Pernikahan adalah tonggak penting dalam kehidupan seseorang, sehingga setiap pasangan menginginkan pernikahan mereka meriah dan penuh sukacita sebelum memasuki kehidupan berumah tangga. Selain upacara pernikahan tradisional, beberapa anak muda saat ini memilih upacara pernikahan Buddha yang sangat sakral yang disebut "Hang Thuan."
Upacara "Hang Thuan" mirip dengan pernikahan biasa, tetapi diadakan di sebuah kuil. Di sana, mempelai pria dan wanita secara resmi dinyatakan menikah oleh seorang biksu Buddha, yang melakukan upacara pemberkatan, mendoakan kebahagiaan pasangan tersebut, dan bertukar cincin pernikahan.
Menjelang kehidupan pernikahan, pasangan muda LTTT dan NVT, yang berasal dari provinsi Quang Tri dan tinggal di kelurahan Nghia Thanh (kota Gia Nghia), memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka untuk mengadakan upacara pernikahan di sebuah kuil. Pada hari pernikahan mereka, mempelai wanita dan pria, bersama keluarga dan teman-teman mereka, mengenakan pakaian adat, berjalan masuk dan berdiri berdampingan di tengah aula utama kuil.

Upacara pernikahan yang diadakan di kuil dilakukan sebagai doa untuk perdamaian dan memiliki berbagai nama seperti upacara doa pernikahan; upacara pernikahan; upacara pemberkatan pernikahan… Bagian utama dari upacara "Hang Thuan" adalah khotbah singkat oleh petugas upacara sebelum pertukaran cincin antara mempelai pria dan wanita, yang menasihati pasangan muda untuk hidup sesuai dengan Dharma dan prinsip-prinsip moral kehidupan…

Setelah itu, mempelai pria dan wanita mengucapkan lima sumpah, berjanji untuk menepatinya demi menjaga kehidupan keluarga yang damai dan bahagia. Setelah setiap sumpah, lonceng kuil berbunyi, seolah menjadi saksi atas janji-janji pasangan muda tersebut.
Pernikahan di kuil penuh dengan ritual tetapi sangat hangat dan ekonomis. Bapak NVT berkata: “Mengadakan upacara pernikahan di kuil adalah hal yang baik; itu membuat saya merasa lebih bertanggung jawab terhadap keluarga dan istri saya.” Ibu LTTT menambahkan: “Mengadakan pernikahan di kuil dan menerima berkah dari para biksu dan umat Buddha, saya merasa sangat bahagia. Saya berharap kehidupan pernikahan saya akan lengkap dan bahagia. Terutama, saya bersyukur mendengar ajaran yang bermakna tentang etika pernikahan dan pentingnya kesabaran, sehingga kami dapat hidup bersama seumur hidup.”

"Hằng Thuận" berarti bahwa suami dan istri selalu hidup dalam harmoni, kesepakatan, saling menghormati, memenuhi kewajiban mereka sebagai suami, istri, dan anak, selalu berusaha menuju jalan pengembangan diri, pencerahan, dan kebaikan. Terutama di hadapan Buddha dan Sangha, mempelai wanita dan pria akan merasakan pentingnya dan kesucian upacara pernikahan. Prinsip-prinsip ini akan menjadi landasan yang kokoh sebelum pasangan memulai kehidupan pernikahan mereka.
Sumber






Komentar (0)