Pada kenyataannya, membaca buku cetak kini hanya populer di kalangan sebagian kecil anak muda, karena mayoritas cenderung mencari cara memperoleh informasi yang lebih cepat dan praktis seperti ebook, buku audio, atau video ringkasan. Bao Ngoc, seorang mahasiswa di Akademi Jurnalistik dan Komunikasi, berbagi: "Pertama, ada masalah uang yang dihabiskan untuk buku, sementara menggunakan ebook lebih ekonomis dan memungkinkan akses ke pilihan buku yang lebih luas."

Ledakan teknologi digital telah membuka banyak pilihan hiburan yang menarik. Di dunia yang serba cepat ini, di mana orang belajar, bekerja, dan bersantai, waktu untuk membaca tampaknya semakin berkurang. Terlebih lagi dalam beberapa tahun terakhir, tren baru telah muncul: mencari informasi melalui kecerdasan buatan (AI). Alih-alih membaca buku dari awal hingga akhir, kaum muda dapat menggunakan chatbot atau perangkat lunak AI untuk dengan cepat mencari poin-poin penting dan informasi inti. Hal ini diyakini berpotensi mengubah cara orang mendekati pengetahuan dan memengaruhi kemampuan berpikir kritis mereka.
Dosen Huynh Ho Dai Nghia dari Universitas Ekonomi dan Keuangan Kota Ho Chi Minh berbagi: "Pilihan ada di tangan setiap individu, tetapi jika kita terlalu bergantung pada AI, hal itu secara bertahap akan mengikis kemampuan kita untuk memilih. Penggunaan AI yang berlebihan setiap hari akan menjadi refleks tetap dan menghambat pemikiran proaktif serta keterampilan penelitian. Tantangan terbesar saat ini bukanlah kurangnya buku atau saluran akses, tetapi kurangnya hubungan jangka panjang antara pembaca dan buku."
Namun, ini bukan berarti upaya untuk menarik minat kaum muda terhadap buku cetak telah hilang. Hari Budaya Buku dan Membaca Vietnam (21 April) bukan hanya kesempatan untuk menghormati buku dan para penciptanya, tetapi juga pengingat bagi masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya membaca dalam kehidupan spiritual dan intelektual mereka. Dengan tujuan menyebarkan kebiasaan membaca dan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat, banyak kegiatan telah dan sedang diselenggarakan di seluruh negeri. Bersamaan dengan itu, acara "Pameran Buku Nha Nam: Menyambut Musim Panas 2025", dengan beragam pilihan buku, promosi menarik, dan ruang interaktif yang terbuka, telah menarik perhatian kaum muda. Lebih dari sekadar membeli buku, banyak kaum muda aktif berpartisipasi dalam diskusi, berbagi perspektif membaca pribadi mereka, dan terhubung dengan orang lain yang memiliki minat yang sama. Acara ini akan berlangsung dari tanggal 16-20 April 2025 di tiga kota besar: Hanoi, Da Nang, dan Ho Chi Minh City.
Menurut perwakilan dari Perusahaan Penerbitan Nha Nam, kebiasaan anak muda dalam memilih buku mungkin dipengaruhi oleh pemberitaan media di platform media sosial. Selain itu, sampul buku yang menarik dan judul yang mengesankan memainkan peran penting dalam menarik perhatian awal, menginspirasi, dan memotivasi anak muda untuk terlibat dengan buku.
Pada kenyataannya, kisah budaya membaca bukan hanya tanggung jawab penulis dan penerbit; budaya ini perlu dibangun mulai dari sekolah dan keluarga. Bapak Le Hoang, Wakil Presiden Asosiasi Penerbit Vietnam, berbagi: “Sekolah merupakan bagian yang sangat penting, tetapi saya juga ingin menekankan peran keluarga. Kita bertanggung jawab untuk membantu anak-anak, cucu, dan adik-adik kita untuk terlibat dengan buku dan mengembangkan kebiasaan membaca sejak usia 5 atau 6 tahun.” Pada saat yang sama, Bapak Hoang menyarankan agar sekolah memasukkan sesi membaca ke dalam kurikulum reguler di semua tingkatan. Hanya ketika generasi muda benar-benar mencintai dan memahami nilai inti buku, barulah mereka dapat berkembang secara komprehensif dalam hal intelektual, spiritual, dan karakter.
Sumber: https://baolaocai.vn/khoi-day-van-hoa-doc-o-gioi-tre-post400411.html






Komentar (0)