![]() |
| Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam bertemu dengan 101 jurnalis berprestasi yang telah memenangkan Penghargaan Jurnalisme Nasional selama bertahun-tahun, dalam rangka peringatan 101 tahun Hari Jurnalisme Revolusioner Vietnam (21 Juni 1925 - 21 Juni 2026). (Foto: Dang Khoa) |
Profesi-profesi tertentu secara intrinsik terkait dengan transformasi bangsa. Jurnalisme adalah salah satunya. Menengok kembali perjalanan 101 tahun jurnalisme revolusioner Vietnam, yang tersisa bukanlah hanya tonggak sejarah dan karya-karya abadi, tetapi juga citra pers yang selalu berdiri di sisi bangsa selama momen-momen paling krusialnya. Dari tahun-tahun perjuangan kemerdekaan hingga pembangunan, perlindungan, dan pengembangan negara, jurnalisme tidak pernah terlepas.
Pada kenyataannya, peran jurnalisme revolusioner tidak pernah terbatas pada sekadar pencatatan. Sejak awal, jurnalisme telah mengemban misi "menegakkan keadilan dan memberantas kejahatan," melindungi kebenaran, mempromosikan nilai-nilai progresif, dan melawan hambatan terhadap pembangunan sosial. Dalam perjalanan ini, jurnalisme tidak hanya menjadi kekuatan di garis depan ideologis tetapi juga berkontribusi dalam membangun fondasi budaya bangsa. Artikel-artikel tentang sejarah, kisah-kisah tentang rakyat Vietnam, dan kolom-kolom yang melestarikan identitas budaya telah secara diam-diam memupuk cinta tanah air, kebanggaan nasional, dan rasa tanggung jawab sipil lintas generasi.
Mungkin itulah mengapa kekuatan jurnalisme tidak hanya terletak pada informasi. Sebuah artikel yang baik tidak hanya memberi tahu pembaca tentang suatu peristiwa; artikel itu juga dapat membuat mereka berpikir, berempati, dan bertindak. Terkadang, kisah tentang orang-orang biasa yang diam-diam berkontribusi pada masyarakat jauh lebih menyentuh daripada statistik atau laporan yang kering.
Selama periode reformasi, peran ini menjadi semakin menonjol. Pers tidak hanya mencerminkan perubahan di negara tersebut, tetapi juga menjadi bagian dari proses itu sendiri. Dari pengalaman nyata, banyak masalah ditemukan, direfleksikan, dan rekomendasi dibuat, yang berkontribusi untuk membuat kebijakan lebih dekat dengan rakyat dan lebih praktis. Dari perspektif ini, pers berfungsi sebagai jembatan dan saluran dialog antara Negara dan rakyat.
Secara khusus, pers telah berkontribusi dalam menumbuhkan kepercayaan dan aspirasi untuk pembangunan. Kisah-kisah tentang inovasi, tentang daerah-daerah yang bangkit dengan pesat, dan tentang kaum muda yang berani berpikir dan bertindak telah menciptakan energi positif dalam masyarakat.
Dalam konteks integrasi internasional yang semakin mendalam, pers juga mengemban misi khusus di bidang urusan luar negeri. Jika sebelumnya pers terutama berfungsi sebagai jembatan antara Partai, Negara, dan rakyat, kini pers juga bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan Vietnam dengan dunia . Melalui informasi yang objektif, beragam, dan bertanggung jawab, pers berkontribusi dalam menampilkan citra Vietnam yang damai, stabil, dinamis, dan penuh aspirasi kepada masyarakat internasional; pada saat yang sama, pers membantu masyarakat domestik untuk lebih memahami perubahan di dunia di tengah konteks yang bergejolak.
Di era digital, setiap karya jurnalistik urusan luar negeri bukan hanya produk informasi tetapi juga "duta lunak" bangsa. Kisah-kisah tentang prestasi pembangunan Vietnam, identitas budaya, masyarakat, atau kontribusi bertanggung jawab terhadap isu-isu regional dan global membantu memperdalam pemahaman, memperkuat kepercayaan, dan meningkatkan posisi negara di panggung internasional.
Seiring meningkatnya persaingan informasi dan citra nasional menjadi sumber daya yang semakin penting untuk pembangunan, jurnalis tidak hanya menjadi pendongeng tentang Vietnam tetapi juga berkontribusi dalam membangun reputasi, kepercayaan, dan daya tarik negara di mata masyarakat internasional.
Namun, dengan munculnya era digital, jurnalisme juga menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Belum pernah sebelumnya publik memiliki begitu banyak pilihan informasi seperti sekarang. Hanya dengan sebuah ponsel pintar, setiap orang dapat mengakses ribuan sumber berita yang berbeda dalam hitungan menit. Media sosial menciptakan ruang komunikasi yang luas tetapi juga membawa konsekuensi negatif seperti berita palsu, informasi yang salah, dan konten yang tidak terverifikasi.
Dalam konteks ini, jurnalisme arus utama perlu lebih menegaskan perannya. Di tengah lautan informasi, campuran kebenaran dan kebohongan, positif dan negatif, publik membutuhkan sumber yang terverifikasi dan bertanggung jawab yang memprioritaskan kepentingan sosial. Kecepatan adalah persyaratan jurnalisme modern, tetapi akurasi dan kejujuran tetap menjadi nilai inti yang tidak dapat dikompromikan.
Di tengah arus teknologi dan media digital yang kuat, misi tersebut tetap utuh, meskipun metode implementasinya menghadapi banyak tuntutan inovasi. Tantangan lain yang dihadapi organisasi berita adalah bagaimana mendekati generasi muda. Generasi Z bukan lagi audiens masa depan, tetapi audiens masa kini. Mereka tumbuh di lingkungan digital, terbiasa dengan konten yang ringkas, visual, dan selalu interaktif. Hal ini memaksa jurnalisme untuk berinovasi dalam bercerita, penyampaian, dan bahkan pemikiran pembuatan konten.
Namun inovasi bukan berarti mengejar tren. Lebih penting lagi, inovasi adalah menemukan cara untuk menceritakan kisah negara kita dalam bahasa yang dapat dipahami oleh kaum muda. Karena kenyataannya, kaum muda tidak berpaling dari sejarah atau peristiwa terkini. Mereka hanya membutuhkan pendekatan yang lebih mudah dipahami, otentik, dan beresonansi secara emosional.
Sebagian orang mengatakan bahwa ketika sejarah diceritakan melalui takdir individu, ketika kebijakan dan strategi dijelaskan oleh perubahan dalam kehidupan sehari-hari, dan ketika aspirasi untuk pembangunan nasional dihubungkan dengan impian pribadi setiap individu, maka jurnalisme akan menemukan jalan terpendek untuk menjangkau hati para pembaca muda.
Lebih dari seabad kemudian, teknologi jurnalistik telah berubah secara dramatis. Ruang redaksi konvergen, kecerdasan buatan, big data, dan platform multimedia mengubah wajah jurnalisme setiap hari. Namun, seberapa pun metode penyampaiannya berubah, nilai-nilai inti jurnalisme revolusioner tetap tidak berubah: kebenaran, tanggung jawab, dan semangat pelayanan.
Peringatan 101 tahun Hari Pers Revolusioner Vietnam merupakan kesempatan untuk mengenang perjalanan gemilang generasi jurnalis yang telah mengabdikan diri kepada negara. Pada saat yang sama, peringatan ini juga menjadi pengingat akan tanggung jawab pers di era baru.
Di tengah perubahan konstan dalam masyarakat, pers tetap perlu mempertahankan perannya sebagai penerang bagi nilai-nilai yang benar, baik, dan indah; berkontribusi dalam memperkuat iman, menyebarkan rasa tanggung jawab, dan menginspirasi aspirasi untuk pembangunan nasional. Karena, pada akhirnya, makna jurnalisme yang paling abadi tetaplah mendampingi bangsa, berdiri di sisi kebenaran, dan berkontribusi untuk menjadikan masyarakat lebih baik.
Sumber: https://baoquocte.vn/ngon-duoc-soi-duong-trong-thoi-dai-moi-406617.html









