![]() |
| Kebiasaan mengonsumsi makanan asin menyebabkan tekanan darah tinggi, yang pada gilirannya memberi tekanan pada ginjal, memaksa ginjal untuk bekerja lebih keras. (Sumber: Daily Mail) |
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), orang dewasa sebaiknya mengonsumsi kurang dari 5g garam per hari, setara dengan sekitar satu sendok teh. Namun, hasil Survei Nasional Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (STEPS) tahun 2021 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi garam masyarakat Vietnam masih tinggi, yaitu sekitar 8,1g/hari.
Meskipun angka ini telah menurun dari 9,4 g/hari pada tahun 2015, jumlah garam dalam diet harian masyarakat Vietnam masih jauh lebih tinggi daripada yang direkomendasikan. Selain itu, 8,7% penduduk secara teratur mengonsumsi makanan olahan dengan kandungan garam tinggi.
Garam tersembunyi dalam makanan kita sehari-hari.
Garam tidak hanya ditemukan dalam garam meja biasa, tetapi juga dalam banyak bumbu yang umum seperti kaldu bubuk, bumbu butiran, saus ikan, kecap, dan MSG. Dalam banyak hidangan keluarga Vietnam, kebiasaan memarinasi, merendam, dan membumbui makanan sebelum dimasak, menambahkan bumbu selama memasak, dan menggunakan saus celup saat makan masih sangat umum.
Mulai dari semangkuk saus ikan, piring berisi bumbu bubuk, dan pasta ikan fermentasi hingga kebiasaan mencelupkan buah ke dalam garam, jumlah garam yang dikonsumsi setiap hari seringkali jauh lebih tinggi daripada yang disadari konsumen. Menurut survei, sekitar 70% konsumsi garam harian berasal dari bumbu yang digunakan dalam persiapan makanan, memasak, dan saus celup.
Seiring dengan itu, tren penggunaan makanan ultra-olahan dan makanan kemasan semakin populer, terutama di kalangan anak muda dan kelompok yang sibuk. Produk-produk ini sering mengandung garam dalam jumlah tinggi untuk meningkatkan rasa dan memperpanjang masa simpan.
Menurut Kementerian Kesehatan , sekitar 20% garam dalam makanan kita berasal dari makanan olahan seperti sosis, makanan kaleng, camilan, mi instan, makanan beku, dan makanan cepat saji. Ini adalah sumber garam "tersembunyi" yang mudah terlewatkan, karena konsumen tidak membumbui makanan mereka secara langsung tetapi tetap menyerap sejumlah besar natrium.
Mengonsumsi makanan asin meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Menurut Ngo Thi Ha Phuong, seorang doktor dan pemegang gelar Master dari Institut Gizi Nasional, kelebihan natrium, komponen utama dalam garam, dapat meningkatkan permeabilitas dan tonus pembuluh darah, menyebabkan retensi air dalam sel, meningkatkan resistensi perifer, dan menyebabkan hipertensi.
Tekanan darah tinggi seringkali berkembang tanpa gejala, tetapi dapat menyebabkan banyak komplikasi berbahaya seperti kecelakaan serebrovaskular, stroke, dan serangan jantung. Selain memengaruhi sistem kardiovaskular, mengonsumsi terlalu banyak garam juga membebani ginjal, yang seiring waktu dapat mengganggu fungsi ginjal, meningkatkan risiko batu ginjal, dan menyebabkan osteoporosis.
Bagi anak-anak, mengembangkan kebiasaan mengonsumsi makanan asin sejak usia dini dapat menyebabkan ketergantungan rasa, dengan mudah membentuk pola makan "mulut asin" yang tidak sehat. Ketika kebiasaan ini berlanjut hingga dewasa, risiko terkena penyakit kronis tidak menular meningkat.
Dr. Truong Hong Son, Direktur Institut Kedokteran Terapan, menyatakan bahwa bukti ilmiah menunjukkan bahwa mengurangi asupan garam hingga kurang dari 5g per hari dapat menurunkan tekanan darah pada orang dewasa hingga 20%. Hal ini sangat signifikan mengingat lebih dari 25% penduduk Vietnam berusia 18-69 tahun menderita hipertensi.
Kurangi asupan garam melalui perubahan kecil.
Para ahli menyarankan agar konsumen membiasakan diri membaca label nutrisi sebelum membeli makanan. Hal ini dianggap kunci untuk mengontrol jumlah garam, gula, dan lemak jenuh dalam diet harian mereka.
Kemasan produk biasanya mencantumkan informasi tentang kandungan natrium atau garam. Konsumen sebaiknya memprioritaskan produk dengan kandungan garam rendah, membatasi makanan olahan dan makanan cepat saji, serta mengurangi penggunaan bumbu asin dalam masakan.
Dalam hidangan keluarga, mengurangi asupan garam dapat dimulai dengan perubahan sederhana seperti menggunakan lebih sedikit garam dalam bumbu, membatasi jumlah saus celup di meja makan, menghindari merendam makanan dalam saus ikan atau bumbu bubuk, dan mengurangi konsumsi acar sayuran, rebusan asin, dan makanan olahan.
Selain itu, masyarakat perlu meningkatkan asupan sayuran hijau, buah-buahan segar, dan makanan alami untuk membangun pola makan yang lebih sehat. Penyesuaian rasa harus dilakukan secara bertahap agar tubuh dapat beradaptasi, menghindari anggapan bahwa mengurangi garam berarti mengonsumsi makanan yang benar-benar hambar.
Mengurangi asupan garam bukan berarti menghilangkan rasa asin dari makanan, melainkan menggunakan garam secukupnya untuk melindungi kesehatan jangka panjang. Pada Hari Hipertensi Sedunia, 17 Mei, para ahli terus menyarankan masyarakat untuk mengikuti pesan "gunakan lebih sedikit garam, bumbui secukupnya, dan kurangi makanan asin" untuk mencegah hipertensi, melindungi kesehatan kardiovaskular, dan meningkatkan kualitas hidup.
Sumber: https://baoquocte.vn/nguoi-viet-ruoc-benh-tu-thoi-quen-an-man-395025.html












Komentar (0)