Hue terlihat unik di mata seorang anak muda.
Ibu kota kuno Hue – sebuah negeri yang tampaknya sangat familiar dalam puisi dan sejarah – kini ditemukan kembali dengan cara yang sama sekali baru dalam buku "Ke Mana Kau Akan Pergi? - Ibu Kota Kuno Hue di Telapak Tanganmu".

Bukan halaman-halaman dokumenter yang kering atau esai puitis yang bertele-tele, "Ke Mana Kau Pergi? - Ibu Kota Kuno Hue di Telapak Tanganmu" mengajak pembaca dalam perjalanan yang sarat emosi melalui komik-komik yang hidup. Di sana, dari kisah-kisah kuno tentang era perintis para penguasa Nguyen hingga sekilas kehidupan kontemporer yang dipenuhi dengan "cita rasa Hue," semuanya diceritakan kembali dengan nada yang cerdas, mudah didekati, dan mudah diakses.
Dengan mahir memadukan pengetahuan sejarah dan budaya ke dalam setiap halaman buku komik yang memikat ini, dan dengan mudah memancing tawa dari para pembaca dengan penceritaan yang menawan dan jenaka, penulis membimbing pembaca menyusuri Sungai Perfume untuk mengungkap lapisan kenangan dan keindahan tersembunyi dari kota Hue yang unik dan tenang. Lebih dari sekadar buku komik biasa, "Ke Mana Kamu Akan Pergi? - Ibu Kota Kuno Hue di Telapak Tanganmu" adalah undangan untuk menjelajahi ibu kota kuno dengan cara yang mudah diakses dan penuh semangat, ditujukan kepada pembaca muda yang menyukai budaya, sejarah, dan perjalanan .
Kepulauan Spratly terasa familiar sekaligus mempesona melalui mata para prajurit yang ditempatkan di sana.
Sebagai seorang prajurit yang menghabiskan bertahun-tahun bertugas di Kepulauan Spratly, kisah-kisah penulis Nguyen Xuan Thuy dalam buku "Aku Menceritakan Kisah-Kisah Kepulauan Spratly" menawarkan banyak wawasan menarik dan menakjubkan tentang laut, ombak, tumbuhan, hewan, dan terutama kehidupan para prajurit dan warga sipil di kepulauan Spratly.

Dengan gaya deskriptifnya yang halus, penuh dengan pengamatan dan asosiasi yang menarik, kisah-kisah menawan tentang pohon-pohon tahan badai, lumba-lumba, ikan terbang... bersama dengan legenda-legenda yang mulia dan tragis, contoh-contoh kepahlawanan dan keberanian, dan bahkan kehilangan dan pengorbanan dalam upaya melindungi dan melestarikan kepulauan suci Tanah Air, semuanya diceritakan dengan lembut, membuat pembaca muda merasa bahwa "Truong Sa tidak jauh, dan hamparan luas Truong Sa kini hadir tepat di rak buku mereka."
"Langkah, Taiwan" - sebuah esai yang kaya akan emosi bagi mereka yang suka bepergian.
Bagi banyak anak muda, bepergian bukan hanya tentang meninggalkan tempat-tempat yang familiar, tetapi yang lebih penting, tentang memperluas wawasan dan bertemu dengan budaya yang familiar sekaligus baru. Taiwan, meskipun secara geografis tidak jauh atau asing dalam identitas Asia Timurnya, cukup berbeda dalam ritme kehidupan dan sejarahnya sehingga menjadikannya tempat yang ingin dikunjungi, dinikmati perlahan, dan diamati. Setelah belajar dan tinggal di Taiwan selama empat tahun, penulis Tran Minh Hop telah mendokumentasikan pengalaman dan refleksinya, menceritakannya dengan gaya yang tenang dan kaya emosi dalam "Walking, Taiwan."

Buku ini adalah perjalanan yang lembut namun mendalam, bagi mereka yang menyukai perjalanan, menyukai sastra, dan ingin memahami Taiwan secara intim, bukan melalui peta, tetapi melalui hari-hari yang mereka jalani, jalan yang mereka lalui. Perlahan-lahan mengumpulkan momen-momen kecil pemandangan, orang-orang, dan kata-kata, penulis telah menyusun gambaran Taiwan yang dilihat dari kehidupan sehari-hari, melalui setiap langkah dan setiap emosi yang sangat pribadi.
Pelajaran besar dalam "Perjalanan Melalui Pegunungan Berkabut"
Bukan buku catatan perjalanan, panduan studi di luar negeri, atau buku saran mencari beasiswa, "Traveling in the Land of Mist" adalah "memoar studi di luar negeri" - yang mencatat pengalaman dan pelajaran yang dipetik selama studi di luar negeri oleh penulisnya, Kim Anh.

Perjalanan itu mencakup kesulitan dalam proses pengajuan beasiswa, kebingungan awal saat memulai studi dan tinggal di negeri asing, upaya tanpa henti untuk beradaptasi dengan kehidupan baru dan sistem pendidikan baru, serta perasaan rindu kampung halaman, kerinduan akan keluarga, orang-orang terkasih, dan teman-teman.
Namun di samping itu, ada juga banyak sekali emosi indah. Ada kegembiraan luar biasa karena menerima beasiswa, kebahagiaan yang sangat besar karena mengetahui Anda meraih nilai yang sangat baik, dan kegembiraan berkelana dan menjelajahi negeri baru serta menjalin pertemanan internasional. Semua ini adalah hadiah yang berharga bagi seorang anak muda yang memulai perjalanan dan menjalani hidup sepenuhnya. Jika Anda seorang anak muda yang membutuhkan inspirasi untuk mewujudkan impian Anda belajar di luar negeri, maka "Traveling in the Land of Mist" adalah kisah yang Anda butuhkan. Jika Anda adalah keluarga dengan anak-anak, yang membutuhkan inspirasi untuk terus mengejar impian Anda yang belum selesai, maka ini jelas merupakan kisah yang harus Anda baca.
Perjalanan mencari ilmu dan pengalaman di negeri-negeri jauh telah memberikan banyak pelajaran berharga kepada penulis Kim Anh, tetapi pada saat yang sama, ia juga menyadari bahwa pengorbanan diam-diam setiap anggota keluarga di kampung halaman adalah pelajaran terbesar tentang berbagi.
Sumber: https://hanoimoi.vn/moi-cuon-sach-mot-tam-ve-len-duong-1210438.html







