![]() |
Kim Seung-gyu menangis setelah Korea Selatan kalah dari Meksiko. |
Sepak bola bisa indah, tetapi juga bisa sangat kejam. Terutama bagi penjaga gawang, garis antara pahlawan dan penjahat terkadang hanya terletak pada satu momen saja.
Kim Seung-gyu sangat memahami perasaan itu setelah kekalahan Korea Selatan dari Meksiko di pertandingan kedua Grup A. Saat peluit akhir berbunyi, sang kiper menangis tersedu-sedu. Ini bukan sekadar air mata seorang pemain setelah kekalahan, tetapi reaksi seseorang yang tahu bahwa mereka baru saja mengalami salah satu malam tersulit dalam karier mereka.
Sepanjang sebagian besar pertandingan, Kim melakukan segalanya untuk menjaga Korea Selatan tetap dalam persaingan. Dia melakukan banyak penyelamatan luar biasa, mencegah Meksiko memperbesar selisih skor. Menjadi seorang penjaga gawang adalah pekerjaan yang familiar namun juga sepi: semakin baik Anda bermain, semakin mudah untuk menganggapnya remeh; satu kesalahan dan semuanya berubah.
Kesalahan fatal Kim menjadi titik balik. Bagi seorang penjaga gawang, tragedinya adalah penyelamatan-penyelamatan sebelumnya bisa dengan cepat dilupakan. Tetapi kesalahan, terutama dalam pertandingan besar, lebih mungkin menjadi bahan pembicaraan utama. Sepak bola tidak selalu adil bagi penjaga gawang.
![]() |
Kiper Korea Selatan itu sedang melewati masa sulit setelah melakukan kesalahan fatal di Piala Dunia . |
Kisah Kim menjadi lebih mengharukan karena keadaan di baliknya. Sebelum Piala Dunia, ia membuat keputusan sulit: melewatkan momen kelahiran putranya agar bisa berpartisipasi bersama tim nasional Korea Selatan di turnamen terbesar di planet ini. Itu adalah pilihan untuk memprioritaskan mengenakan seragam tim nasional daripada salah satu momen pribadi terpenting dalam hidupnya.
Keputusan itu memicu banyak perdebatan, terutama di Eropa. Di Belgia, Jeremy Doku mengatakan dia akan meninggalkan Piala Dunia sementara untuk hadir saat anaknya lahir. Tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar atau salah dalam situasi seperti ini. Di satu sisi ada keluarga, di sisi lain ada tanggung jawab nasional. Para pemain, di balik sorotan, juga membawa dilema yang sangat manusiawi.
Bagi Kim, ironisnya adalah hanya beberapa hari setelah memilih timnya, ia harus menghadapi sisi terkeras dari sepak bola. Ia mengorbankan momen berharga dalam hidupnya, berusaha menjaga Korea Selatan tetap dalam permainan, tetapi pada akhirnya tetap bisa dikenang karena satu kesalahan.
Itulah mengapa air mata Kim Seung-gyu membangkitkan begitu banyak emosi. Air mata itu bukan hanya tentang kekalahan, tetapi juga pengingat bahwa di balik setiap kesalahan di lapangan terdapat seseorang yang memikul beban yang jauh lebih besar daripada yang dilihat penonton.
Sumber: https://znews.vn/nuoc-mat-cua-thu-mon-han-quoc-post1661880.html






























































