Tahun itu, keluargaku tidak banyak membicarakan Tet (Tahun Baru Imlek). Semuanya begitu normal sehingga tampak biasa saja. Ayah masih pulang larut malam dari kerja, bajunya masih berbau asap knalpot. Ibu masih sibuk di dapur, suara panci sup yang mendidih terdengar seperti biasa. Aku duduk di kamarku, memainkan lampu meja yang berkedip-kedip. Suasana keluarga mengalir perlahan dan stabil, seperti detak jam dinding tua. Baru ketika lampu di rumah tiba-tiba padam, dan kegelapan dengan cepat menyelimuti, aku menyadari suasana itu perlahan memudar.
Pemadaman listrik di akhir tahun bukanlah hal yang jarang terjadi, tetapi malam itu lebih gelap dari biasanya. Di luar, angin berhembus kencang menerpa pepohonan, berdesir di atap seng. Di dalam, semua suara menghilang. Ibuku meraba-raba mencari senter. Ayahku dengan cepat meletakkan tas kerjanya di sudut dan berbisik, "Apakah kamu baik-baik saja, Nak?" Aku menjawab, "Aku baik-baik saja," meskipun aku merasa sedikit gelisah. Keluargaku duduk mengelilingi meja kayu di tengah rumah, tempat yang biasanya hanya kami gunakan untuk makan malam singkat.
Sinar senter yang redup menerangi wajah orang tuaku. Rambut ayahku telah beruban lebih banyak dari yang kuduga. Ibuku telah kehilangan berat badan, dan bintik-bintik penuaan muncul di sekitar matanya. Biasanya aku mengabaikan hal-hal ini, atau sengaja mengabaikannya karena aku sibuk dengan dunia luar. Dalam kegelapan, tanpa telepon, tanpa televisi, tanpa gangguan apa pun, bayangan orang tuaku secara bertahap menjadi lebih jelas bagiku.
Ayah bercerita beberapa kisah dari tempat kerja. Ibu mendengarkan sambil tersenyum, perlahan mengipasi air mendidih di dalam panci agar mendingin. Aku tetap diam, menikmati kehangatan di sekitarku. Ada perasaan yang sangat lambat dan lembut, seolah waktu memanjang, memungkinkan keluargaku untuk bersama sedikit lebih lama.
Kemudian ibuku tiba-tiba teringat panci berisi ketan yang telah dimasaknya sejak siang, masih berada di atas kompor arang. Tanpa listrik, ia mengeluarkan ketan-ketan itu dan memotongnya untuk dimakan seluruh keluarga. Aroma ketan panas menyebar, begitu harum dan familiar sehingga menenangkan hatiku. Ayahku mengeluarkan beberapa mangkuk lagi dan menatanya rapi di atas meja, seolah-olah ini adalah hidangan yang sangat penting.
Kami terdiam cukup lama. Tak seorang pun terburu-buru. Tak seorang pun mengeluh lapar atau makanannya hambar. Ayah mengunyah perlahan, dan Ibu memberiku sepotong daging berlemak yang lebih besar dari biasanya. Tiba-tiba aku berpikir, kebahagiaan mungkin bukan tentang hari-hari dengan skenario yang sempurna, tetapi tentang momen-momen tak terduga seperti ini, ketika semuanya begitu sederhana sehingga tidak perlu direncanakan.
Setelah makan malam, Ayah menurunkan gitar tua yang tergantung di dinding. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya bermain. Senarnya agak kendur, suaranya tidak sesempurna dulu, tetapi dia masih memetik setiap akord dengan perlahan. Ibu duduk bersandar di dinding, matanya terpejam, bibirnya bergerak lembut mengikuti melodi yang familiar. Aku duduk di seberangnya, mendengarkan musik yang berpadu dengan angin di luar, dan perasaan bahagia serta damai yang aneh muncul di dalam diriku.
Tak seorang pun membicarakan masa depan. Tak seorang pun menyebutkan rencana Tahun Baru. Tak ada ucapan selamat yang terucap. Tetapi pada saat itu, saya mengerti bahwa yang menyatukan keluarga ini bukanlah janji-janji muluk, melainkan kehadiran tenang setiap orang, pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat.
Lampu menyala kembali menjelang tengah malam. Nyala mendadak itu membuat semuanya menjadi jelas. Ayah menggantung gitarnya di dinding. Ibu merapikan meja makan. Aku kembali ke kamarku. Semua orang kembali ke rutinitas mereka masing-masing. Tetapi sejak hari itu, aku mulai melihat keluargaku secara berbeda. Kebahagiaan bukan lagi konsep yang samar atau sesuatu yang harus dicapai. Kebahagiaan terletak pada momen-momen kecil sehari-hari: ketika Ayah mengajukan pertanyaan penuh perhatian tanpa membutuhkan jawaban; ketika Ibu memberiku potongan makanan terbaik tanpa banyak bicara; ketika seluruh keluarga duduk bersama dalam kegelapan tanpa merasa kesepian.
Akhir tahun seringkali mengingatkan kita pada rangkuman, penetapan tujuan, atau cita-cita untuk hal-hal besar. Tetapi bagi saya, kebahagiaan keluarga sangat sederhana; terkadang, yang dibutuhkan hanyalah pemadaman listrik, yang memungkinkan anggota keluarga untuk duduk bersama, saling memandang lebih lama, saling mendengarkan lebih banyak, dan menyadari bahwa mereka sudah cukup lama bersama.
Asli
Sumber: https://baodongnai.com.vn/van-hoa/chao-nhe-yeu-thuong/202512/nha-con-sang-den-1d53328/






Komentar (0)