Surat kabar daring Thai Nguyen menerima sebuah artikel yang menyentuh hati dari Ibu Duong Thi Minh Loan, seorang pustakawan di Sekolah Menengah Duy Tan, Kelurahan Vung Tau, Kota Ho Chi Minh , sebelum liburan musim panas. Kami dengan senang hati membagikannya kepada para pembaca kami.
![]() |
| Guru Duong Thi Minh Loan dan murid-muridnya. |
Untuk diriku di musim panas dan diriku di musim panas itu,
Saat jangkrik mulai berkicau dan bunga-bunga pohon flamboyan berwarna merah menyala di luar jendela perpustakaan, saya tahu saya sedang menghitung mundur hari-hari terakhir sebelum menutup babak panjang dalam hidup saya. Musim panas ini, saya akan pensiun.
Banyak orang memandang profesi pustakawan hanya dengan melihat kemudahan, debu, atau aturan keheningan yang ketat. Tetapi diri saya di masa lalu tahu lebih baik: Ini adalah "pertempuran" yang sunyi. Sejujurnya, mengelola perpustakaan bukan hanya tentang menjaga lembaran kertas yang tak bernyawa, tetapi tentang menjaga cahaya pengetahuan. Ini adalah profesi yang bukan hanya tentang "debu dan keheningan."
Saya bersyukur atas tahun-tahun masa muda saya ketika saya dengan sabar menyortir setiap buku, menata ulang rak buku yang berantakan setelah seharian beraktivitas. Saya juga bersyukur atas saat-saat saya dengan tegas mengingatkan anak-anak muda untuk diam, karena saya tahu bahwa keheningan adalah satu-satunya lahan subur bagi pemikiran untuk berkembang. Saya tidak hanya menyimpan buku-buku itu; saya menjaga ritme pembelajaran tetap berjalan tanpa gangguan di tengah dunia yang penuh dengan suara-suara kacau dan laju tergesa-gesa di era digital.
Dulu, saya merasa patah semangat ketika melihat perpustakaan kosong, ketika orang-orang lebih memilih untuk melihat-lihat ponsel mereka daripada membalik halaman buku yang beraroma tinta. Tetapi kemudian saya menyadari bahwa meskipun hanya satu orang yang membaca, pekerjaan saya tetap memiliki nilai.
Saya bersyukur atas profesi ini, karena sebelum menjadi seorang akuntan, saya adalah seorang pembaca. Segala sesuatu yang saya miliki hari ini: pengalaman hidup, kesabaran, dan bahkan toleransi dalam jiwa saya, adalah berkat halaman-halaman buku yang telah membesarkan saya. Buku-buku telah mengajarkan saya bahwa: "Pengetahuan adalah satu-satunya kekuatan yang tidak tunduk pada inflasi." Di saat-saat tenang, saya merenungkan kata-kata itu, menyadari betapa kecilnya saya dan betapa banyak hal yang masih perlu saya pelajari.
Ketika gelombang teknologi tiba, jika saya berhenti, saya akan menjadi "peninggalan" tua di antara rak-rak buku yang berdebu. Untuk bertahan hidup, saya harus berjuang untuk belajar – mulai dari mengelola data di komputer hingga mengoperasikan perpustakaan digital. Saya belajar untuk tidak pamer, tetapi untuk membuktikan satu hal: tidak peduli bagaimana alat berubah, nilai inti dari pengetahuan tetap konstan. Jika pustakawan sendiri tidak berinovasi, bagaimana mereka dapat meyakinkan kaum muda untuk memasuki dunia buku?
Ada pengetahuan yang hanya dapat benar-benar diserap ketika Anda membalik halaman, mencium aroma kertas tua, dan mendengarkan ketenangan jiwa Anda. Jangan hanya membaca sekilas informasi; belajarlah untuk menggali inti pengetahuan.
Buku bukan hanya kertas dan tinta; buku adalah kehidupan orang lain, yang disaring agar kita dapat menjalani lebih dari satu kehidupan. Saya berharap, ketika saya pergi, rak-rak buku ini masih akan dipenuhi oleh tangan-tangan muda yang mengulurkan tangan dengan kerinduan dan penghargaan.
Harapan terbesar saya saat pensiun bukanlah waktu luang, tetapi agar generasi mendatang terus menghargai buku sebagaimana mereka menghargai kehidupan itu sendiri. Saya berharap buku-buku yang telah saya hargai selama beberapa dekade akan terus menemukan jiwa-jiwa yang sejiwa, sehingga nilai-nilai lama tidak akan pernah dilupakan.
Saya bersyukur atas profesi ini karena telah memberi saya kedamaian jiwa. Musim panas ini, saya akan meninggalkan perpustakaan, tetapi apa yang telah diajarkan buku-buku kepada saya akan tetap bersama saya selamanya. Saya pensiun dengan hati nurani yang bersih: saya telah dengan penuh pengabdian menjaga nyala api pengetahuan tetap menyala, dan pengetahuan telah membalas saya dengan pikiran yang tajam dan hati yang damai.
Saya sudah pensiun, tetapi kecintaan saya pada buku tidak. Saya berharap generasi muda tidak hanya sekadar membaca sekilas layar; mereka akan belajar membalik halaman dan menyelami kedalaman buku fisik. Di situlah Anda akan menemukan diri Anda dengan paling jelas.
Diriku di masa depan, berbanggalah! Kamu bukan hanya seorang pustakawan, kamu adalah "penanam benih" yang diam-diam. Ketika pintu perpustakaan tertutup di belakangmu pada hari terakhir bulan Juni, tersenyumlah. Karena kamu telah menyelesaikan misimu dengan cara yang paling adil dan membanggakan.
Vung Tau, Maret 2026
Sumber: https://baothainguyen.vn/thai-nguyen/202603/loi-tu-tinh-truc-mua-he-huu-tri-f7a24ec/











