Dahulu, ketika internet dan ponsel pintar masih merupakan konsep yang asing, pemutaran film keliling yang diselenggarakan oleh departemen kebudayaan distrik atau pertunjukan oleh kelompok teater di pedesaan merupakan bentuk hiburan yang tak terlupakan bagi semua orang.
Aku masih ingat betul perasaan gembira yang membuat jantungku berdebar kencang setiap kali pengeras suara desa berbunyi: "Halo, halo! Hari ini, tim pemutaran film keliling distrik hadir untuk melayani masyarakat..." Pengeras suara itu seperti sinyal sakral bagiku, membangkitkan ketenangan alami pedesaan dan menyulut rasa urgensi yang tidak biasa dalam diriku. Aku buru-buru menyelesaikan pekerjaan rumah tanggaku, takut terlambat dan melewatkan kesempatan untuk menonton film-film yang memikat itu.
![]() |
| Foto layar bioskop selama periode subsidi. Foto arsip. |
Namun mungkin, di relung terdalam ingatan saya, gambaran terindah bukanlah adegan-adegan gemerlap di layar, melainkan pemandangan ayah saya. Saya tidak akan pernah melupakan tangannya yang kasar, dengan hati-hati mengambil koin dua sen dari saku jaketnya yang sudah pudar dan memberikannya kepada putranya. Bagi seorang anak seperti saya saat itu, dua sen bukan hanya tiket menuju dunia perfilman yang ajaib, tetapi juga sebuah kekayaan, bukti cinta dan perhatian yang telah ayah saya curahkan hanya untuk saya. Sambil memegang koin kecil dan halus itu di tangan saya, yang sudah basah oleh keringat karena gugup, saya berlari secepat kilat ke loket tiket di depan gudang Koperasi, meninggalkan segalanya untuk meraih mimpi saya.
Tepat pukul 7 malam, pemutaran film dimulai. Dalam kegelapan malam musim panas yang pekat, cahaya dari proyektor menembus ruangan, memproyeksikan film hitam-putih yang buram ke layar kanvas yang terbentang di hadapan saya. Saya lebih suka duduk dekat proyektor agar dapat mendengar dengan jelas bunyi "klik" teratur dari roda gigi dan rol, kadang-kadang diselingi dengan bunyi "desis" dari film yang tergores. Suara-suara mekanis sederhana ini, bagi saya, merupakan melodi yang memikat.
![]() |
| Para perwira dan kadet Sekolah Perwira Angkatan Udara menonton film di layar besar pada tahun 2020. |
Setelah film dokumenter pendek, film utamanya diputar. Judul-judul seperti "Every Kilometer"—film perang berwarna Soviet—atau "Until We Meet Again"—drama romantis hitam-putih dari sinema Vietnam—telah terpatri dalam pikiran saya, menjadi bagian dari diri saya. Saya tenggelam dalam pertempuran heroik dan kisah cinta yang menyentuh, melupakan berlalunya waktu di luar.
Kini, ledakan era 4.0 telah menyebabkan profesi pemutaran film tradisional secara bertahap kehilangan posisi dominannya. Zaman keemasan pemutaran film di luar ruangan di halaman koperasi telah memudar menjadi masa lalu. Bagi saya, keinginan untuk kembali ke zaman keemasan itu mungkin akan tetap menjadi mimpi panjang yang penuh penyesalan. Film hitam-putih yang buram, suara klik proyektor di malam musim panas, dan bahkan uang kertas dua sen yang berbau keringat ayah saya—semuanya kini hanya ada dalam kenangan era yang telah berlalu...
Sumber: https://www.qdnd.vn/van-hoa/doi-song/ky-uc-ve-mot-thoi-xem-phim-man-anh-rong-1039251









Komentar (0)