Dari negara-negara anggota NATO, hanya AS, Inggris, dan Prancis yang memiliki senjata nuklir, tetapi Prancis belum mengintegrasikan persenjataan nuklirnya ke dalam persediaan bersama NATO.
Langkah Macron untuk mendekati anggota Uni Eropa dan NATO di Eropa terjadi di tengah prioritas pemerintahan Trump terhadap kebijakan luar negeri dan keamanan yang semakin mendekat ke Rusia. Trump bahkan ingin mengakhiri konflik di Ukraina meskipun ada kekhawatiran dan penentangan dari sekutu Eropa Washington. Macron menargetkan keresahan umum saat ini di antara anggota Uni Eropa dan NATO, karena AS di bawah Trump bukan lagi sekutu militer strategis yang dapat diandalkan seperti dulu. Inggris, setelah mengintegrasikan persenjataan nuklirnya ke dalam kemampuan pencegahan nuklir NATO, tidak dapat berbuat banyak lagi di Eropa.
Polandia menginginkan tentara berjumlah setengah juta orang dan akses ke senjata nuklir.
Undangan Macron adalah taktik politik baru yang bertujuan untuk mengangkat Prancis guna menggalang dukungan di Eropa, di tengah meningkatnya perpecahan dan perbedaan antara AS dan Eropa. Dampak praktis dari langkah ini terbatas karena kemampuan senjata nuklir Prancis saat ini tidak substansial dan tidak kompatibel dengan peralatan militer umum NATO. Payung nuklir Prancis belum cukup besar untuk melindungi semua sekutu dan mitra di seluruh benua, dan juga tidak cukup untuk mencegah Rusia. Undangan di sini jauh lebih dari sekadar jamuan makan!
Sumber: https://thanhnien.vn/loi-moi-cao-hon-mam-co-185250310214034559.htm






Komentar (0)