Pemerintah Afrika Selatan baru saja membentuk panel ahli independen untuk meninjau rancangan kebijakan nasional tentang kecerdasan buatan menyusul skandal yang melibatkan dokumen yang berisi referensi fiktif.
Ini adalah salah satu kasus langka di mana dokumen regulasi AI dicurigai menggunakan konten yang dihasilkan AI yang tidak memiliki verifikasi.
Draf tersebut, yang dirilis pada bulan April untuk mendapatkan tanggapan publik, bertujuan untuk menjadikan Afrika Selatan sebagai pemimpin dalam inovasi AI di Afrika.
Namun, setelah News24 menemukan banyak kutipan dan referensi yang tidak ada, Departemen Komunikasi dan Teknologi Digital Afrika Selatan (DCDT) terpaksa menarik kembali seluruh dokumen tersebut.

Menteri DCDT Solly Malatsi mengakui bahwa telah terjadi “kelalaian besar” dalam proses penyusunan dokumen. Ia menyatakan bahwa audit internal sebelumnya tidak mendeteksi masalah tersebut, dan mengakui kurangnya transparansi dalam penggunaan AI untuk menyusun materi referensi.
Pemerintah Afrika Selatan kini berupaya menyelesaikan versi revisi tersebut pada November 2026 untuk persetujuan Kabinet, sebelum merilisnya untuk komentar publik pada Januari 2027. Panel peninjau baru, yang terdiri dari tujuh ahli, bertugas memeriksa semua dokumen dan menghapus atau mengganti sumber yang tidak akurat.
Jeanette Morwane, Direktur Inovasi Digital di DCDT, mengatakan proses revisi akan fokus pada memastikan transparansi dan kredibilitas akademis teks tersebut. “Panel ahli akan meninjau setiap bagian dari isi sebelum menyerahkannya kepada Pemerintah,” katanya.
Insiden tersebut juga menyebabkan tindakan disiplin internal. Dua pejabat yang terlibat diskors sementara menunggu penyelidikan. Direktur Jenderal DCDT Nonkqubela Jordan-Dyani menggambarkan insiden tersebut sebagai "sangat disayangkan" dan mengatakan bahwa penarikan rancangan tersebut diperlukan untuk memulihkan kredibilitas lembaga tersebut.
Skandal di Afrika Selatan mencerminkan tantangan yang semakin besar seiring dengan mulai digunakannya AI dalam pembuatan kebijakan publik. Alat-alat penghasil data dapat membantu agregasi data yang lebih cepat, tetapi juga berisiko menghasilkan informasi yang salah atau sumber fiktif jika tidak diverifikasi dengan benar oleh manusia.
Para pengamat percaya bahwa insiden ini berfungsi sebagai peringatan dini bagi banyak pemerintah yang mengejar strategi AI secara global. Seiring dengan semakin terlibatnya kecerdasan buatan dalam pemerintahan, tuntutan akan transparansi, verifikasi data, dan akuntabilitas kemungkinan akan menjadi sangat penting.
Menurut Reuters
Sumber: https://hanoimoi.vn/nam-phi-sua-chinh-sach-ai-sau-be-boi-nguon-gia-974314.html










Komentar (0)