Aku masih ingat betul perasaan pertama menjadi seorang ibu, dan sejak saat itu, semua prioritasku berubah. Aku menjadi lebih teliti, lebih sabar, dan lebih peka terhadap setiap gerak-gerik anakku. Setelah lama merawat anakku, aku kembali bekerja dan selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan lebih awal agar bisa pulang, hanya berharap mendengar dia berkata, "Mama, kita makan apa untuk makan malam ini?" Itu pertanyaan kecil, tetapi bagiku, itu adalah sumber kebahagiaan yang luar biasa.
Di hari-hari ketika saya pulang kerja larut malam, saya tetap mampir ke pasar di ujung jalan untuk memilih beberapa sayuran segar, udang, dan ikan untuk memasak hidangan keluarga yang lezat. Hanya dengan membayangkan seluruh keluarga berkumpul di meja makan, mendengarkan tawa riang anak-anak, semua kelelahan saya hilang. Dapur kecil saya kemudian berubah menjadi tempat yang penuh cinta – tempat di mana saya mencurahkan perhatian dan seluruh hati seorang ibu dan istri.
Saat masih muda, saya berpikir kebahagiaan haruslah sesuatu yang megah. Tetapi seiring bertambahnya usia, saya menyadari bahwa kebahagiaan sebenarnya sangat sederhana. Bisa berupa hidangan hangat di dapur kecil kami, suara lembut suami saya yang berkata, "Supnya enak sekali hari ini," kilauan di mata anak saya ketika saya memberinya sepotong daging lagi, atau saat seluruh keluarga duduk bersama dengan bahagia...
Dapurku tidak besar, dan perabotannya tidak mewah, tetapi tempat ini menjadi saksi begitu banyak cinta yang dipupuk setiap hari. Aku suka perasaan mencuci setiap ikat sayuran dengan tangan, membumbui, menyaksikan sup mendidih perlahan... Suara mendesis minyak di wajan, aroma bawang goreng yang sempurna, aku merasa hatiku tenang. Di tengah tekanan, tenggat waktu, dan rapat yang menegangkan, hanya mendengar suara nasi mendidih membuatku tahu bahwa aku telah kembali ke rumahku yang penuh kasih.
Sekarang setelah menjadi seorang ibu, saya lebih memahami kesulitan dan kebahagiaan sederhana yang pernah dialami ibu saya setiap hari. Setiap kali saya memasak, saya teringat sosok ibu saya yang membungkuk di atas kompor, tangannya yang kurus namun terampil, suaranya yang lembut menasihati: "Apa pun yang kamu masak, kamu harus mencurahkan hatimu ke dalamnya, Nak. Makanan lezat bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang cinta di dalamnya." Kata-kata itu tetap terngiang di benak saya hingga sekarang. Mungkin itulah mengapa setiap hidangan yang saya masak adalah cara untuk mengungkapkan cinta saya – bukan hanya untuk suami dan anak-anak saya, tetapi juga untuk diri saya sendiri.
Banyak orang bertanya kepada saya, "Anda sangat sibuk, mengapa Anda masih menikmati memasak?" dan saya hanya tersenyum. Karena bagi saya, memasak bukan hanya pekerjaan, tetapi juga cara untuk menunjukkan kasih sayang, untuk menjaga api kekeluargaan tetap menyala. Seiring anak-anak tumbuh besar, dan suami saya terkadang lelah karena pekerjaan, makanan rumahan tetap menjadi tempat di mana semua orang kembali, tempat untuk menghilangkan kekhawatiran, tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri, tanpa menyembunyikan senyum atau air mata kita.
Suatu ketika, putriku menulis di buku harian kecilnya: "Yang paling kusuka adalah aroma masakan Ibu, karena itu membuatku merasa aman." Aku membacanya dan air mata menggenang di mataku. Ternyata kebahagiaan tidaklah jauh; cukup ketika orang-orang yang kita cintai merasa damai di rumah ini.
Malam itu, dapur sunyi, hanya cahaya kuning yang berkelap-kelip di dinding. Aku menuangkan secangkir teh untuk diriku sendiri, diam-diam mendengarkan suara rumah dalam hembusan napas larut malam. Di luar, kehidupan masih sibuk, dengan begitu banyak hal yang belum selesai, tetapi pada saat ini, aku merasa benar-benar kaya. Kaya karena aku masih dicintai, diperhatikan, dan mampu memasak makanan hangat untuk orang-orang yang kusayangi. Kaya karena ibuku masih jauh di pedesaan, selalu mengingatkanku setiap kali dia menelepon: "Jaga kesehatanmu, jangan terlalu memforsir diri, dan ingatlah untuk makan tepat waktu."
Ternyata menjadi seorang ibu itu seperti ini: sibuk tetapi bahagia, kerja keras tetapi penuh cinta, saat di mana Anda menemukan kegembiraan dalam hal-hal yang tampaknya paling sederhana. Di tengah hiruk pikuk kehidupan, dapur kecil tetap menjadi perapian, tempat kebahagiaan dinyalakan dari sup, nasi, dan tawa yang menyebar ke seluruh rumah.
Karena, bagaimanapun juga, kebahagiaan seorang ibu terkadang hanyalah melihat keluarganya duduk bersama, makan, tertawa, dan mendengarkan bisikan lembut anaknya:
"Bu, masakan rumahan kita enak sekali."
Thanh Thao
Sumber: https://baodongnai.com.vn/van-hoa/dieu-gian-di/202510/noi-giu-lua-yeu-thuong-18b1abb/






Komentar (0)