Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Penjaga mimpi

1. Saat senja tiba, ruang perpustakaan tua itu menjadi magis dan penuh dengan puisi. Sinar matahari terakhir, seperti bilah cahaya yang lembut, menembus kaca jendela yang sedikit retak, membentuk garis-garis kuning keemasan yang menari-nari di lantai kayu. Itu bukan sekadar cahaya, tetapi penari yang berkilauan, menerangi setiap butiran debu kecil yang melayang di udara, mengubahnya menjadi kristal kenangan.

Báo Thanh HóaBáo Thanh Hóa20/01/2026

Penjaga mimpi

Ilustrasi: MINH CHI

Perpustakaan, yang dulunya dipenuhi gemerisik halaman buku, kini diselimuti keheningan yang berat, seperti orang tua yang tidur di atas tumpukan kenangan. Aroma kertas tua, kayu lapuk, dan waktu bercampur, menciptakan simfoni masa lalu.

Tung, dengan kemoceng di tangannya, berjalan perlahan dan lembut, seolah takut memecah keheningan. Pekerjaannya bukan sekadar membersihkan, tetapi sebuah ritual suci. Dengan setiap kemoceng, dia tidak hanya membersihkan buku-buku, tetapi juga memelihara "mimpi" yang tersembunyi di dalamnya.

Tung memiliki kemampuan khusus. Ia dapat melihat mimpi para pembacanya. Ini bukanlah pikiran abstrak, melainkan gumpalan asap halus, masing-masing dengan bentuk dan warna yang berbeda, yang muncul dari buku-buku usang. Di sini, pada buku teks penerbangan yang pudar, sebuah pesawat kertas kecil berputar-putar, seolah-olah akan lepas landas dari halaman. Di sisi lain, pada peta tua seorang penjelajah, asap cokelat berkilauan berkelap-kelip, dihiasi bintik-bintik merah kecil seperti tujuan yang belum tercapai... Semuanya hidup dan bercahaya. Dan Tung menghargai setiap "mimpi" tersebut.

Baginya, perpustakaan ini bukan sekadar koleksi buku, tetapi sebuah alam semesta aspirasi, di mana dia adalah penjaga gerbang, diam-diam melindungi dan menghargai setiap mimpi yang terlupakan.

  1. Suatu sore yang tenang, saat sinar matahari keperakan menembus jendela, Tung berjalan perlahan ke sudut perpustakaan yang paling jarang dikunjungi. Di sana, di atas buku teks astrofisika yang usang, ia melihat pemandangan yang menghantui. Itu adalah "mimpi" yang sama sekali berbeda. Bukan gumpalan asap berkilauan seperti pesawat terbang, atau tampilan yang semarak seperti bunga. Itu hanyalah gumpalan asap abu-abu layu, melengkung menyedihkan, seperti daun kering yang tertiup angin ke sudut.

Saat memandanginya, Tung tidak hanya melihat warna yang memudar, tetapi juga merasakan kesedihan yang mendalam, kekosongan yang menghantuinya hingga ke lubuk hatinya. Dia tahu "mimpi" ini milik wanita tua yang sering dilihatnya duduk diam di kursi rotan reyot ini.

Wanita tua itu berambut putih, disanggul rapi, tetapi matanya yang sayu menyimpan kesedihan yang tak terlukiskan. Ia sering duduk di sana untuk waktu yang lama, tubuh mungilnya tampak kecil di ruangan yang luas itu, menatap buku tanpa benar-benar membalik halamannya.

Hari sudah menjelang sore, dan cahaya di perpustakaan telah berubah menjadi kuning pucat, menyelimuti setiap rak buku tua. Detik jam pendulum di aula utama menjadi lebih jelas, menyatu dengan keheningan ruangan. Tung berjalan mendekat dan berdiri beberapa langkah dari kursi rotan wanita tua itu. Dia berpura-pura merapikan, dengan lembut mengetuk punggung buku dengan kemoceng, cukup untuk menarik perhatiannya.

Setelah ragu beberapa detik, Tung menarik napas dalam-dalam dan berbicara. Suaranya lembut dan hangat:

- Aku perhatikan Nenek sering duduk di sini. Buku ini pasti bagus sekali, ya?

Wanita tua itu mendongak, matanya, yang telah keruh oleh usia, sedikit berubah, seperti batu kecil yang dijatuhkan ke danau yang tenang. Kesedihan tetap ada, tetapi secercah cahaya telah muncul. Suaranya lembut, rendah, dan penuh nostalgia, seperti desahan waktu:

"Ini... mengingatkan saya pada suatu masa. Dulu, saya sama seperti Anda sekarang... penuh dengan mimpi," bisik wanita tua itu, tangannya yang kurus tergenggam. "Saya ingin menjadi seorang astronom, menyentuh bintang-bintang, mengungkap rahasia alam semesta."

Tung mendengarkan. Setiap kata yang diucapkannya bukan sekadar suara, tetapi seperti tetesan hujan yang jatuh di atas debu kenangan yang telah lama terlupakan. Matanya menatap ke kejauhan, seolah-olah melihat kembali langit malam berbintang dari bertahun-tahun yang lalu. Di mata Tung, "mimpi" abu-abu dalam buku teks astronominya tiba-tiba bergerak, bergetar.

"Tapi kemudian, hidup bukanlah buku yang hanya berisi halaman-halaman indah. Ayahku jatuh sakit, dan kekayaan keluarga menurun. Perjuangan untuk bertahan hidup menjauhkanku dari bintang-bintang, dari rumus-rumus yang kering namun memikat itu," suaranya tercekat, menahan air mata.

Tung merasakan sakit, penyesalan yang telah terkubur terlalu lama.

Ia perlahan menutup matanya, setetes air mata mengalir di pipinya yang keriput dan jatuh ke punggung buku. Pada saat itu, Tung melihat asap abu-abu dari "mimpinya" tiba-tiba menyusut, seperti luka yang berdarah. Setiap kata yang diucapkannya bukanlah sebuah cerita, melainkan pisau yang menusuk mimpinya sendiri, menyebabkannya memudar hingga hanya tersisa warna abu-abu tanpa harapan.

3. Tung memutuskan untuk menerapkan "terapi" khusus. Setiap hari, ia diam-diam memilih buku sains baru yang paling menarik dan meletakkannya tepat di tempat neneknya biasanya duduk. Tidak hanya itu, ia juga dengan hati-hati menyelipkan selembar kertas kecil berisi kutipan-kutipan inspiratif: "Sains bukan hanya logika, tetapi juga keindahan" atau "Pandanglah bintang-bintang, bukan kakimu"... Ia melakukan semua ini secara diam-diam, seperti seorang tukang kebun yang merawat benih yang sedang dorman, berharap suatu hari nanti benih itu akan tumbuh.

Hari demi hari, Tung mengamati dari jauh. Ia melihat wanita tua itu tersenyum sambil membaca catatan-catatan kecil, kerutan di sekitar matanya mulai menghilang. Ia mulai membolak-balik buku-buku baru, matanya berbinar-binar penuh kegembiraan seperti seseorang yang menemukan kembali gairahnya.

Yang paling mengejutkan, Tung memperhatikan bahwa "mimpi kelabu" neneknya mulai menunjukkan bintik-bintik cahaya kecil, seperti bintang-bintang kecil yang perlahan muncul di langit malam. Dia tahu "terapi" yang dijalaninya telah berhasil.

***

Jam pendulum di aula utama berdentang pukul empat. Dentingnya yang menggema memecah keheningan sore itu. Tung dengan hati-hati membersihkan debu di punggung buku-bukunya sebagai ritual ketika sebuah suara lembut memanggil:

- Tung...

Ia menoleh dan terkejut. Yang berdiri di hadapannya bukanlah wanita dengan mata melankolis seperti biasanya, melainkan seseorang yang sama sekali berbeda. Wajahnya hari ini tampak berseri-seri, seolah diterangi dari dalam. Kerutan di sudut matanya bukan lagi jejak kesedihan, melainkan pancaran senyum hangat.

Di tangannya, sebuah buku sains tua mengeluarkan asap berkilauan. Asap itu sangat jernih, berwarna seperti bintang dan galaksi. Asap itu berwarna-warni, berputar-putar dan melayang. Sebuah "mimpi" baru yang penuh harapan.

Wanita tua itu perlahan menyerahkan potongan-potongan kertas kecil berisi kutipan yang diam-diam ditinggalkan Tung. Suaranya bergetar karena emosi, tetapi matanya tetap teguh:

- Dia tahu itu cucunya. Dia tidak terkejut. Buku-buku ini, kutipan-kutipan ini... membangkitkan semangatnya. Buku-buku itu mengingatkannya bahwa mimpinya masih ada, hanya saja dia telah menguncinya terlalu rapat di dalam kotak waktu.

Tung terdiam. Air mata menggenang di matanya saat ia mendengarkan wanita itu melanjutkan:

- Hari ini, saya datang ke sini untuk memberi tahu Anda bahwa... saya telah mendaftar ulang ke universitas. Anda telah menanam benih harapan dalam diri saya. Terima kasih, "penjaga mimpi" saya.

Tung terkejut, tak bisa berkata-kata. Dia tidak pernah membayangkan bahwa tindakan kecil dan tenangnya dapat membawa perubahan yang begitu mendalam. Dia bukanlah seorang pesulap, tetapi hanya seseorang yang mendengarkan dan membimbing jiwa yang keras.

Tung menatap wanita tua itu dengan senyum berseri-seri di wajahnya, matanya berkaca-kaca. "Mimpinya" telah kembali. Bukan karena sihir, tetapi karena belas kasihan.

Di luar kusen jendela tua, sinar matahari terakhir memudar, memberi jalan bagi bulan sabit yang menyaring masuk ke dalam perpustakaan. Cahaya keperakan itu dengan lembut menyinari buku-buku, membuat "mimpi" yang terpendam berkilau seperti bintang di langit malam. Tung tahu bahwa setiap perbuatan baik, sekecil apa pun, dapat menyalakan bintang di hati seseorang. Dan kemudian, seluruh alam semesta akan bersinar terang.

Cerita pendek oleh Luong Dinh Khoa

Sumber: https://baothanhhoa.vn/nguoi-trong-giu-giac-mo-275697.htm


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Anak itu memberi makan domba.

Anak itu memberi makan domba.

gambar kehidupan sehari-hari, pertemuan

gambar kehidupan sehari-hari, pertemuan

Reuni kelas

Reuni kelas