
Lukisan sulaman "Kuda-kuda Berlari Kencang Menuju Kesuksesan" dipajang di banyak rumah keluarga.
KUDA DALAM LEGENDA DAN SEJARAH
Dalam ingatan masyarakat Vietnam, citra kuda besi Saint Gióng tetap tertanam kuat. Legenda menceritakan bahwa seorang anak laki-laki dari desa Phù Đổng mengubah dirinya menjadi seorang prajurit perkasa, menunggangi kuda besi yang menyemburkan api untuk menyerbu para penyerbu An. Setelah mengalahkan para penyerbu asing, Gióng dan kudanya terbang ke surga, meninggalkan jejak kaki yang berubah menjadi kolam bundar di Sóc Sơn, rumpun bambu emas yang berkilauan dari kobaran api pertempuran, dan keyakinan abadi akan kekuatan bangsa. Kisah ini tetap hidup bukan hanya karena unsur mistisnya tetapi juga karena pesannya: Ketika bangsa membutuhkannya, akan ada orang-orang yang bangkit, teguh seperti benteng, untuk melindungi negara.
Dari sumber legendaris, derap kaki kuda memasuki halaman sejarah yang sebenarnya. Pada musim semi tahun 1789, pemberontak Tay Son melancarkan perjalanan kilat ke Thang Long, menempuh ratusan kilometer hanya dalam beberapa hari di tengah cuaca yang membekukan. Catatan sejarah bahwa "kuda-kuda berlari secepat angin" bukanlah sebuah pernyataan yang berlebihan, melainkan mencerminkan semangat gigih pasukan dengan ambisi besar untuk mengubah nasib bangsa. Pasukan utama menyeberangi Tam Diep - Bien Son, terbagi menjadi banyak kolom untuk menyerang benteng Ngoc Hoi dan Dong Da, mengejutkan pasukan Qing. Pada momen bersejarah itu, kuda-kuda perang Tay Son bukan hanya alat transportasi tetapi juga simbol kecepatan, semangat juang, dan kemauan yang tak tergoyahkan.
KUDA DALAM SENI DAN CERITA RAKYAT
Sebagai simbol yang kuat dalam sejarah dan cerita rakyat, kuda telah lama menjadi sumber inspirasi bagi puisi, musik , dan lukisan. Citra kuda hadir secara halus dan jelas dalam banyak karya sastra, mulai dari "Kuda Beban" karya Hoang Trung Thong, yang sarat dengan keringat pegunungan dan hutan, hingga "Kuda Merah" karya Che Lan Vien, yang mewujudkan kecemasan era revolusi. Setiap karya menggambarkan keindahan, vitalitas, dan makna simbolis dari hewan yang setia dan pemberani ini.
Dalam musik, suara derap kaki kuda bergema melalui melodi-melodi yang familiar, dari nada riang "Ly Ngua O" hingga kerinduan yang menyayat hati dalam "Ngua O Thuong Nho". Kuda juga muncul dalam permainan rakyat dan lagu anak-anak: "Chi chi chanh chanh… kuda mati dan membengkak…" atau lagu yang lembut: "Nhong nhong, kuda tua telah kembali, potong rumput Bodhi untuk dimakan kuda tua".
Lukisan dan sulaman yang menggambarkan kuda telah muncul dalam gaya rakyat dan modern, pada berbagai bahan seperti kertas, pernis, dan cat minyak. Lukisan-lukisan ini, dengan garis-garis yang kuat dan warna-warna yang cerah, membangkitkan kesan gerakan, kelincahan, dan kekuatan. Karya-karya seperti "Kesuksesan di Atas Kuda" dan "Kuda Berlari Kencang" sering dipajang di awal tahun, menyampaikan harapan akan keberuntungan, kesuksesan, dan kemakmuran.
Sementara lukisan kuda melambangkan aspirasi akan awal yang baru, kuda batu melambangkan perlindungan dan pelestarian perdamaian. Patung kuda batu di kuil dan pagoda seringkali memiliki postur yang kokoh, leher tegak, surai terukir rapi, dan mata terbuka lebar seolah-olah mengawasi langkah kaki orang yang lewat. Penampilan yang khidmat ini menciptakan rasa kesucian sekaligus keakraban, seperti seorang teman pendiam yang menjaga desa.

Kereta kuda sangat erat kaitannya dengan kehidupan dan budaya masyarakat Khmer di wilayah Bay Nui. Foto: THANH TIEN
KUDA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Dalam kehidupan masyarakat Vietnam Selatan, kuda dipandang sebagai hewan yang lembut, pekerja keras, dan tangguh. Sejak awal reklamasi lahan, gerobak yang ditarik kuda melintasi jalan tanah, membawa penumpang, barang, dan suasana ramai pasar Tet (Tahun Baru Imlek). Gemerincing lonceng, teriakan para pedagang, serta tawa dan obrolan menciptakan simfoni pedesaan, menandai datangnya hari baru. Saya masih ingat masa kecil saya duduk di belakang gerobak kuda Paman Tu Ho. Beliau berkata, "Kuda ini sudah tua tetapi sangat kuat, ia tahu jalan, ia berbelok ke pasar sendiri tanpa perlu didesak."
Saat ini, dengan penggantian bertahap oleh mekanisasi, kuda bukan lagi alat penghidupan utama. Namun, di beberapa jalan di Rach Gia, Long Xuyen, atau Tan Chau, Anda masih dapat menemukan kuda-kuda yang dengan santai menarik gerobak, membawa wisatawan untuk berwisata. Di tengah hiruk pikuk lalu lintas sepeda motor, kuda-kuda tersebut tetap mempertahankan sikapnya yang lembut dan anggun. Setiap kali seekor kuda lewat, anak-anak menatap dengan rasa ingin tahu, para pedagang tersenyum dan menyapanya, gemerincing lonceng bercampur dengan suara kota, menciptakan perasaan yang akrab sekaligus unik.
Saat menyaksikan ibuku membersihkan gambar sulaman "Kuda-Kuda yang Berlari Kencang Menuju Kesuksesan," kuda di latar belakang sutra itu tampak melanjutkan ritme barunya, menuju ke arah cahaya. Gambar ini mengingatkan kita bahwa setiap tahun baru membutuhkan langkah-langkah yang mantap, gigih, dan kemajuan yang berkelanjutan. Kuda tidak hanya melambangkan keberuntungan tetapi juga mewakili vitalitas yang kuat dan kekuatan yang abadi.
BAO TRAN
Sumber: https://baoangiang.com.vn/ngua-trong-van-hoa-viet-a476703.html







Komentar (0)