Saat bulan Juni tiba, sejak subuh, sementara kabut masih menyelimuti kebun, di kamar kecilku, aku bisa mendengar teriakan bergema di seluruh desa saat semua orang bergegas ke ladang untuk memanen padi yang sudah matang dan berwarna keemasan. Kami anak-anak, yang sedang liburan musim panas, berjalan tanpa alas kaki di bawah terik matahari, celana kami digulung di atas lutut, berjalan tertatih-tatih bersama orang tua kami ke ladang. Orang dewasa sibuk berusaha menyelesaikan panen sebelum matahari mencapai puncaknya. Kami anak-anak akan berlari dari rumah ke ladang ketika kami ditugaskan untuk mengambil air dan makanan untuk orang dewasa. Punggung semua orang basah kuyup oleh keringat, yang mengalir di wajah mereka yang terbakar matahari. Saat matahari semakin tinggi dan panas semakin terik, semua orang saling memanggil untuk beristirahat di bawah pohon beringin di gundukan tinggi, berbagi semangkuk teh hijau dan beberapa kentang rebus. Tiba-tiba, angin sejuk dari selatan bertiup, menghilangkan semua kelelahan dan kekhawatiran.
Kesedihan bulan Juni
Saat bulan Juni tiba, sinar matahari keemasan menyinari sawah yang sedang matang seperti madu, dan angin selatan yang lembut membawa aroma manis, perlahan membangkitkan kenangan masa lalu. Aku teringat masa kecilku tinggal bersama orang tuaku di rumah kami yang beratap genteng, terdiri dari tiga kamar dan dua sayap, hatiku dipenuhi kerinduan seolah-olah aku dipanggil kembali ke kenangan damai masa mudaku di pedesaan.
Di bulan Juni, selama siang hari yang panjang dan tanpa tidur di musim panas itu, kami akan berkumpul untuk bermain lompat tali di bawah pohon sapodilla tua. Beberapa hari kami akan memanjat pohon ara di kebun Pak Cu. Setiap musim, cabang dan rantingnya dipenuhi dengan gugusan buah, aromanya memabukkan, membuat kami memanjat dan bertengger di dahan-dahannya, memetik buah kuning yang matang untuk menikmati rasa manisnya.
Juni adalah bulan di mana aku akan berdiri dengan penuh kerinduan di bawah deretan pohon palem, menunggu pelepah palem berguguran. Jika aku mengumpulkan banyak, aku akan membawanya pulang untuk ayahku agar dia bisa membuat kipas untuk semua orang. Terkadang, ketika aku hanya mengumpulkan satu pelepah, aku dan teman-temanku akan bermain permainan menarik pelepah palem.
Waktu perlahan kembali ke masa lalu, dan datangnya bulan Juni mengingatkan saya pada alam kenangan yang lembut, masa kecil yang penuh warna yang pernah hadir dalam hidup saya. Tanpa sadar saya tersenyum, karena hati saya masih dipenuhi dengan cinta.
Esai karya Uyen Chau
Sumber: https://baodongnai.com.vn/dong-nai-cuoi-tuan/202606/noi-niem-thang-sau-d3c100e/


Asosiasi Seruling Hmong

Rekan satu tim





