BPO - Matahari terbenam di balik gedung-gedung tinggi, sinarnya yang lembut menyaring melalui jendela-jendela sebelum memudar di tengah hiruk pikuk jalanan. Aku berdiri diam di dekat jendela, mengamati awan gelap berkumpul, angin berdesir melalui pepohonan yang bergoyang di taman kecil di ujung jalan. Hujan musim panas akan segera tiba. Tetesan hujan pertama berjatuhan di atap seng, kemudian suara rintik lembut itu bergema di seluruh kota seperti melodi lama yang familiar. Dalam suara dan udara sejuk itu, aku merasa diriku hanyut kembali ke masa lalu – ke tempat bersama ayahku, aroma padi yang baru dipanen, halaman dengan dinding bata emas, dan musim hujan yang tidak hanya membasahi pakaianku tetapi juga meresap ke dalam ingatanku.
Dulu, halaman bata rumah kami sangat panas setiap musim panas. Batu bata merah di bawah kaki terasa terbakar, namun ayahku tetap bertahan, berjalan dengan langkah mantap, kaki telanjangnya membalik lapisan beras emas yang harum. Aku duduk di beranda, mengipasi diriku dengan topi jerami untuk menangkal panas yang menyengat, sesekali berlari keluar untuk menambahkan beras, bekerja tanpa henti di bawah terik matahari. Ayahku tersenyum, suaranya hangat: "Satu hari lagi dan akan selesai. Jangan khawatir jika besok hujan, anakku."
Ayah menyelesaikan pekerjaannya dan masuk ke dalam untuk beristirahat sejenak. Aku memandang butiran beras keemasan yang berkilauan di bawah sinar matahari, menghirup aroma lembut beras baru, dan merasa sangat nyaman. Kemudian tiba-tiba, langit menjadi gelap. Awan gelap muncul entah dari mana, menutupi halaman keemasan. Aku berteriak, "Akan hujan! Ayah!" Ayah, yang tadi tertidur, tiba-tiba melompat seperti pegas, meraih garpu kayu kesayangannya, dan bergegas keluar ke halaman. Aku mengikutinya, memegang sapu bambu, berlari dan khawatir akan datangnya hujan yang tiba-tiba.
Suara garpu, sapu, dan teriakan orang-orang yang memanen padi bergema di seluruh desa. Tangan bergerak cepat, kaki bergegas melintasi halaman, dan mata semua orang menatap langit dengan cemas. Untungnya, langit sepertinya mengasihani kami, memahami kesulitan para petani, dan baru mulai hujan setelah karung padi terakhir berhasil dibawa masuk ke rumah. Hujan turun tanpa henti di halaman bata. Ayahku dan aku berdiri di sana, pakaian kami basah kuyup oleh keringat, rambut kami kusut, bernapas terengah-engah, namun kami masih bisa menghela napas lega. Senyum itu seperti napas panjang yang dilepaskan setelah begitu banyak momen menegangkan…
Hujan berhenti, langit cerah, dan matahari kembali bersinar. Lalu, pelangi muncul. Ayahku mendongak ke langit, menunjuk ke arah cahaya yang cemerlang itu, suaranya rendah namun penuh keyakinan: "Lihat, setelah hujan, matahari bersinar lagi. Apa pun yang kau lakukan, selama kau berusaha, surga tidak akan mengecewakanmu." Dalam suasana damai itu, aku mendengarkan ayahku bercerita tentang butir-butir beras, tentang keringat yang meresap ke dalam tanah untuk menyediakan makanan lengkap di masa-masa kelangkaan...
“Kamu harus ingat, bertani tidak mengenal kemalasan. Kamu harus memanfaatkan setiap jam sinar matahari, setiap guyuran hujan. Setiap butir beras adalah hasil keringat dan penantian panjang petani, anakku.” Saat itu, aku hanya berpikir, “Ayah hanya mengulang hal-hal lama yang sama.” Aku tidak sepenuhnya memahami beratnya “keringat” yang ia bicarakan, kekhawatiran dan kecemasan yang terkandung dalam “penantian panjang” itu. Tetapi setelah meninggalkan pedesaan, tumbuh dewasa, dan menghadapi tantangan hidup, ajaran-ajaran itu menjadi mendalam dan sangat bermakna. Itu bukan hanya pelajaran tentang kerja keras, tetapi juga pelajaran tentang kehidupan itu sendiri: bahwa tidak ada prestasi yang datang dari keberuntungan, tetapi hanya dari tangan yang tanpa lelah mengolah, menanggung kesulitan, dan hati yang selalu sabar.
Ayahku sudah tua sekarang. Rambutnya yang dulu tebal dan hitam kini telah memutih. Halaman rumah tidak lagi menampung padi sebanyak dulu, karena sawah-sawah itu telah disewakan kepada orang lain. Tetapi setiap kali hujan deras, aku merasa seolah-olah melihat sosok ayahku yang rajin dan pekerja keras dari tahun-tahun yang lalu.
Pelajaran dari ayahku tidak disampaikan melalui kata-kata, tetapi melalui tindakannya, melalui tangannya yang kapalan, melalui punggungnya yang membungkuk selama bertahun-tahun. Kini, di kota yang ramai ini, aku sering memikirkannya, tentang halaman dengan sawah keemasan di bawah sinar matahari. Tempat itu bukan hanya menyimpan padi, sinar matahari, dan hujan, tetapi juga masa kecilku – sederhana, hangat, dan penuh kasih sayang. Dan lebih dari segalanya, seorang ayah yang pendiam dan penuh pengabdian, selalu menjadi tempat berlindung bagiku setiap kali badai kehidupan datang.
Halo, para pemirsa setia! Musim ke-4, bertema "Ayah," resmi diluncurkan pada 27 Desember 2024, melalui empat platform media dan infrastruktur digital Radio dan Televisi serta Surat Kabar Binh Phuoc (BPTV), yang berjanji untuk menyampaikan kepada publik nilai-nilai indah dan suci dari kasih sayang seorang ayah. |
Sumber: https://baobinhphuoc.com.vn/news/19/173793/khoang-san-thoc-vang-cua-cha






Komentar (0)