Menggabungkan pengembangan pariwisata dengan upaya konservasi hutan.
Destinasi ekowisata di bawah naungan hutan lindung milik Bapak Truong Van Dung (50 tahun, tinggal di komune An Thanh 3, distrik Cu Lao Dung, provinsi Soc Trang) memberikan kesan mendalam pada wisatawan dengan keindahan alamnya yang masih alami dan pengalaman yang menyatu dengan alam. Jembatan monyet (xuyên) yang melintasi hutan memungkinkan pengunjung untuk berjalan di antara rimbunnya pepohonan bakau, di mana monyet berekor panjang secara alami datang menyambut tamu, menciptakan pemandangan yang langka dan semarak.

Pak Dung menangkap siput yang dibudidayakan di bawah kanopi hutan yang melindungi untuk diolah menjadi hidangan bagi para wisatawan.
FOTO: DUY TAN
Di sini, pengunjung juga dapat mengamati siput yang menempel rapat di batang pohon dan kepiting lumpur yang merayap di rawa-rawa. Selain itu, kawasan hutan ini merupakan rumah bagi burung bangau, kelelawar, burung hutan, dan bahkan koloni lebah alami, yang berkontribusi pada ekosistem yang kaya.
Sedikit orang yang tahu bahwa pemilik resor ekowisata ini, Bapak Truong Van Dung, sebelumnya mengikuti profesi keluarganya sebagai nelayan pesisir. Lambat laun, sumber daya alam menipis, dan penangkapan ikan tidak lagi memberikan penghasilan yang stabil. Setelah lebih dari 30 tahun di laut, ia memutuskan untuk pindah ke darat dan mencari penghidupan baru.

Para wisatawan menyusuri hutan melewati jembatan monyet untuk melihat monyet di kawasan ekowisata milik Bapak Dung.
FOTO: DUY TAN
Pada tahun 2014, setelah dikontrak oleh sektor pertanian provinsi Soc Trang untuk mengeksploitasi dan melestarikan 5 hektar hutan lindung, Bapak Dung mulai membudidayakan hewan air di bawah kanopi hutan. Dari situlah, gagasan untuk mengembangkan ekowisata dan wisata komunitas mulai terbentuk.
"Dipercayakan untuk mengelola hutan juga berarti dipercayakan dengan tanggung jawab. Saya memahami bahwa eksploitasi harus dikaitkan dengan perlindungan, sehingga hutan dan perikanan dapat berkembang bersama dalam jangka panjang," ujar Bapak Dung.

Jembatan-jembatan monyet melintasi hutan, memungkinkan pengunjung untuk berjalan di antara pepohonan yang rindang.
FOTO: DUY TAN
Untuk memaksimalkan nilai wisata hutan tersebut, Bapak Dung berinvestasi dalam layanan berbasis pengalaman seperti: berjalan di jembatan bambu untuk melihat monyet, meluncur di dataran lumpur, mendayung perahu melalui hutan bakau di sepanjang pantai, berpartisipasi dalam memanen hasil perairan di kolam, dan menjalin hubungan dengan destinasi wisata komunitas di wilayah tersebut untuk melayani kebutuhan rekreasi dan akomodasi wisatawan.
Selama musim puncak, destinasi wisata keluarga ini menyambut ribuan pengunjung setiap bulan, menghasilkan pendapatan yang signifikan baik dari layanan wisata maupun penjualan makanan laut lokal.

Sekelompok monyet berekor panjang secara alami berkumpul untuk menyambut para pengunjung.
FOTO: DUY TAN
Hutan-hutan secara bertahap meluas hingga ke laut.
Destinasi ekowisata milik Bapak Dung dengan cepat menarik pengunjung berkat keindahan alamnya yang masih alami dan pengalaman otentik di sungai Delta Mekong.

Para wisatawan menikmati wisata perahu.
FOTO: DUY TAN
Yang membedakan model Bapak Dung adalah keberlanjutannya. Semua kegiatan pertanian dan panen berpegang pada prinsip "harmoni dengan alam," menghindari kerusakan ekosistem, tidak menggunakan bahan kimia, dan tidak merusak hutan. Berkat pendekatan ini, area hutan yang dikelolanya tumbuh semakin lebat, secara bertahap meluas ke laut, berkontribusi mengurangi gelombang laut, mencegah intrusi air asin, dan secara efektif memerangi erosi.

Para wisatawan menerobos lumpur di dataran aluvial untuk merasakan sensasi meluncur di atas rakit bambu.
FOTO: DUY TAN
Selain memperoleh keuntungan dari jasa pariwisata, keluarga Bapak Dung juga mendapatkan penghasilan tetap dari hasil laut lokal seperti penjualan siput, kerang, kepiting, dan lain-lain. Total pendapatan mereka mencapai ratusan juta VND per tahun.
"Melestarikan hutan berarti melestarikan mata pencaharian jangka panjang masyarakat," tegas Bapak Dung. Melalui model yang secara harmonis menggabungkan konservasi dan eksploitasi untuk ekowisata, beliau telah menunjukkan bahwa hutan lindung bukan hanya perisai alami tetapi juga sumber daya berharga jika dikelola dengan baik.
Sumber: https://thanhnien.vn/ngu-dan-doi-doi-nholam-du-lich-sinh-thai-duoi-tan-rung-phong-ho-18525060110175813.htm








Komentar (0)