Namun, "gempa bumi AI" telah mengubah segalanya lebih cepat dari yang diperkirakan. Karena AI dapat menulis laporan berita keuangan, meringkas perkembangan perang, atau meringkas konferensi pers hampir secara real time, nilai "berita murni" mulai merosot. Yang dicari publik sekarang bukan lagi hanya informasi, tetapi rasa keterhubungan, kepercayaan, dan "suara" yang ingin mereka dengar setiap hari.
Itulah mengapa semakin banyak organisasi berita besar di seluruh dunia yang mengubah diri mereka menjadi "super KOL" —ekosistem konten multi-platform di mana jurnalis menjadi presenter, pendongeng, pembuat konten, dan bahkan tokoh sentral dalam komunitas pembaca.
Ketika ruang redaksi tidak lagi bersaing semata-mata berdasarkan berita terkini.
Laporan Digital News 2025 dari Reuters Institute mengungkapkan bahwa tren konsumsi berita global berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Survei terhadap lebih dari 97.000 orang di 48 negara menemukan bahwa semakin banyak pembaca muda mengakses peristiwa terkini melalui TikTok, YouTube, podcast, dan kreator konten, alih-alih situs web berita tradisional.
Di AS, sekitar 37% orang di bawah usia 30 tahun mengatakan bahwa mereka secara teratur mendapatkan berita dari influencer media sosial atau "pembuat konten berita." Persentase ini cukup besar untuk membuat setiap organisasi berita mempertimbangkan kembali cara mereka beroperasi di internet.
Patut dicatat bahwa sebagian besar pembuat konten ini tidak memiliki ruang redaksi besar atau tim yang terdiri dari ratusan reporter. Yang mereka miliki adalah kemampuan untuk berbicara kepada audiens mereka dengan cara yang lebih intim, personal, dan "manusiawi" daripada siaran berita tradisional.
Pergeseran ini telah menjerumuskan jurnalisme ke dalam lanskap persaingan yang sama sekali baru. Selama beberapa dekade, keunggulan terbesar ruang redaksi adalah akses ke informasi dan kecepatan publikasi. Tetapi di era AI, kedua keunggulan tersebut terkikis dengan cepat.
AI dapat menulis lebih cepat daripada manusia. Media sosial menyebarkan informasi lebih cepat daripada situs web berita. Chatbot menjawab pertanyaan lebih cepat daripada mesin pencari tradisional. Oleh karena itu, yang tersisa bagi jurnalisme untuk bersaing adalah "hubungan" nya dengan para pembaca.
Washington Post dan Titik Balik TikTok
Salah satu contoh paling jelas dari tren ini adalah Washington Post. Bertahun-tahun yang lalu, surat kabar ini hampir tidak memiliki kehadiran di TikTok. Tetapi alih-alih hanya mentransfer gaya televisi tradisionalnya ke platform video pendek, Washington Post memilih untuk "memainkan peran" sebagai kreator konten sejati.
Tokoh sentral dalam strategi itu adalah Dave Jorgenson, yang dijuluki "pria TikTok" Washington Post oleh komunitas daring.
Video-videonya tidak mengikuti gaya berita serius yang lazim. Video-video tersebut bisa berupa sketsa komedi tentang politik Amerika, parodi sebuah pertemuan, atau serangkaian penjelasan berita menggunakan meme dan gaya penyuntingan ala Generasi Z.

Patut dicatat bahwa Washington Post menerima pengorbanan banyak norma lama untuk bertahan di platform baru. Mereka mengizinkan seorang jurnalis untuk tampil sebagai pembuat konten, berbicara tentang kehidupan sehari-hari, membangun komunitas pengikutnya sendiri, dan berinteraksi langsung dengan jutaan pengguna muda.
Menurut Nieman Journalism Lab, Washington Post bahkan mengizinkan Dave Jorgenson untuk membuat serangkaian konten untuk akun pribadinya, alih-alih menyimpan semuanya di akun resmi ruang redaksi.
Ini merupakan pergeseran besar dalam pola pikir ruang redaksi. Selama bertahun-tahun, jurnalisme tradisional berfokus pada menjaga citra merek ruang redaksi tetap menjadi pusat perhatian. Namun, model ekonomi kreator beroperasi berdasarkan logika bahwa audiens terhubung dengan orang terlebih dahulu, dan kemudian merek menjadi prioritas kedua.
Kesuksesan Washington Post di TikTok menunjukkan bahwa pembaca muda tidak berpaling dari berita; mereka hanya tidak lagi ingin menerimanya dengan cara lama.
New York Times tidak lagi menjual "artikel," tetapi "gaya hidup."
Jika Washington Post merupakan contoh model ruang redaksi yang berpusat pada media sosial, maka New York Times mewakili arah yang berfokus pada pembangunan ekosistem konten multi-platform.
Selama bertahun-tahun, New York Times diam-diam telah berkembang melampaui konsep "surat kabar." Mereka telah berinvestasi besar-besaran dalam podcast, audio, permainan, memasak, gaya hidup, olahraga, dan buletin email yang dipersonalisasi.

Podcast "The Daily" adalah salah satu produksi mereka yang paling sukses. Acara ini tidak hanya membacakan ulang berita; tetapi juga menceritakan kisah-kisah dengan gaya sinematik, lengkap dengan musik latar, tempo, dan emosi yang unik. Bagi banyak orang Amerika, suara "The Daily" telah menjadi bagian yang familiar dari rutinitas pagi mereka.
Pada saat yang sama, produk seperti Wordle dan NYT Cooking membantu New York Times mempertahankan pembaca bahkan ketika mereka tidak membaca berita. Pengguna membuka aplikasi untuk bermain game, mencari resep, atau mendengarkan podcast, dan tetap berada dalam ekosistem tersebut lebih lama.
Menurut laporan keuangan tahun 2025, New York Times telah melampaui 12 juta pelanggan digital. Yang menarik, pertumbuhan ini tidak lagi hanya bergantung pada "berita terkini" tetapi juga berasal dari kemampuannya untuk membuat pengguna terus kembali setiap hari karena berbagai alasan.
Saat ini, ruang redaksi tidak hanya bersaing dalam hal kualitas artikel mereka. Mereka bersaing untuk merebut waktu pembaca.
Era "jurnalis konten kreatif"
Pergeseran ini mengubah struktur jurnalisme itu sendiri. Banyak organisasi berita internasional sekarang gencar merekrut untuk posisi di bidang produksi video media sosial, hosting podcast, pengembangan pembaca, dan manajemen komunitas, alih-alih hanya berfokus pada penulis tradisional. Beberapa organisasi berita mengadakan siaran langsung reguler, membangun server Discord untuk pembaca setia, mengadakan acara offline, atau membuat grup keanggotaan berbayar yang mirip dengan model pelanggan yang digunakan oleh pembuat konten.

Garis antara "jurnalis" dan "pembuat konten jurnalistik" semakin kabur dengan cepat. Namun, tidak seperti influencer pada umumnya, keunggulan terbesar jurnalisme masih terletak pada kemampuannya untuk memverifikasi, menyelidiki, dan membangun kredibilitas jangka panjang. Itulah mengapa banyak ahli percaya bahwa masa depan jurnalisme bukanlah pilihan antara "jurnalistik" atau "pembuat konten," melainkan kombinasi keduanya.
AI dapat menghasilkan konten dengan kecepatan luar biasa, tetapi belum dapat sepenuhnya menggantikan kepercayaan yang diberikan publik kepada individu tertentu.
Di era di mana internet dibanjiri konten anonim, "wajah di balik informasi" telah menjadi aset paling berharga. Mungkin itulah yang menentukan apakah sebuah ruang berita akan lenyap di lautan konten yang tak berujung, atau menjadi "super KOL" yang mampu membuat audiens terus kembali setiap hari.
Sumber: https://congluan.vn/khi-moi-toa-soan-tro-thanh-sieu-kol-post349988.html







