Berbicara di ABC News pada tanggal 15 Desember, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Alejandro Mayorkas berusaha menenangkan kekhawatiran publik yang berkembang tentang kemunculan misterius pesawat tak berawak di wilayah timur laut negara itu belakangan ini.
Banyak akun media sosial baru-baru ini menyebarkan gambar drone "aneh" terutama di negara bagian New York dan New Jersey, dengan beberapa insiden tercatat di negara bagian Maryland dan Virginia.
AS memiliki lebih dari 1 juta drone terdaftar.
"Beberapa penampakan drone memang drone. Lainnya adalah pesawat berawak yang sering disalahartikan sebagai drone," ujar Mayorkas. "Namun, tidak diragukan lagi keberadaan drone. Saya ingin meyakinkan rakyat Amerika bahwa kami sedang menyelidiki kasus ini," tegas Mayorkas, seraya menegaskan bahwa ia akan segera memberi tahu publik jika mendeteksi adanya campur tangan asing atau aktivitas kriminal. Namun, ia mengatakan bahwa Departemen Keamanan Dalam Negeri belum mencatat adanya insiden mencurigakan.
Trump menyerukan penembakan jatuh UAV misterius di AS
Sementara menteri berusaha menenangkan opini publik, kepolisian Boston mengumumkan penangkapan dua tersangka pada malam sebelumnya (14 Desember) atas dugaan mengoperasikan pesawat tanpa awak (drone) secara berbahaya di dekat Bandara Internasional Logan. Tersangka ketiga melarikan diri dari tempat kejadian dan sedang dicari polisi.
Dalam suratnya kepada Mayorkas pada 15 Desember, Pemimpin Mayoritas Senat AS Chuck Schumer mendesak Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk segera menerapkan teknologi identifikasi drone di New York dan New Jersey guna mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh drone, lapor AFP. Ia juga mendesak pemerintahan Biden untuk bertindak cepat guna memastikan bahwa otoritas federal, negara bagian, dan lokal dapat bekerja sama dengan lebih mudah untuk mendeteksi drone. Rencana "tembak mati" juga harus diterapkan untuk merespons dengan cepat jika terjadi ancaman terhadap fasilitas penting atau tempat ramai.
Pada hari yang sama, Gubernur New York Kathy Hochul mengumumkan bahwa pihak berwenang telah sepakat untuk menerapkan sistem identifikasi drone modern di negara bagian tersebut. "Saya menghargai dukungannya, tetapi kami membutuhkan lebih banyak lagi. Kongres harus mengesahkan undang-undang yang memberi kami wewenang untuk menangani masalah drone secara langsung," tulis Hochul di X (sebelumnya nama Twitter).
Berbicara di CBS News pada 15 Desember, Bapak Mike Waltz, calon Penasihat Keamanan Nasional pemerintahan Washington yang akan datang, mengatakan bahwa apa yang terjadi mencerminkan masalah dalam melindungi wilayah udara AS. "Presiden terpilih Donald Trump menyebutkan pengerahan sistem pertahanan udara Iron Dome (buatan Israel) di AS," kata Bapak Waltz. Menurutnya, jika dioperasikan, Iron Dome perlu dilengkapi dengan kemampuan untuk menangani drone, bukan hanya terbatas pada penanganan rudal.
Bahkan anggota parlemen dari Partai Demokrat telah mendesak pemerintahan Biden untuk berbuat lebih banyak dalam mengatasi kekhawatiran publik. Anggota DPR Jim Himes dari Komite Intelijen DPR tidak setuju dengan tanggapan "kami tidak tahu" dari Badan Penerbangan Federal (FAA) tentang insiden pesawat nirawak, sementara Senator Amy Klobuchar dari Texas mendesak Gedung Putih untuk memberikan informasi guna menjelaskan "apa yang terjadi di sini."
[iklan_2]
Sumber: https://thanhnien.vn/my-tran-an-lo-ngai-ve-drone-185241216222431879.htm
Komentar (0)