
Indonesia (kanan) finis di depan Irak di babak penyisihan grup Kejuaraan Futsal Asia 2026 - Foto: AFC
Hasil ini melanjutkan rentetan prestasi gemilang tim nasional Indonesia selama dua tahun terakhir: memenangkan Kejuaraan Asia Tenggara 2024 dan meraih medali emas di SEA Games ke-33 setelah menghancurkan Thailand 6-1. Apa yang telah membantu tim Indonesia mengalami transformasi spektakuler untuk menjadi "kekuatan" baru di kawasan ini?
Hindari upaya naturalisasi massal.
Sementara tim sepak bola 11 lawan 11 putra Indonesia masih bergulat dengan kebijakan kontroversialnya untuk menaturalisasi sejumlah besar pemain kelahiran Eropa, tim futsal negara ini telah memilih jalan yang berbeda dan lebih berkelanjutan: membangun kekuatan dari dalam.
Dominasi Indonesia saat ini di futsal bukanlah hasil dari pemberian paspor secara tergesa-gesa kepada "pemain asing." Sebaliknya, Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) telah gigih dengan pendekatan sistematis jangka panjang.
Kapten tim futsal Indonesia, Mochammad Iqbal Rahmatullah Iskandar, menegaskan bahwa kemenangan telak 6-1 atas Thailand di final SEA Games 33, atau kemenangan melawan Vietnam, bukanlah karena kelemahan lawan, melainkan bukti bahwa futsal Indonesia telah tumbuh lebih kuat dengan sendirinya.
Landasan perkembangan ini terletak pada kejuaraan nasional (Liga Futsal Profesional) yang semakin profesional dan sangat kompetitif. Lebih jauh lagi, alih-alih terburu-buru, Indonesia telah menerima kemunduran dan berkembang melalui serangkaian pertandingan persahabatan dengan negara-negara kuat futsal seperti Argentina, Jepang, Arab Saudi, dan Belanda.
Pengalaman internasional ini telah mengasah karakter para pemain domestik, membantu mereka mengatasi rasa gugup saat melangkah ke panggung besar benua, seperti yang saat ini terjadi di Kejuaraan Asia 2026.
Tanda dari wajah yang familiar, Hector Souto.
Sebuah tim dengan potensi besar tetapi kurang terorganisasi membutuhkan "arsitek" yang cakap, dan Indonesia telah menemukan sosok yang hilang itu dalam diri Hector Souto – wajah yang familiar bagi penggemar Vietnam. Ia sebelumnya melatih tim U20 Vietnam dan menjabat sebagai asisten pelatih selama kampanye Piala Dunia 2016 mereka. Oleh karena itu, Souto memiliki pemahaman yang mendalam tentang Asia Tenggara dan telah berpengalaman di futsal tingkat atas di panggung terbesar dunia .
Setelah mengambil alih "kursi panas" di Indonesia pada Agustus 2024, ahli strategi asal Spanyol ini mengidentifikasi masalah inti: pemain Indonesia memiliki teknik dan kreativitas individu yang sangat baik, tetapi mereka kurang disiplin taktis dan sering kehilangan kendali emosi pada momen-momen penting. Alih-alih menghilangkan senjata paling ampuh pemain Indonesia – kreativitas dan improvisasi – Pelatih Souto fokus pada penataannya.
"Pemain Indonesia memiliki kemampuan untuk menciptakan terobosan individu, tetapi potensi ini perlu dibuka sepenuhnya," ujarnya. Di bawah bimbingan pelatih kelahiran 1974 ini, futsal Indonesia telah bertransformasi menjadi tim yang tahu bagaimana bermain gigih, mengendalikan mentalitas, dan memberikan penyelesaian akhir yang klinis.
Kejuaraan Asia Tenggara dan medali emas SEA Games adalah "buah manis" dari kombinasi semangat juang para pemain Indonesia dan pemikiran taktis ilmiah Hector Souto. Kini, di Kejuaraan Futsal Asia, mereka membuktikan kepada seluruh benua bahwa kebangkitan mereka adalah hasil yang tak terhindarkan dari proses investasi yang matang, bukan keberuntungan. Indonesia yakin dapat mengalahkan tim futsal Vietnam di perempat final Kejuaraan Futsal Asia 2026 pada tanggal 3 Februari.
Sumber: https://tuoitre.vn/nho-dau-futsal-indonesia-vuon-len-20260202093331747.htm






Komentar (0)