
Mulai akhir April dalam kalender lunar, pasar-pasar dari daerah pedesaan hingga kota-kota di provinsi-provinsi tengah menjadi ramai dengan aktivitas untuk Festival Perahu Naga.
Nilai-nilai tradisional
Di Vietnam Tengah, Festival Perahu Naga bukan lagi sekadar hari untuk "membasmi serangga." Ini adalah kesempatan bagi setiap keluarga untuk terhubung kembali dengan kenangan, dengan makan bersama, dan dengan nilai-nilai kuliner tradisional yang telah dilestarikan dari generasi ke generasi.
Menurut kepercayaan rakyat, Festival Perahu Naga berlangsung pada hari ke-5 bulan ke-5 kalender lunar, yaitu masa transisi musim ketika hama berkembang biak, yang memengaruhi kesehatan manusia dan tanaman. Masyarakat Vietnam menyebut festival ini sebagai festival pemberantasan hama, yang terkait dengan peradaban pertanian padi dan praktik tradisional dalam berinteraksi dengan alam.
Pasar Festival Perahu Naga adalah pasar yang menjual berbagai hasil bumi musim panas. Sejak pagi hari, banyak pasar di Vietnam Tengah ramai dengan pembeli dan penjual. Berbeda dengan Tahun Baru Imlek, barang-barang yang dipilih bukanlah makanan mewah, melainkan sebagian besar hasil bumi musiman.
Bagi masyarakat Provinsi Quang Nam, kue beras yang dibungkus abu (bánh ú tro) adalah hidangan yang tak tergantikan. Kue ini berbentuk segitiga tegak; menurut teori Yin-Yang dan Lima Elemen, segitiga tersebut melambangkan Api Yang di luar, yang berinteraksi dengan Bumi Yin di dalam. Warna kue juga melambangkan warna bumi. Kembali ke bumi, namun Yin dan Yang berinteraksi untuk menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan. Itulah logika alam.
Di seluruh provinsi Quang Nam, masyarakat secara tradisional membuat kue ketan yang dibungkus daun pisang untuk Festival Perahu Naga. Daun pisang dipanen dari pegunungan dan diangkut ke dataran rendah. Ketan direndam secara menyeluruh dengan abu wijen yang telah disaring dengan hati-hati. Kue ketan harus dibungkus secara merata dan rapat, memastikan daun tidak pecah setelah direbus dan memiliki bentuk segitiga yang menarik. Ketan membutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk dimasak hingga matang dan menyatu dengan abu serta warna daun.
Orang-orang sering mengonsumsi kue ketan dengan molase atau gula karamel, menciptakan rasa yang menyegarkan di hari-hari musim panas yang terik. Selain itu, ada juga pangsit ketan, kue ketan, bubur millet, nasi ketan, dan buah-buahan awal musim seperti plum, leci, mangga, belimbing, dan nangka…
Banyak keluarga juga menawarkan bebek dan ayam rebus, arak beras, dan berbagai tanaman obat yang dipanen dari kebun mereka sebagai persembahan. Yang istimewa adalah setiap hidangan mengandung lapisan makna budaya. Orang-orang zaman dahulu percaya bahwa makan buah-buahan asam, arak beras, dan kue beras di pagi hari membantu membersihkan tubuh dan mencegah penyakit selama pergantian musim. Ini adalah pengetahuan rakyat yang terakumulasi selama beberapa generasi.
Pakar folklor Tran Ngoc Them berpendapat bahwa Festival Perahu Naga Vietnam (Tet Doan Ngo) merupakan bukti lokalisasi festival Timur, yang terkait erat dengan produksi pertanian dan kondisi iklim setempat. Masyarakat Vietnam telah mengubah festival ini menjadi kesempatan untuk mengenang leluhur, berdoa untuk panen yang baik, dan menjaga kesehatan masyarakat. Festival ini juga mencakup persembahan kepada leluhur dan kisah tradisi kuliner yang unik.

Pengetahuan masyarakat
Di Vietnam Tengah, mudah untuk melihat bahwa suasana Festival Perahu Naga selalu dikaitkan dengan reuni keluarga. Sejak pagi buta, para ibu dan nenek sibuk menyiapkan persembahan. Dupa, bunga, buah-buahan, kue beras, anggur beras ketan, dan bubur beras manis disusun dengan penuh hormat di atas altar. Setelah memanjatkan doa kepada leluhur, anggota keluarga berkumpul untuk menikmati hidangan tradisional. Mungkin hanya sedikit hari raya yang memiliki peran sepenting Festival Perahu Naga dalam hal makanan.
Menurut banyak peneliti budaya, setiap hidangan yang disajikan pada kesempatan ini merupakan puncak dari pengetahuan adat. Kue ketan (Bánh tro) menceritakan kisah penggunaan abu pohon hutan untuk menyiapkan makanan. Anggur beras ketan mencerminkan pengalaman fermentasi masyarakat pertanian. Buah-buahan musiman menunjukkan keselarasan dengan hukum alam. Penggunaan daun aromatik dan obat-obatan merupakan ciri khas pengobatan tradisional dalam kehidupan masyarakat.
Peneliti budaya Tran Ngoc Them pernah mengamati bahwa budaya kuliner Vietnam selalu terkait dengan semangat kebersamaan dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan alam. Hal ini jelas terlihat selama Festival Perahu Naga, di mana hidangan tidak hanya untuk dinikmati tetapi juga mengandung makna mencegah penyakit, berdoa untuk perdamaian, dan memperkuat ikatan keluarga.
Sementara itu, menurut studi budaya, festival tradisional merupakan wadah warisan budaya bangsa, dengan kuliner berfungsi sebagai "museum hidup" yang mencerminkan sejarah dan identitas komunitas.

Banyak pakar budaya percaya bahwa nilai terbesar Festival Perahu Naga terletak bukan pada ritualnya, tetapi pada pelestarian ingatan komunitas. Masakan tradisional, pasar pedesaan, dan cerita tentang leluhur adalah cara generasi demi generasi mewariskan identitas budaya.
Faktanya, Festival Perahu Naga di Vietnam Tengah juga mencerminkan filosofi hidup masyarakat pertanian: menghormati alam, bersyukur atas panen, dan menghargai reuni keluarga. Keranjang berisi kue ketan emas, rempah-rempah obat yang harum, buah plum, leci, dan mangga, botol anggur beras, dan karangan bunga yang dipersembahkan kepada leluhur menciptakan suasana unik dari "festival pertengahan tahun" ini.
Pada Festival Perahu Naga, sambil memegang seuntai kue ketan yang dibungkus daun pisang, Anda dapat mencium aroma harum ketan fermentasi yang tercium dari setiap lapisan daun...
Sumber: https://baodanang.vn/mui-huong-banh-trai-mung-nam-3340914.html







