
Ilustrasi: Tuan Anh
Kita sudah lama melupakan urusan keluarga.
Bertemu teman-teman di jalan pasar berujung menjadi kenalan.
Terkadang, beberapa tegukan alkohol bisa terasa seperti api.
Mengikuti teladan para leluhur, seseorang bersikap acuh tak acuh terhadap kekayaan dan ketenaran.
Hidup itu singkat, kematian bagaikan setitik debu.
Sayangku, jangan bersedih karena badai yang tak terduga.
Sehelai rumput akan selalu tetap menjadi sehelai rumput.
Tiba-tiba aku merasa seperti hembusan angin yang tak terbatas.
Sekarang rumah baru, oh wow, rumah baru sekali
Maukah kamu minum bersamaku malam ini?
Jangan merayakan, jangan merayakan!
Dan begitulah kami mengucapkan selamat tinggal pada masa tinggal sementara kami.
Sebuah rumah baru, ya, sebut saja rumah baru.
Karena sepanjang hidupku aku belum pernah mengalami pengalaman seperti itu.
Rumah baruku adalah kamu, dan alam tak terbatas.
Sahabat berambut putih di dunia puisi
Ombak masih menghantam pantai, membawa air kembali ke laut.
Laut di dalam hati kita menghempaskan surai kuda berbulu putih.
Aku ingin memandang bunga dan dedaunan untuk melupakan semuanya, tetapi kemudian tiba-tiba aku teringat.
Dalam kehidupan ini, perjuangan untuk mendapatkan makanan dan pakaian selalu mengelilingi kita.
Saat teman-teman datang untuk merayakan, bicarakan saja tentang kegembiraan itu.
Mari kita bersulang hingga ke dasar hati yang murni.
Mari kita minum hingga tetes terakhir sebagai ungkapan kepedulian tulus atas semua kesulitan yang telah dialami.
Sayangku, mari kita minum bersama teman-teman kita sampai malam ini dan seterusnya.
Sumber: https://thanhnien.vn/nha-moi-tho-cua-le-nhuoc-thuy-185260314183205198.htm






Komentar (0)