Setiap kali aku menginjakkan kaki di jalan kecil yang berkelok-kelok itu, melewati perbukitan yang diselimuti nuansa ungu yang memesona, perasaan yang tak terlukiskan muncul di hatiku, seolah-olah aku baru saja menyentuh alam kenangan yang sunyi, yang tetap utuh di bawah debu waktu.
Warna ungu bunga sim bukan sekadar warna bunga liar, tetapi warna masa lalu, masa kanak-kanak yang riang, tanpa kekhawatiran atau beban. Melihat kelopak bunga sim yang lembut bergoyang tertiup angin, aku merasa seolah sedang melihat diriku sendiri tanpa alas kaki, hatiku sebersih embun pagi.

Bunga sim tidak secerah bunga phoenix, juga tidak semewah bunga liar lainnya. Ia sederhana dan pemalu, namun memiliki daya tarik yang aneh, seperti nada rendah yang lembut dalam melodi pedesaan, cukup untuk menggugah hati. Bahkan ketika bunga layu, kelopak sim tetap mempertahankan bentuknya yang halus, bergoyang lembut ke arah tanah seperti perpisahan yang lembut, tanpa mengganggu kedamaian alam yang melekat.
Aku ingat sore-sore musim panas itu ketika kami, anak-anak desa, berkumpul di bukit untuk memetik buah beri liar. Bukit itu seperti dunia tersendiri, dipenuhi warna ungu. Kami menyusuri semak-semak, mencari buah beri yang matang dan berair. Rasa manis, sedikit asam, dan rasa asam yang samar setelahnya membuat kami semua senang. Di samping semak beri tua, kami saling bercerita tanpa henti, berbagi mimpi sederhana yang hanya bisa dimiliki anak-anak.
Suatu sore, bermandikan sinar matahari keemasan, aku dan teman masa kecilku berjalan-jalan di perbukitan yang dipenuhi bunga myrtle. Angin sepoi-sepoi bertiup, bunga-bunga berguguran, dan hati kami terhanyut dalam momen tenang musim ini. Dia memberiku sekuntum bunga myrtle segar, sambil berkata lembut, "Konon katanya, menekan bunga myrtle ke dalam buku catatanmu dapat mengawetkan hal-hal terindah."
Aku tidak sepenuhnya mengerti arti kata-kata itu, tetapi aku melihat sesuatu yang begitu tulus dan sepenuh hati dalam tatapannya. Aku mengambil bunga itu dan menekannya ke buku catatan kecilku, tanpa sadar mengabadikan momen rapuh yang baru saja berlalu dalam hidupku.
Bertahun-tahun telah berlalu, dan teman itu kini hanya tinggal kenangan, tetapi setiap kali bunga sim mekar, hatiku dipenuhi dengan emosi sore itu di masa lalu, penuh dengan sinar matahari dan perasaan cinta pertama. Dulu aku percaya bahwa, seperti bunga sim yang beristirahat dengan tenang di halaman buku catatan, kenangan juga dapat beristirahat dengan tenang di hati, tak pernah pudar.
Ibuku berkata bahwa bunga sim melambangkan penantian dan kesetiaan. Dahulu kala, gadis-gadis desa sederhana dengan blus tradisional Vietnam mereka akan memetik bunga sim dan menempelkannya ke surat tulisan tangan, mengirimkan cinta mereka kepada orang-orang yang jauh. Beberapa kisah cinta dimulai di musim bunga sim, tumbuh dengan setiap kelopak, lalu perlahan memudar bersama angin, hanya menyisakan warna ungu yang penuh nostalgia di tengah langit kenangan yang luas.
Dulu aku juga seperti itu, menekan bunga sim ke buku catatanku, percaya bahwa hal-hal indah itu akan tetap hidup di jiwaku bahkan saat tahun-tahun berlalu. Saat itu, aku belum sepenuhnya memahami arti janji, penantian, atau kesetiaan. Aku hanya melihat bunga sim itu indah dengan cara yang lembut dan melankolis. Kemudian, seiring bertambahnya usia, aku juga belajar merasakan emosi, menghargai hal-hal rapuh di buku catatanku, seperti saat aku menekan kelopak ungu itu dulu.
Namun waktu tak menunggu siapa pun; orang terkasih di masa lalu telah tiada, hanya menyisakan bukit-bukit myrtle yang masih mekar, hamparan kenangan ungu tanpa nama. Kini, berdiri di tengah bukit-bukit myrtle yang harum, tiba-tiba aku menyadari bahwa waktu telah berlalu seperti embusan angin yang cepat. Saat masih kecil, aku mengira myrtle hanyalah bunga liar, tak ada yang istimewa. Namun dengan pengalaman yang cukup, aku mengerti bahwa justru kesederhanaan inilah yang membuat myrtle begitu abadi.
Mungkin, musim bunga sim juga merupakan musim nostalgia; waktu untuk bersantai dengan mimpi-mimpi lama, menatap tenang kelopak ungu yang melayang, dan membiarkan kenangan kembali mengalir. Tak peduli berapa banyak waktu yang menyapu segalanya, setiap kali aku melihat bunga sim mekar, hatiku terbangun, dipenuhi emosi tentang sore musim panas yang cerah, tentang masa kecil yang telah berlalu tetapi takkan pernah hilang.
Sumber: https://baogialai.com.vn/mien-tim-hoa-sim-post324831.html







Komentar (0)