Aku tumbuh di sebuah kota kecil di dataran tinggi, tempat musim kemarau datang terlambat, panasnya tidak menyengat tetapi lebih seperti angin sepoi-sepoi yang lembut dan menenangkan. Ada sebuah sudut di halaman sekolah menengahku yang selalu kulewati di setiap musim, tetapi hanya di musim panas jantungku berhenti berdetak. Pohon api di sana tidak sebesar pohon-pohon kuno di dataran rendah, tetapi ketika mekar, warnanya merah cerah, hidup, dan memikat. Gugusan bunganya seperti nyala api kecil yang membara di dahan-dahannya, meledak di langit biru yang jernih dan lembut.
Pohon flamboyan tidak sebanyak di Vietnam Tengah atau Utara, tidak membentuk barisan panjang seperti di Selatan, tetapi setiap kali bertemu dengannya, pohon ini membangkitkan banyak kenangan. Tampaknya pohon flamboyan memiliki jenis ingatan yang unik, bukan untuk mata, tetapi untuk hati. Pohon ini tidak perlu banyak untuk membangkitkan kenangan seperti itu; hanya satu ranting saja sudah cukup untuk membawa kembali seluruh langit masa kecil, membawa suara jangkrik, bel sekolah, dan perpisahan di hari-hari sekolah.
Dulu, aku biasa memetik kelopak bunga phoenix untuk ditempelkan ke buku catatanku, memetik kelopak-kelopak kecil itu dan menyusunnya menjadi bentuk kupu-kupu, lalu tersenyum tanpa tujuan di mejaku. Tidak ada yang mengajariku, dan tidak ada alasan; itu hanya kebiasaan polos yang masih kuingat setiap langkahnya. Kelopak-kelopak itu seolah menyimpan kenangan masa-masa naif dalam hidupku, di mana emosi pertama diam-diam bersemi di hatiku.
Pohon flamboyan adalah bunga yang diasosiasikan dengan perpisahan, tetapi juga dengan awal yang baru. Ketika pohon flamboyan mekar, tahun ajaran berakhir, musim panas tiba, dan masa kanak-kanak terbentang dengan hari-hari riang penuh petualangan. Ada musim panas ketika saya bersepeda mendaki bukit, baju saya basah kuyup oleh keringat, tetapi saya tidak pernah lupa untuk mendongak dan mengagumi cabang-cabang pohon flamboyan di sepanjang jalan. Bunga-bunga merah itu seperti mercusuar: "Musim panas telah tiba! Nikmatilah sebelum waktu berlalu!"
Semakin tua saya, semakin saya mengerti bahwa beberapa keindahan hanya terungkap ketika kita tahu kapan harus berhenti sejenak. Pohon api mekar sebentar, dan musim panas berlalu dengan cepat, seperti masa muda setiap orang – berapi-api, penuh gairah, tetapi mudah hilang jika kita tidak tahu bagaimana menjalani hidup sepenuhnya. Suatu kali, saat kembali ke sekolah lama saya, saya menatap pohon api dari masa kecil saya – batangnya lebih tipis, dedaunannya tidak lagi sehijau dulu, tetapi gugusan bunganya masih mekar dengan bangga. Saya berdiri diam di bawah pohon itu untuk waktu yang lama, mendengarkan jangkrik yang menyerukan datangnya musim panas, bergema di hati saya, bukan dari suatu tempat di alam, tetapi dari kenangan.
Segala sesuatu di sekitarku kini berbeda. Jalan pegunungan tak lagi sepi, kota kecil ini memiliki lebih banyak toko yang terang benderang, orang-orang datang dan pergi. Namun anehnya, pohon flamboyan masih tetap mampu membuat hati seseorang terasa sakit. Suatu kali, aku bertemu seorang siswi SMA yang berdiri di bawah pohon flamboyan di halaman sekolah, matanya berkaca-kaca, sambil memegang kamera. Dia berkata, "Aku ingin memotret musim panas terakhir ini." Tiba-tiba, aku merasa seolah-olah aku tercermin di matanya—tatapan kerinduan dan keinginan, seolah-olah semua hari-hari masa mudaku bersinar terang dengan setiap kelopak pohon flamboyan yang gugur.
Pohon flamboyan bukan hanya simbol kehidupan mahasiswa, tetapi juga saksi waktu. Pohon itu berdiri di sana, diam-diam mekar hanya sekali setahun, sebagai pengingat bahwa setiap musim memiliki keindahannya sendiri, hanya masalah apakah hati kita cukup tenang untuk menghargainya. Pohon flamboyan membawa filosofi yang lembut: bahwa keindahan tidak selalu harus mempesona sepanjang empat musim. Ada keindahan yang, begitu mekar, cukup untuk dikenang seumur hidup. Sama seperti kehidupan mahasiswa, seperti cinta pertama, seperti perpisahan yang tak terucapkan... semuanya terukir di kelopak merah bunganya.
Kini, setiap kali kembali, saya masih menyempatkan waktu sore untuk berjalan-jalan di bawah pohon flamboyan. Terkadang di halaman sekolah lama, terkadang di sepanjang jalan setapak kecil yang berkabut di pagi hari. Saya tidak mencoba menghidupkan kembali masa lalu, saya hanya berdiri di sana untuk waktu yang lama, merasakan bahwa waktu telah berlalu tetapi kenangan tetap ada. Pohon flamboyan masih mekar, seperti bisikan ke masa lalu: "Kita pernah memiliki hari-hari yang begitu indah."
Dan saat aku menatap kelopak bunga phoenix yang berkibar tertiup angin, aku dalam hati berterima kasih kepada tanah itu – bukan hanya untuk bukit-bukit pinus dan taman-taman mawarnya, tetapi juga karena telah melestarikan dalam diriku musim bunga phoenix – musim masa muda, perpisahan, permulaan dan akhir – dengan cara yang tenang namun mendalam.
Sumber: https://baolamdong.vn/van-hoa-nghe-thuat/202505/phuong-do-go-cua-thoi-gian-d090b76/






Komentar (0)