Setelah bertahun-tahun berjuang di luar negeri, aku kembali ke rumah. Perlahan aku berjalan melewati gerbang dengan lengkungan bunga bougainvillea merah muda dan ungu, kakiku ragu-ragu saat menyentuh halaman bata yang ditutupi lumut. Perasaan kedekatan, keakraban, dan kasih sayang lama tiba-tiba kembali membanjiri diriku, memenuhi diriku dengan emosi yang tak terlukiskan.
Sejak orang tua kami meninggal dunia, saya dan saudara-saudara saya masing-masing mengejar karier sendiri, jarang memiliki kesempatan untuk berkumpul dan bersatu kembali. Tetapi rumah tua dengan halaman bata yang luas telah dilestarikan sebagai kenang-kenangan, dipercayakan kepada bibi dan paman saya untuk disimpan. Saya mengikuti sahabat saya ke Dataran Tinggi Tengah, bermandikan sinar matahari dan angin hutan yang luas, untuk mengejar hasrat saya dalam menanam dan mengolah kopi. Setiap kali saya merasa lelah karena tuntutan pekerjaan dan kehidupan, atau ketika saya merasa kehilangan dan hampa, saya kembali ke kampung halaman saya. Duduk di tangga, membiarkan kaki telanjang saya menyentuh batu bata yang dingin, mendengarkan angin berdesir melalui bunga terong yang gugur, kenangan kembali mengalir seperti film gerak lambat. Halaman bata tua itu telah menyaksikan aktivitas sehari-hari, suka duka, dan kesedihan keluarga kami yang tak terhitung jumlahnya. Di halaman inilah, saya mengambil langkah pertama saya yang ragu-ragu, dipenuhi dengan kebahagiaan dan sorak sorai kakek-nenek dan orang tua saya. Saya ingat pagi-pagi musim semi itu, setelah sebulan hujan gerimis yang lembap, sinar matahari keemasan menyaring melalui dedaunan hijau subur pohon pomelo di depan rumah. Udara terasa ringan, sejuk, dan harum dengan aroma bunga laurel. Kakekku membawa tempat tidur bambunya ke halaman, menyeduh secangkir teh yang harum, dan mengundang tetangga untuk bermain catur. Aku ingat sore-sore musim panas yang bermandikan sinar matahari itu, halaman bata yang bersinar dengan warna kuning padi dan jagung yang hangat dan melimpah, dan dipenuhi aroma manis jerami segar yang baru dipotong dari ladang. Nenekku duduk berayun di ayunan di dekat jendela, dengan hati-hati menyiapkan jerami padi lengket untuk kakekku membuat sapu, memandang padi yang berkilauan di halaman, senyumnya berseri-seri. Aku ingat malam-malam yang diterangi bulan, angin sejuk dari sungai di depan rumah, anak-anak tetangga berkumpul di halaman rumahku, bermain petak umpet dan permainan naga-ular. Terkadang, aku dan saudara-saudaraku akan menggelar tikar di halaman, berbaring telentang, dan menghitung bintang-bintang, memandang Bima Sakti. Saat malam semakin larut, udara menjadi semakin sunyi, begitu hening hingga terdengar suara bunga melati putih yang jatuh dari rantingnya dan menyentuh halaman yang lembap dan berembun. Aku ingat hari-hari hujan deras, ketika air dari kolam dan kanal meluap ke halaman. Kami dengan senang hati mandi hujan, menangkap ikan, dan mengapungkan perahu kertas di atas gelembung air. Aku ingat hari-hari di akhir Desember, dengan gerimis dan angin yang menusuk, seluruh keluarga berkumpul di halaman untuk membungkus kue ketan. Ada yang mencuci daun pisang, ada yang menyiapkan kacang, dan ada yang membelah bambu, menciptakan suasana meriah dan ramai menantikan Tết. Pada malam ketiga puluh Tết, sebuah tungku batu bata darurat didirikan di sudut halaman, dan kayu-kayu dinyalakan, memancarkan kehangatan. Kami menggelar tikar jerami di dekatnya, tetap terjaga mengawasi panci kue ketan sambil bermain kartu, menunggu tengah malam.
Dari rumah sederhana saya dengan halaman bata yang sudah saya kenal, saya meninggalkan pagar bambu desa dan menempuh perjalanan di sepanjang banyak jalan yang lebar dan terbuka. Tanah baru menyimpan begitu banyak hal menarik. Tetapi halaman bata tua itu akan selalu tetap menjadi bagian yang sangat melekat dalam ingatan saya, menarik saya kembali setelah kesibukan mencari nafkah.
Lam Hong
Sumber







Komentar (0)