Di bulan terakhir tahun ini, cuaca menjadi dingin. Musim dingin membuat kehidupan kota sedikit lebih tenang dan jauh lebih damai.
Ilustrasi: DANG HONG QUAN
Angin dingin yang menerpa kota membuat semua orang ingin bangun beberapa detik lebih lambat, berjalan beberapa menit lebih lambat, dan menikmati kehangatan yang tersisa. Karena itu, jalanan menjadi kurang ramai.
1. Aku berdiri di balkon memandang ke bawah ke jalan, meregangkan badan di bawah sinar matahari pagi, dengan rakus menghirup udara sejuk pergantian musim, dan tiba-tiba dadaku terasa dipenuhi kenangan masa lalu.
Di hari-hari yang dingin itu, bahkan sebelum membuka mata, aku sudah mendengar ibuku memanggilku untuk bangun sekolah di pagi hari, suara hiruk pikuk memasak di dapur dari ayahku, atau suara nenekku mengolah tanah untuk menanam sayuran sebagai persiapan Tet (Tahun Baru Imlek). Melangkah keluar ke kebun untuk mendengar suara-suara kerja keras itu, aku akan melihat ayam-ayam berkokok dan memimpin anak-anaknya mencari makan di pagi hari. Ayam jantan, dengan bulu-bulunya yang berwarna ungu kemerahan, mengepakkan sayapnya dan berkokok keras, memecah keheningan yang tenang...
Sejenak, aku menarik tanganku, menenangkan diri, dan menatap jalanan yang ramai. Di pagi yang dingin di jantung kota, tiba-tiba aku merasakan secercah nostalgia, seolah mendengar suara ayam jantan berkokok dari masa lalu...
2. Itu adalah suara ayam di bangunan kecil di samping rumah. Tempat di mana nenekku, orang tuaku, dan saat-saat aku memeras otak mengerjakan tugas esai. Sebagian besar rumah di daerah pedesaan Vietnam Tengah memiliki kebun kecil, beberapa ayam, dan dua atau tiga anjing. Tahun-tahun sekolah dasarku berlalu dalam permadani warna-warni yang dipenuhi buku pelajaran dan kenangan keluarga.
Ada kalanya aku diam-diam mengintip solusi di bagian belakang buku teks matematika kelas 5 dan ketahuan serta dimarahi ayahku. Ada kalanya aku harus diam-diam memeluk patung ayam jantan di mejaku dan mengamatinya sepanjang malam sambil menulis esai karena soalnya adalah "deskripsikan seekor ayam jantan."
Ayam jantan itu dipelihara oleh ibuku sejak menetas dari telur. Siapa sangka ayam jantan yang selalu sombong dan angkuh itu akan dengan patuh berdiri diam di atas meja saat aku mendeskripsikannya? Ayam jantan itu, yang terpaksa begadang sepanjang malam dan melewatkan kokok paginya, diselamatkan ketika ibuku memukulku dengan keras.
Pada beberapa hari ketika hujan deras, ayam jantan akan membentangkan sayapnya lebar-lebar. Ia akan melindungi ayam betina dan anak-anak ayam yang baru menetas. Tubuhnya akan basah kuyup, jenggernya terkulai dan miring, tetapi posturnya akan tetap tegak, sayapnya masih terbentang.
Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat pada pria-pria seperti ayahku, seperti pamanku... Pria-pria yang bertahan menghadapi cuaca buruk, menggunakan tangan mereka yang kapalan untuk membangun tempat berlindung dari badai bagi keluarga mereka. Pria-pria yang selalu berkorban tanpa mengeluh...
3. Pada hari ayahku meninggal di laut, itu adalah pertama kalinya aku terbangun karena suara ayam jantan berkokok. Kokokan itu tak mampu membangunkanku dari mimpi buruk. Kokokan yang menyedihkan itu menandai awal hari baru, sebuah perpisahan.
Pada hari pemakaman, sesuai adat, paman saya membawa seekor ayam jantan. Ia berjalan mengelilingi kuburan beberapa kali, menggumamkan doa dengan lembut, lalu melepaskan ayam jantan itu ke gundukan tanah. Ia berkata bahwa itu akan menuntun roh ayah saya kembali ke rumah. Ayam jantan itu berkeliaran di sekitar kuburan beberapa langkah lagi, lalu berbaring di samping batu nisan yang baru didirikan.
Ia menatapku, tetapi tidak mengikutiku pulang. Pamanku berkata ia harus tetap di sini sampai hari makam itu dibuka. Aku menatapnya, lalu menatap gundukan tanah yang ditinggikan, hatiku terasa sakit karena kesedihan.
Dalam keheningan, aku mendengar suara ayam jantan lagi. Ayam jantan di samping tempatku berlatih menulis esai adalah ayam jantan yang sama di samping makam ayahku. Ia tak lagi bisa membentangkan sayapnya untuk melindungi anak-anak ayamnya dari hujan. Bola-bola bulu kecil yang lembut itu telah tumbuh menjadi ayam-ayam yang kokoh.
Mereka mewarisi kehidupan dari ayah mereka, sama berani dan bangganya. Mereka membentangkan sayap mereka yang kini lebar untuk melindungi adik-adik mereka dan induk ayam mereka.
Di luar, bahkan musim dingin terasa lebih hangat, membangkitkan kenangan akan masa lalu...
Sumber: https://tuoitre.vn/nhin-nhung-ngay-xua-cu-20241222095205653.htm







Komentar (0)