Mengubah lahan tandus menjadi ladang melon bernilai jutaan dolar.
Di tengah teriknya matahari di komune perbatasan Tam Quang, kebun melon milik Ibu Nguyen Thi Hue tetap subur dan berbuah lebat. Sedikit orang yang menyangka bahwa beberapa tahun yang lalu, area ini hanyalah ladang kosong yang ditumbuhi gulma setinggi kepala manusia. Ketika Ibu Nguyen Thi Hue mulai mengolah kembali lahan tersebut, lahan itu sudah tertutup vegetasi seperti hutan, sampai-sampai penduduk desa ragu apakah Ibu Hue dan suaminya mampu mengolahnya kembali.

Ibu Hue menjelaskan bahwa area ini awalnya milik orang tuanya. Karena usia lanjut dan kesehatan yang menurun, mereka membiarkan lahan tersebut terbengkalai selama bertahun-tahun. Setelah lebih dari satu dekade bepergian dan berdagang di berbagai provinsi dan kota, ia dan suaminya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka untuk bertani dan memilih lahan orang tuanya untuk "memulai usaha mereka."
"Melihat ladang-ladang yang terkubur di bawah bebatuan dan tanah, tertutup gulma, semua orang merasa putus asa. Tetapi saya dan suami berpikir, tanah tidak akan mengecewakan mereka yang tahu cara mengolahnya. Jika kita terus bekerja, suatu hari nanti kita akan menuai hasil yang manis," kenang Huệ.
Dengan lahan seluas hampir 3 hektar, ia telah mengubahnya menjadi pertanian mini yang khusus menanam semangka, melon, dan jagung manis. Untuk mencapai efisiensi tinggi di wilayah yang gersang ini, Ibu Hue dengan berani menerapkan teknologi pada produksi.
Dia memasang sistem irigasi tetes otomatis di seluruh kebun melonnya. Dia berbagi bahwa sistem ini secara signifikan menghemat air dibandingkan dengan metode pertanian tradisional, yang sangat penting untuk daerah dataran tinggi yang sering kekurangan air irigasi.

Meskipun hemat air, irigasi tetes membutuhkan waktu penyiraman yang lebih lama agar air dapat meresap lebih dalam. Jadwal penyiraman biasanya dimulai dari pukul 4 sore hingga 10 malam, dan berlanjut dari pukul 3 pagi hingga 9 pagi untuk memastikan tanaman selalu memiliki kelembapan yang cukup, terutama selama tahap pertumbuhan buah. Selain sistem irigasi, ia juga menggunakan mulsa plastik di seluruh area untuk mempertahankan kelembapan dan mencegah gulma.
Berkat perawatan yang teliti, kebun melonnya telah menghasilkan hasil yang mengesankan. Dalam kondisi cuaca yang menguntungkan, tanpa badai, setiap petak melon merah bergaris Amerika tanpa biji dapat menghasilkan hingga 2 ton. Tanaman melon cantaloupe-nya juga tumbuh subur, dengan beberapa buah yang berukuran sangat besar. Dia mengatakan bahwa panen melon tahun ini "melimpah dan menguntungkan" sejak awal musim, dengan harga berkisar antara 20.000 hingga 25.000 VND per kilogram.

Di kebunnya, terdapat melon dengan berat masing-masing 4-5 kg. Selain dipercaya oleh penduduk setempat, Ibu Hue juga menjalin hubungan dengan distributor untuk menjual secara grosir ke daerah dataran rendah. Dengan hasil panen 2 ton per sao (sekitar 1000 meter persegi) untuk varietas melon spesial ini, yang harganya cukup tinggi, hal ini memberikan efisiensi ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan menanam padi atau kacang tanah tradisional di lahan yang sama.
Bertani dengan pola pikir berorientasi pasar.
Alasan Ibu Hue memilih melon bergaris Amerika tanpa biji (biasanya disebut melon bergaris Amerika) dan melon honeydew alih-alih varietas melon biasa adalah karena selera pasar sedang berubah. Dia melakukan penelitian menyeluruh dan menemukan bahwa melon bergaris Amerika memiliki kualitas yang unggul: harum dari kulit hingga dagingnya, dengan rasa yang kaya dan manis.
Pengalaman bertahun-tahun dalam perdagangan sebelum sepenuhnya beralih ke pertanian memberi Ibu Hue wawasan yang tajam tentang pasar. Alih-alih mengkhawatirkan penjualan, ia secara proaktif menjalin hubungan dengan pedagang grosir di daerah lain.

Semua hasil panen terjual segera setelah dibuat; pada beberapa hari, dia bahkan menjual beberapa ratus kilogram melon melalui sistem pengiriman.
Tidak hanya memperkaya dirinya sendiri, tetapi Ibu Hue juga telah menjadi "pakar" pertanian di daerah setempat. Sebagai orang pertama yang memperkenalkan varietas melon bergaris ke wilayah ini pada tahun 2023, beliau selalu siap berbagi pengalamannya dengan para petani di sekitarnya.
Selama kegiatan jual beli barang, ia seringkali dengan tekun membimbing para petani mengenai teknik budidaya, pemantauan hama dan penyakit, serta metode pengelolaan air untuk tanaman. Ia memahami bahwa jika seluruh wilayah mengembangkan produk berkualitas tinggi, daya saing produk pertanian lokal akan meningkat secara signifikan.

Yang paling dikhawatirkan Ibu Hue saat ini bukanlah lagi kekeringan atau hama, melainkan mengamankan sebidang tanah yang stabil untuk investasi jangka panjang yang aman.
Sumber: https://baonghean.vn/nguoi-gieo-vi-ngot-บน-vung-dat-han-10340677.html











